#WhatsOnMyMind Week 30

Standard

Hari ini gue coba menarik mundur, kira-kira apa sih yang ada di pikiran gue semingguan ini.

Current Issues

  • Chester, Oka, and Suicidal Behaviour
    Beberapa bulan lalu gue join sebuah group Komunitas Skizofrenia untuk bisa lebih memahami tentang masalah kejiwaan (no i’m not suffered one, i’m just curious :D). Nah sejak kejadian bunuh dirinya Chester Bennington dan Oka Mahendra, rupanya kecendrungan orang untuk bunuh diri semakin besar. Gue perhatiin juga seminggu ini ternyata yang post menunjukkan keinginan bunuh diri di group tersebut semakin banyak. Seharinya ada 1-2 orang yang ingin bilang mereka ingin mengakhir hidup mereka saja. Gue dan orang-orang lain di group itu cuma bisa memberikan komentar positif supaya mereka tak melakukan keinginannya itu.
    Tetapi ada satu hal yang gue pelajarin sekaligus sedih mengetahuinya. Bahwa kecendrungan untuk bunuh diri itu didasari dari Depresi. Dan depresi is a disease. Not necessarily karena mentalnya lemah atau kurang pengetahuan agama, tapi karena memang terkadang ada kalanya masalah physical di otak memegang peranan besar dalam orang bisa menjadi depresi. Pada beberapa orang yang menderita depresi, kadar serotonin di otak berkurang. Dan penggunaan obat antidepressant membantu menenangkan penderita depresi. Jadi gue sedih kalau ada yang bilang kalau si penderita depresi, skizo, dan pelaku bunuh diri adalah orang yang jauh dari Tuhan. Karena bukan itu masalahnya.
  • BPJS dan Rumah Sakit Swasta
    Sebulanan ini gue akrab bersentuhan dengan Rumah Sakit dan BPJS karena mama ada permasalahan dengan pencernaannya. Banyak sekali orang yang antipati ketika mendengar mama akan dirawat dan dioperasi oleh RS Pemerintah + menggunakan BPJS. Seolah-olah kalau RS Pemerintah dan BPJS tak lebih bagus daripada RS Swasta yang mahal. Karena balik lagi orang Indonesia lebih menghargai hal yang mahal bukan yang bagus. Nah kalau memang nggak bagus ga akan berani juga dioperasi di Pelni. Dan ternyata benar karena pelayanan RS dan dari segi profesionalisme, bagus. Dokter bedah yang melayani juga dr bedah no. 1 di Indonesia. Dan kalau dibandingkan dengan RS Swasta yang terkenal cari duit, gue jadi mikir kalau sebenarnya seluruh RS di Indonesia harus menerapkan sistem BPJS. Jadi semua orang cukup bayar BPJS setiap bulan, dan mau berobat di RS manapun gratis. Karena dengan BPJS, setiap RS nggak akan menahan-nahan pasien di RS supaya billing besar, atau menambah pemeriksaan yang tak perlu karena ada BPJS yang memantau. Pasien juga nggak perlu mikirin biaya rumah sakit. Karena dengan asuransi biasa, kita tetap takut kalau-kalau plafon asuransi nggak cukup. Beberapa hari ini gue juga mendengar beberapa pengakuan orang yang berobat di RS Swasta, dia dikenakan pemeriksaan oleh dokter yang tak perlu dan biaya yang tak masuk akal. Tapi balik lagi sedihnya, orang Indonesia masih menomorsatukan prinsip kalau mahal berarti lebih bagus. Padahal itu yang dijadikan dalil oleh beberapa RS Swasta untuk mengenakan billing yang lebih mahal.

My Life Update

  • Akhir minggu lalu akhirnya gue mendapatkan versi sample print dari The Lost Wonder yang gue cetak sendiri. Lalu menawarkan ke orang-orang untuk mereview versi pertamanya ini. Setelah disebar, rasanya seperti nunggu hasil sidang skripsi.
  • Minggu ini gue nonton Despicable Me 3 dan Dunkirk. Despicable Me 3 got 7 out of 10 from me. Dunkirk yang pretty amaze me, sesuai dengan review di Rotten Tomatoes dan IMDB, gue berasa film ini worth 8.5 out of 10 from me. Cara bercerita Nolan yang nggak menginformasikan alur cerita yang sebenarnya ditambah unsur drama yang intense membuat film ini amazing. Adegan Tom Hardy di akhir film is so memorable for me though. Ups.
  • Lagi melanjutkan nonton 13 Reasons Why, baru sampai episode 6 sih…nggak terlalu excited sebenarnya tapi penasaran dengan endingnya. Everyone said that I have to watch all of the episode first to get it why Hannah killed herself. Ok fine…
  • Hal paling nggak diduga minggu ini adalah…..*drum rolls*
    Gue membeli tiket konser Jay Chou Invicible Tour Pt. 2 di..SINGAPORE tanggal 6 Januari 2018 😀 Entah kenapa tapi ada yang menjual tiket di ViaGogo lebih murah dari harga jual resminya. Padahal biasanya tiket Jay itu memang cepat sold out dan kalau ada pun pasti dijual lebih mahal dibandingkan yang resmi. Apakah ini tanda-tanda turunnya pamor Jay? mungkin aja.

Recommendation of The Week

Randy Pandugo – Silver Rain https://open.spotify.com/embed/track/2GpG2QO2PqwY8tzR2ABrcO

Introducing Revo.ID

Standard

Blogpost ini menggantung di Draft udah hampir sebulan, nunggu announce ga jadi-jadi karena banyak mikir  hahah. Ya udah akhirnya dipost ajah 😀

18 Februari 2017

Gue harus jujur, gue adalah orang yang sering banget bosen. Termasuk bosen sama ide sendiri hahaha. Jadi dari sejak kuliah sampe sekarang, gue selalu pengen punya yang namanya website yang isinya informasi-informasi gitu. Dan udah beberapa kali juga berusaha untuk mewujudkan website-website itu, namun biasanya bertahan cuma beberapa bulan doang, paling lama 2 bulan. Biasanya masalahnya klasik, sebelum ide x berjalan lancar, otak gue udah mulai berpikir ide lainnya, akhirnya gue lebih excited dengan ide y, lalu ide x-nya perlahan-lahan menghilang dari muka bumi.

Sampai akhirnya di quarter ke-4 tahun lalu, gue kepikiran sebuah ide platform yang sepertinya bisa memfasilitasi semua ide-ide gue yang ada selama ini tanpa termakan mood bosan. Maka dari itu lahirlah Revo.

Mulai dari nama, kenapa Revo? Gue dari dulu sebenernya suka dengan nama Revo. Asal katanya dari Revolution. Kenapa Revolution, karena menurut gue di dunia media online, harus ada revolusi baik dari segi cara penyampaian dan juga dari isi konten-nya. Hampir semua portal berita memiliki berita yang sama, terkecuali Vice yang artikel nyeleneh tapi smart dan cukup investigatif.

Awalnya nama platform ini Reyvo (agak maksa sih haha), ini dikarenakan di perusahaan hosting gue, mereka tak bisa mendaftarkan domain dibawah 5 karakter. Sampe akhirnya saat menulis blog ini mencoba lagi di whois-nya Pandi dan ternyata ADA! Wah langsung dibeli TAPI…ada tapinya saudara-saudara. Untuk domain 4 huruf ternyata membutuhkan one time fee sebesar Rp. 2.500.000,-. Udah gila. Tapi akhirnya dibeli juga YEAYY walau boncos kantong 😥

It’s been an awesome developing experience, and now i introduced you to Revo (http://www.revo.id)

Gue menyebut Revo sebagai Creative Information Content Platform. Target marketnya adalah dewasa muda berusia 22-35 tahun. Jadi berbeda dengan portal berita yang biasa mengangkat current issue news, Revo inginnya bisa menjadi portal yang dikunjungi dalam keseharian para target market kita dimana semua info yang ada di Revo akan berguna untuk kehidupan sehari-harinya. Mulai dari content yang berhubungan dengan lifestyle (info restoran, film, travelling) sampai topik-topik yang hangat saat ini. Namun kalau biasanya portal-portal berita membagi artikel-artikel itu berdasarkan topik, Revo membagi konten seperti layaknya acara tv. Setiap kanal memiliki cara menyampaikan berbeda-beda walaupun mungkin sama-sama ngomongin makanan. Contohnya kanal Fleex dan Pop Soda. Keduanya ngomongin film, namun Fleex lebih ke kumpulan film pendek dengan tema yang sama, sedangkan Pop Soda lebih ke review film-film box office. Dengan dibagi seperti ini, harapannya para pengunjung bisa berlangganan dan langsung fokus pada kanal-kanal yang mereka suka.

Saat ini semua content gue yang membuat haha, jadi maklum kalau ada typo atau bahasa yang kurang dimengerti. Tetapi selama gue masih bisa nulis at least seminggu 1-2 artikel. Maka gue akan jalanin dulu seperti ini. Masih ada banyak ide-ide kanal lain yang mengantri, namun nggak semuanya bisa langsung diwujudkan. Apalagi begitu melahirkan sebuah kanal, ada tanggung jawab untuk mengelola kanal itu supaya nggak cuma one hit only.

25 Maret 2017

Nah setelah hampir 4 bulan berjalan, belakangan ini gue sibuk untuk merevamp halaman depan Revo.ID, jadi progress artikel mulai melambat. Tapi mulai sekarang akan naik lagi secara berkala. Proses menulis itu butuh waktu dan mood yang pas hahah..dan sustaining the mood is not easy either. In the next couple of weeks mungkin tampilan home Revo akan sedikit berubah jadi lebih menarik dan informative dibandingkan tampilan yang sekarang. Desktop version is done, tinggal merapikan mobilenya.

I think that’s all for the introduction. Now go to http://www.revo.id dan like facebooknya disini: http://www.facebook.com/revodotid 😀

 

 

5 Hal Yang Baru Gue Sadari Ketika Berumur 30

Standard

Dulu ketika gue masih berusia 18an, gue ngerasa umur 20an aja udah berasa tua. Lalu masuk dunia kerja, fast forward ga berasa udah 30!! Gue masih berasa hidup gue fine-fine aja jalanin tahun demi tahun dr umur 20, 22, 25, 28, sampe 30. Tapi di umur yang 30 ini, akhirnya gue sadar ada beberapa hal yang bikin gue bertanya-tanya saat gue masih di umur 20an.

1. Selera Musik

Dari dulu gue udah nyadar kalo orang yang udah masuk umur 30an itu sukanya dengerin lagu-lagu tua yang mungkin hits saat dia masih muda. Waktu itu gue mikir mungkin karena orang itu nggak bisa ngikutin perkembangan musik-musik terkini lagi. Nah setelah gue alamin sendiri, gue merasa ketika seseorang udah masuk usia 30an, dia akan mulai settle dengan dirinya sendiri. Bukannya nggak bisa dengerin lagu-lagu baru (gue masih suka dengerin lagu dr band-band kekinian), tapi gue akhirnya lebih suka dengerin lagu-lagu lama yang bikin gue nyaman, karena itu lebih sering gue denger.

2. Jasmani

Gue pernah denger ini, ketika masuk usia 30an, metabolisme tubuh berubah dan jadi mudah lelah. Nah ini bener, gue nggak tau yah apakah ada hubungannya dengan sakit maag yang gue alami. Tapi buat gue yang dulu bisa pulang kantor jam 7 malam, lalu lanjut gym dan ikut kelas sampe jam 9:30 malam, sekarang ini bawaannya jam 6 udah mo pulang kantor karena badan udah letih banget. Berasa perasan otak dari pagi sampe sore, really makes me tired. Tapi ini nggak boleh dibiarkan, kecuali kalo gue mau badan gue jadi melar dan buncit hahaha.

3. Baper

Ini masih ada hubungannya dengan settlement. Gue merasa tahun ini gue makin nggak baper. Hampir 0 rasanya tuh baper. Kalo nggak suka sama sesuatu hal, langsung bilang nggak suka tanpa terlalu peduli efeknya karena tahu itu demi kebaikan orang-orang. Padahal dulu kalo mau apa-apa selalu mikir berkali-kali. Makin realistis pastinya dan itu juga mungkin karena ketika masuk usia 30, lu udah cukup melihat dunia ini dan tahu apa yang terjadi kalo melakukan apa.

4. Orangtua

Makin berumur pastinya bikin lu makin dewasa dan seperti terjadi overpowered di rumah. Orangtua lu semakin tua dan semakin lemah, lu semakin dewasa dan semakin kuat. Lu nggak bisa cuma sekedar mikirin diri lu sendiri, ketika mereka sakit sedikit aja, sepertinya itu masalah besar lebih dari saat lu sakit. Dan lu mulai berpikir worst case scenario kalo misalnya mereka udah ga ada lagi di dunia ini. Sesuatu yang lu gak terlalu banyak pikirin saat lu di umur 20an.

5. Everyone is getting married

Entah mengapa tahun ini banyak sekali orang-orang di inner circle gue yang married. Hampir semua orang di inner circle gue married, padahal umurnya berbeda-beda dan dari komunitas yang beda-beda, but you guys plan to married in the same year!! Duhh… *oke ini yang terakhir curhat :D*.

 

Tentang Menjadi Keras Kepala

Standard

Gue kadang suka merasa kesal dengan diri gue sendiri, terutama kalo sudah berhubungan dengan masalah prinsip. Gue seorang yang keras kepala dan kalo sudah ada sesuatu yang nggak sesuai dengan prinsip gue. Hal itu bikin kepala panas, hati gondok, tapi si otak sepertinya kekeuh banget, dan gue ga bisa mengendalikan si otak kalo udah bertindak.

1. Tentang Uang dan Gereja

Saat gue SMP gue bergereja di sebuah gereja GBI yang letaknya di sekolah gue. Seperti biasa makin terlibat gue semakin diikutsertakan dalam organisasinya (ini sepertinya curse dari dulu, setiap kali join organisasi apapun selalu jadi pengurus). Nah menjadi masalah karena hampir setiap kali meeting atau khotbah, si gembala sidang selalu ngomongin masalah duit terutama perpuluhan dan persembahan. Dia malu katanya kalo kasih persembahan ke sinode persembahan gereja kita paling kecil. Meh..

2. Tentang Gereja dan Penginjilan

Masih sama di gereja itu, ada satu kejadian yang bikin gue fed up. Ya, pengurus lainnya ingin mengadakan bakti sosial membagikan nasi bungkus, abis selesai bagiin nasi bungkus kita beritakan injil tentang Yesus. Oke setelah meeting di minggu itu, gue ga pernah lagi datang ke gereja itu. Gue benci yang namanya penginjilan ke orang yang bukan beragama Kristen. Saya penganut pluralism, sorry.

3. Tentang Bullying

Sewaktu kelas 3 SMA, gue pernah keluar kelas ketika seisi kelas gue lagi ngerjain calon ketua OSIS. Udah nggak tau lagi bentuknya tuh anak-anak bego yang mau aja dikerjain demi menjadi ketua osis. Begitu mereka masuk, gue keluar dengan buku, nunggu di depan kelas sedangkan teman sekelas gue ngerjain tuh junior-junior. I hate bullying.

4. 2 Kali Berantem Sama Polisi

Oke gue pernah 2 kali berantem sama polisi di jalan ketika polisi itu, menuduh gue melakukan pelanggaran padahal nggak. Gue panas dan langsung berdebat panjang sama tuh polisi. Kalo dia meninggikan suara, gue tinggiin lagi suara gue. Sampai akhirnya dia give up. Gue dipersilahkan jalan.

Do i happy with all of that? Hm…kadang nggak sih, soalnya sumbu gue pendek, begitu ada yang ngomong hal yang ga gue suka, muka gue udah ga bisa dikontrol, jantung berdebar, pengen teriak. Ada kalanya gue pengen banget berdebat sama beberapa pengkhotbah di gereja kalo dia udah ngomongin masalah LGBT. Tapi gue masih sadar kalo itu di gereja, walau gue ga tau sampai kapan bisa bersabar. Ada kalanya gue suka terpancing sama orang-orang yang komentar di facebook, dulu malahan gue masih inget suka komentarin orang-orang yang komennya gue ga suka di kaskus, tapi abis itu gue degdegan sendiri nungguin jawabannya gimana.

Hufft…

Tentang Pilihan

Standard

Hari ini gue melihat sebuah video tentang anak kecil yang ngoceh di sebuah supermarket tentang pilihan. Di video itu dia bilang kalau kita selama ini ditipu sama perusahaan besar untuk beli apa yang mereka jual. “Why do all the girls have to buy princesses? Some girl like superheroes, some girl like princesses, some boy like superheroes, some boy like princesses”.

Perusahaan seperti Mattel yang memproduksi Barbie mem-brainwash otak para anak perempuan bahwa kecantikan harus seperti boneka mereka: Putih, cantik, langsing, tinggi. Marlboro selama puluhan tahun juga mem-brainwash para wanita dan pria dewasa bahwa pria yang macho adalah pria yang merokok seperti iklan Marlboro Country yang terkenal itu.

Tapi apakah perusahaan yang membentuk society norm, ataukah perusahaan itu hanya memanfaatkan norma social yang ada?

Society di belahan dunia manapun sepertinya sama saja. Sekumpulan mayoritas berkumpul dan merasa mereka punya kesamaan di suatu hal langsung mengeneralisasi semua hal. Misalnya ada 10 orang cowok sama-sama suka warna biru, maka mereka mengeneralisasi bahwa biru itu asosiasinya adalah warna cowok. Sedangkan pink adalah warna cewek, kalau ada cowok yang suka warna pink berarti cowok itu bukannya cowok, tapi “cewek”.

Sama dengan film action dan superheroes dengan kekerasan itu equals dengan cowok, tapi kan masalahnya yang suka film itu bukan cuma cowok, cewek juga ada banyak yang suka. Begitu juga sebaliknya, film menye2 gaya korea selalu diasosiasikan dengan film cewek, padahal banyak juga cowok yang suka, yeah cowok lembek kata orang-orang.

Warna dan genre film/music mungkin hal paling sederhana, yang mungkin hanya menimbulkan ejekan. Dan seperti kita tahu, ada banyak level diatasnya seperti pilihan berbusana (punk, crossdresser), tato/no tato, vegetarian/non vegetarian, tindik, sampai pekerjaan.

Buat gue personally, pilihan orang itu yah personal banget. Terserah orang mau milih untuk menjalankan hidupnya. Society always changing. Dulu sewaktu gue kecil masak-memasak itu urusannya cewek, cowok yang ke dapur itu nggak dianggap “cowok”. Lalu muncul koki-koki cowok yang macho, keren sekelas Jamie Oliver lalu semua cewek menggangap cowok yang memasak itu sexy dan nggak ada lagi diskriminasi atas gender dalam urusan memasak.

What society told you is not important. Just be yourself.

Mau ada cowok suka warna pink, mau dia tatoan sebadan-badan, mau ada cewek plontos, mau ada cewek suka main pistol, terserah. It’s your life. Jujur kadang juga ga sengaja gue suka  nyinyir, tapi gue selalu berusaha untuk bisa belajar menerima pilihan orang. You don’t have to bother what other say about you, because you’re the one who run your life, not them. Asal tetap punya hati dan empathy, then i think you’ll survive. Though maybe it’s not as easy as following the society.

image courtesy: https://www.ted.com/playlists/164/how_we_make_choices

Tentang Mengerti

Standard

Sudah lama banget kayanya nggak nulis. Seperti biasa keinginan sih ada, tapi waktunya yang gak ada haha. Kadang ada waktunya, otaknya lagi konslet sampe-sampe ga tau apa yang mau ditulis.

Ada satu topik yang pengen banget gue tulis. Tentang Mengerti. Lebih tepatnya mengerti  keadaan orang lain. Gue merasa ada 1 hal yang jarang sekali dibahas di keluarga, sekolah, agama, negara. Bahwa menjadi manusia, jika ingin bisa berdamai dengan segala sesuatu, itu perlu namanya pengertian. Mengerti akan keadaan orang lain, mengerti akan pemikiran orang lain, mengerti akan gaya hidup orang lain. Dan kadang ada banyak hal di dunia ini yang tak perlu menjadi masalah kalau satu sama lain bisa saling mengerti.

Percuma lah ngomongin masalah perdamaian dunia, ngomongin kasih, cinta damai tapi kalau kita sendiri tak pernah berusaha untuk bisa mengerti apa yang terjadi sama orang lain.

Banyak masalah di dunia ini awalnya timbul dari kita nggak mau mengerti keadaan orang lain, masalah komunis yang lagi hangat, masalah LGBT, masalah tetangga kamu yang hamdun alias hamil duluan, masalah teman kantor kamu yang tatoan dan tindikan padahal cowok, masalah teman kamu yang menikah beda agama, masalah kenalan kamu yang memakai hijab tapi tetap rokoknya juga kuat, dan masih banyak hal lain.

Menjadi orang yang mengerti keadaan orang lain memanglah tak mudah. Perlu kebesaran hati, empati, pengetahuan dan kasih.

Ketidaknyamanan pasti ada, tapi perlu diingat bahwa kita sendiri tak bisa jadi seorang yang egois. Orang lain juga berhak hidup sesuai dengan apa yang ingin dia jalanin. Tak perlu menyetujui dan mengikuti apa yang mereka lakukan, tapi setidaknya tak perlu juga membuat mereka tak nyaman.

Gue awalnya nggak nyaman kalau lagi naik angkot misalnya gue duduk di sebelah pengamen waria. Apakah ada rasa takut awalnya? Pasti ada, tapi selama dia nggak ganggu dan kita biasa aja sama mereka, maka gue rasa nggak ada yang perlu ditakutin. Kenapa takut? Takut dia godain gue? Siapa gue? GR amat akan diganggu sama mereka. Lalu gue mikir lagi, mereka cari uang juga gak mudah, kalau gue merasa jijik, gimana perasaan mereka?

We’re not the only people in this world that lived in here. There’s other who has the right to live just like us. We hate them because our ego is way too big. Coba bayangkan kalau orang yang kamu temui itu adalah orang terdekat kamu ataupun kamu sendiri, put yourself on their boat, how does it feels?

Kalau kita semua di dunia ini bisa saling mengerti pilihan hidup orang lain, gue rasa kita bisa hidup dengan lebih tenang dan damai. Nggak perlu lagi kesel-kesel di social media atau komentar di artikel berita jika ada yang bertentangan dengan kita. Kita selalu mau diterima orang lain, lalu kenapa kita nggak mau menerima keadaan orang lain?

Tentang Kebersamaan

Standard

Blog post ini gue tulis beberapa bulan lalu, entah kenapa waktu itu nggak gue publish 😀

Ii (adik mama) dan Ichong (suaminya) gue boleh disebut sebagai orang tionghoa di negri ini yang kasarnya bisa disebut cina banget. Bahasa Indonesianya masih sedikit totok, hampir tiap hari mereka ngobrol dalam bahasa Hakka, beragama budha, vegetarian, punya toko kelontong, hidupnya sederhana. Di kehidupan mereka yang cina banget ini, mereka tinggal di Ciledug, kawasan yang nggak cina banget. Di kompleks perumahan yang mereka tinggalin, mungkin orang cinanya bisa dihitung dengan jari.

5 sampai 10 tahun lalu, keluarga tionghoa yang tinggal di pinggiran Jakarta yang orang tionghoanya sedikit kadang bisa menimbulkan masalah bagi kedua belah pihak. Yang bukan tionghoa suka merasa terancam kalau-kalau si tionghoa ini bikin toko dan jadi sukses di tempat itu melahap bisnis kecil2an warga non-tionghoa. Sedangkan si tionghoa ini sendiri takut kalau-kalau mereka terancam tinggal di kawasan yang jarang warga tionghoanya. Beberapa kasus malahan sampai ada yang rumahnya ditimpukin batu.

Tapi apa yang gue lihat minggu lalu dirumah ii dan ichong gue ini adalah sesuatu hal yang amazing. Membuat gue mikir.

Ii gue meninggal di usia 53 tahun minggu lalu karena penyakit kanker yang sudah menggerogoti seluruh tubuhnya. Beliau meninggal di rumah, setelah kurang lebih 11 bulan perawatan bolak-balik Jakarta-Penang. Saat gue datang ke rumahnya, beliau sudah meninggal, dan selama 4 jam kurang lebih menunggu ambulance datang menjemput jenazah, gue melihat puluhan orang tetangga mereka ini datang satu per satu untuk melihat jenazah untuk yang terakhir kalinya. Tua, muda, laki-laki, perempuan semua datang, dan semuanya bukan orang tionghoa. Bayangkan Ibu-ibu berkerudung masuk ke kamar dengan alunan lagu doa-doa budha dalam bahasa mandarin sambil mengucapkan doa dalam bahasa arab.

Di perkarangan rumah mereka, bapak-bapak duduk sambil ngobrol dan begitu butuh bantuan untuk fotocopy dokumen misalnya, seorang bapak langsung sigap mengambil dokumen itu sambil berkata, “Di rumah ada” dan tak lama kemudian fotocopynya kembali.

“Enci orangnya baik” kata seorang yang melawat minggu lalu. Seorang tetangga juga katanya datang saat ii gue itu menjelang meninggal dan menangis kejar melihat keadaan ii gue saat itu.

Jujur tetangga kanan kiri gue yang sama-sama cina aja nggak akan mungkin bertindak seperti ini apabila ada tetangga yang meninggal.

Setelah hampir 18 tahun sejak kerusuhan tahun 1998, hubungan antara warga Tionghoa dan warga Non Tionghoa di Jakarta ini makin terus membaik, walaupun kejadian ini cukup bikin gue senang sekaligus kaget seakan tak percaya, semaju ini kah progressnya? Tapi kalau dilihat-lihat lagi, memang harusnya tak sesulit itu. Apa yang kita butuhkah hanyalah keterbukaan, pemikiran positif, selalu berbuat baik ke orang lain apapun ras, suku, atau agamanya, maka orang lainpun akan berbuat baik juga kepada kita. Sama seperti apa yang menurut gue Ii dan Ichong gue lakukan. Mereka works on it sampai akhirnya para tetangga yang berbeda 100% dari mereka itu bisa sampai sedekat itu dengan mereka. Dan Ii, ichong gue ini nggak belajar pelajaran PPKn, pelajaran tentang kewarga negaraan, pelajaran tentang toleransi, dll.

Ii, Ichong, dan tetangga-tetangga mereka hanya belajar menggunakan insting mereka sebagai warga negara yang baik. Kita yang hampir 12 tahun belajar tentang Kewarganegaraan apakah bisa menerapkan hal yang sama?