Being Chinese (in Jakarta)

Standard

Gue inget satu kalimat yang Papa selalu bilang kalau yang namanya orang Tionghoa itu hampir selalu ada dimana aja diseluruh dunia bahkan di negara-negara yang bahkan lu gak pernah tau bahwa negara itu ada. Dan kalau di research di google memang benar sih hampir semua kota di dunia memiliki Chinatown walau mungkin hanya sekumpulan toko-toko kecil atau restoran chinese.

Entah gimana mulanya sampai ada banyak orang dari Tiongkok dulu sampai bisa berlayar ke seluruh dunia. Tapi dari pengalaman kung-kung dan popo (kakek n nenek) gue dulu, mereka memutuskan untuk pindah karena kesulitan yang dialami saat itu di Tiongkok belum lagi pada masa rezim mula-mulanya komunis. Banyak cerita saudara-saudara mereka yang masih tertinggal di Tiongkok dulu saat jaman Tiongkok masih susah sering meminta bahan pangan dan uang untuk dikirim ke sana dari Indonesia. Saat mereka pindah, tak ada pemikiran untuk lama-lama merantau, kung-kung gue dulu katanya sempet secara berkala mengirimkan uang ke kampung halamannya di Tiongkok dan meminta saudaranya yang disana membantunya membangunkan rumah untuknya dan berharap ketika ia tua, ia bisa pulang ke kampung halamannya. Walau akhirnya impiannya itu gak pernah terwujud karena beliau akhirnya meninggal di Jakarta dan anak-anaknya pun tak pernah tahu gimana nasib rumah yang ia harapkan ada di Tiongkok sana. Hubungan terputus saat kung-kung dan popo gue meninggal. Anak-anaknya tumbuh dan jadi warga Jakarta dan beranak-pinak lah sampai jadi gue yang sekarang.

Entah gimana juga pikiran orang-orang  non-tionghoa melihat orang-orang tionghoa di Indonesia khususnya di Jakarta. Kebanyakan teman-teman non-tionghoa yang gue temuin akan kaget dan bertanya-tanya kenapa gue ga bisa bahasa mandarin. Sedangkan buat anak-anak tionghoa di Jakarta, mungkin reaksi mereka itu juga sama membingungkannya. Gimana mungkin gue bisa berbahasa mandarin secara dari kecil gue di rumah ngomongnya bahasa indonesia hahaha. Ya beberapa memang ada yang diajarin dirumahnya untuk ngomong mandarin atau bahasa dialect lokal tapi gak semua lancar, gue hanya tau beberapa dari temen gue yang lancar ngomong mandarin, sisanya hanya bisa ngomong sepatah-dua patah.

Hal ini gak terlepas dari pengaruh Order Baru. FYI, waktu jaman Soeharto, bahasa mandarin itu sama haramnya dengan Komunis. Tahun 80-an saat jaman-jamannya video kaset, banyak muncul penyewaan kaset video beta yang instantly akan digerebek sama polisi kalau ketahuan menyewakan video film berbahasa mandarin. Nah mulailah orang mulai diam-diam kalau mau nonton. Konon katanya dulu kalau mau nonton kaset video itu harus make sure pintu dikunci dan suaranya gak kenceng-kenceng takut kedengeran orang yang berpotensi melaporkan ke polisi.

Jelas sekarang keadaannya berbeda. Bahasa Mandarin udah digunakan dimana-mana. Sejak jaman reformasi, keadaan etnis tionghoa juga berubah jadi lebih baik. Jauh lebih baik menurut gue. Keterbukaan dan toleransi menjadikan orang tionghoa jadi lebih diakui sebagai warga negara indonesia yang sah, dan buat etnis tionghoanya sendiri ini membuatnya jadi lebih terbuka. Gak ada diskriminasi = keterbukaan. Lingkaran setan yang tadinya kuat sedikit demi sedikit mulai terputus.

Gue inget waktu kecil, yang namanya kata-kata diskriminasi dan bully krn gue seorang chinese itu udah kaya makanan sehari-hari. Gue inget waktu pulang sekolah di SD/SMP gtu selalu horor lewat di suatu jalan karena begitu lewat anak-anak kampung sana seringkali menghampiri gue lalu meledek gue karena gue cina ditambah dorong mendorong kadang, ya pasti kata-kata “Cina” gak lepas lah. Begitu juga gue inget suatu kali di depan sekolah ada ibu dan anaknya yang masih balita, teriak-teriak ke gue “Cina!!”, si ibu cuma bisa mendiamkan si anak. Tapi yang paling memorable, ketika ikutan Cerdas Cermat P4 di kelurahan sewaktu SD. Waktu itu sekolah kita menang melawan 3 sekolah negri. Masalahnya gak semua orang senang kita menang. Saat istirahat, masing-masing dari kita di keroyok oleh anak-anak itu dan mulailah mereka ngancem2 mengeluarkan kata-kata “Babi, Cina, dll”. Gak ada dari kita yang berani melawan sedikitpun. Untung guru kita saat itu tau itu dan mengusir mereka walaupun akhirnya tetep juga di palak. Masih banyak cerita kaya gini yang gue yakin setiap anak muda tionghoa seumuran gue pasti alamin. Seperti cerita temen-temen gue yang bilang kalau dulu main ding-dong rame-rame lalu sering didatengin anak-anak deket rumahnya yang lalu langsung merebut meja ding-dong yang sedang dimaininnya, kalau palak memalak sihh udah makanan tiap hari lah ya.

Menurut gue hal kaya gini yang bikin banyak orang chinese itu jadi eksklusif. Banyak orang bilang etnis Tionghoa itu eksklusif ga mau bergaul, tapi mereka juga ga tau apa yang dialami oleh etnis tionghoa. Kalau dari kecil aja udah sering dipalak dan diskreditkan, dari kecil udah tertanam gak mau berteman dengan orang non-tionghoa karena mereka takut trauma-trauma kecil kaya gitu akan terulang. Contohnya, akhirnya kebanyakan orang tionghoa ketika punya anak, ya disekolahkan di sekolah yang mayoritas tionghoa karena mereka tahu ketika kecil mereka sudah mengalami di bully sebagai tionghoa, gak mungkin mereka membiarkan anak mereka dibully lagi. So the eksklusif seperti yang dibilang oleh orang kebanyakan menurut gue gak lebih dari sekedar perlindungan. Ketika pemerintah udah ga bisa melindungin warganya maka warganya yang melindungi dirinya sendiri dengan membangun tembok perlindungan setinggi-tingginya agar tak diganggu. Masalahnya tembok perlindungan ini dilihat oleh sebagian non-tionghoa sebagai eksklusifitas.

Tapi untungnya sekarang semua udah mulai berubah, hal-hal kaya gini semakin lama semakin ditinggalkan, gak dipungkiri beberapa orang masih rasis, tapi things getting better and i’m happy with it. Sekarang kayanya pembauran, pertemanan, hubungan antar ras bukan lagi suatu yang aneh at least di Jakarta, udah biasa malah kalau seorang tionghoa punya temen non tionghoa atau sebaliknya. Masing-masing punya pengertian yang baik, saling menghargai antar etnis, and it makes all the things beautiful. Walau gue yakin Indonesia masih berjuang, berjuang untuk menghancurkan tembok-tembok yang masih belum sepenuhnya runtuh. Yahh wish we all the best 😀

 

Membangun Startup hanya dengan ide hebat, cukupkah ?

Standard

Belakangan ini, di Indonesia khususnya muncul lagi booming perusahaan dotcom, setiap penggerak dunia digital mulai dari developer, agency, sampai businessman non-digital yang punya passion di dunia digital pun rame-rame berlomba bikin startup. Idenya macem-macem ada yang berguna dan kreatif, kreatif tapi gak ada gunanya, sampe yang njiplak bulet-bulet ide startup di luar negri bahkan sampe designnya pun dijiplak.

Gak dipungkiri sih penggerak dunia digital ini pasti terinspirasi dengan keberhasilan startup-startup baik dalam negri maupun luar negri yang cukup sukses sampai bisa dibeli oleh perusahaan-perusahaan besar. Siapa yang gak tergiur sama Instagram yang dibeli sampe $1 Billion oleh Facebook. Atau ya cerita sukses sepanjang masa, cerita si Facebook itu yang awalnya hanya berawal dari ide simple Mark Zuckerberg yang dalam waktu kurang dari 10 tahun sudah bisa menjadikannya orang kaya ke 26 diseluruh dunia.Tapi pertanyaan besarnya, apakah punya ide aja udah cukup ?

Pertanyaan ini sebenernya cocok untuk ditanyakan ke Winklevoss twin yang sangat kekeuh untuk menuntut Facebook karena menurut mereka ide Facebook adalah ide mereka, kalaupun saat itu kejadiannya Winklevoss menyuruh developer lain untuk mengerjakan project mereka, apakah project mereka itu akan bisa sesukses Facebook sekarang ini? Apalagi Winklevoss dan Divya Narendra tak memiliki background developing sama sekali. Gue rasa nggak. Jika bukan Zuckerberg yang mereka suruh untuk melakukan project itu sebelumnya, begitu project itu naik ke public, gue yakin Zuckerberg tetap akan membuat Facebook dengan gaya Zuckerberg seperti yang ia lakukan sekarang.

Gue jadi ingat perkataan sahabat gue yang bilang kalau dia gak takut idenya dicuri sama orang karena ujung-ujungnya setiap orang akan mengeksekusi ide tersebut dengan cara berbeda-beda. Awalnya gue gak setuju dengan pendapatnya karena menurut gue ide adalah sumber dari segalanya, ga mungkin suatu hal besar bisa jadi populer kalo gak ada ide hebat. Tapi semakin dipikirin, ada benarnya juga. Ide hanyalah sebuah ide. Mewujudkan ide itu baru setengah jalan. Menjalankan ide kita untuk bisa menjadi besar itulah perjuangan sebenernya. Maka dari itu lah gue suka dengan sebuah quote “Ide itu gak ada nilainya sampai kita bisa mewujudkan dan mengembangkannya”, Ide aja ga bisa membantu menyelesaikan masalah orang sampai ide itu diwujudkan. Dan kalo gak bisa membantu menyelesaikan masalah orang ya siapa yang mau beli?

Dan seperti yang gue bilang sebelumnya bisa mewujudkan ide pun itu baru setengah jalan. Startup yang banyak bermunculan sekarang sudah berhasil mewujudkan ide mereka menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan digunakan. Tapi ya itu balik lagi, perjuanganmu baru setengah jalan nak. Dan banyak sekali startup yang tumbang dibagian ini, dibagian dimana ide mereka telah mereka wujudkan. Banyak dari kita selalu berpikir gue punya ide, cari orang untuk mewujudkan ide gue itu, terus wah udah deh tinggal nungu orang-orang pada dateng ke website gue, berharap itu berguna untuk mereka, udah deh enak tinggal tunggu profitnya. Tapi sayangnya jarang ada hal indah seperti itu. Gak gampang narik traffic yang tinggi ke website kita, kalaupun udah berhasil narik traffic yang banyak, apa yang kita bisa tawarkan kepada mereka untuk bisa berlama-lama dan nyaman, kalo udah bisa membuat mereka tertarik gimana caranya untuk bikin besok mereka mau balik lagi ke website kita. Kalo mereka udah cukup setia untuk terus-terusan menggunakan produk/jasa yang kita tawarkan, gimana kita mengantisipasi competitor dan para penjiplak situs kita, apa keunggulan kita yang ga dimiliki oleh mereka ? Ingat bagaimana dulu Friendster akhirnya terkalahkan oleh Facebook kan ?

Jadi untuk bisa menjadi Facebook atau Instagram, perjuangannya tidaklah segampang yang dilihat. Perlu pengalaman yang sangat banyak dibidang digital untuk bisa membuat suatu startup sukses, tak perlu sehebat Facebook ataupun Kaskus, bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan pun sebenarnya sudah bagus, kalau bisa lebih ya lebih bagus dong hehe…

Gue gak berpengalaman membangun sebuah startup, dulu sempat mewujudkan ide menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan digunakan, tapi akhirnya berakhir NOL karena itu tadi, gak ada pengalaman apa yang harus gue lakukan ketika kita sudah punya produknya. Tapi pengalaman beberapa tahun ini semoga bisa dijadikan pelajaran walau gue sendiri masih merasa mendirikan startup itu seperti bermain kartu di kasino dimana kita gak tahu akan berakhir gimana. Perlu menggunakan strategi yg jitu, keberuntungan, pengalaman, pengambilan keputusan yang baik dan juga relasi yang baik untuk bisa membuat sebuah startup sukses. Semoga suatu hari nanti gue bisa membuktikan hipotesis-hipotesis gue ini hehehe…

 

 

Fatherhood Instinct

Standard

Beberapa minggu lalu waktu lagi nyetir pulang kantor gue tiba-tiba aja kepikiran “Gimana ya kira-kira bentuk anak-anak gue nantinya ?” hehe random emang tapi somehow gue excited untuk tahu akan itu, apakah anak gue bakalan jadi anak pendiam yang sering nanya2 ke papanya kalo nemu hal-hal yang bikin penasaran. Ataukah mungkin dia akan jadi anak yang talkative (gue nggak talkative so it’s going to be weird and also interesting in the same time kalau anak gue gitu), lalu apa anak gue nantinya bakal jadi anak yang ganteng, ato biasa aja kaya papanya ? haha ato kalo cewek, apa dia bakalan jadi cewe geek ? kalo smart harus ya hahaha…at least harus kepo, harus tahu semua hal, it will help you a lot in your life kid 😀

Itu mungkin terjadi beberapa minggu lalu. Tapi hari ini gue jadi teringat dan disadarkan lagi akan hal itu. Waktu perjalanan ke Kebaktian Padang tadi pagi, gue duduk di sebelah anak cowok 11 tahun yang ketakutan kalo dia akan muntah karena mabok di dalam bus. Anaknya bawel plus sedikit nyolot memang. Tapi orangnya talkative, walau baru ketemu tapi gak takut sama orang. Mulailah dia tanya banyak hal, mulai dari perjalanannya bakal jauh ato nggak, tiap kali lewat suatu tempat nanya ini tempat apaan, lalu dia cerita pergi ke suatu tempat dan disana ada apa aja.

Ngeliat anak ini gue jadi inget gue waktu masih kecil hehe. Gue waktu masih kecil selalu mau tau dan nanya apa aja yang gue belum tau ke bokap gue. Liat hal aneh dikit aja nanya. Dan bokap gue selalu sabar jawab pertanyaan gue satu-satu dan dia sepertinya selalu tahu akan semua hal. Semakin gue gede, gue jadi mikir, kok bisa-bisanya bokap gue sabar jawabin pertanyaan annoying gue waktu kecil haha…

But as i grow older and realize it by today, gue jadi ngerti gimana dulu bokap gue jawab pertanyaan gue. I see myself on this boy. i see some honest curiosity on him yang bikin gue mau untuk menjawab tanpa ada rasa terganggu. Jadilah gue kaya bokap gue jawabin pertanyaan nih anak satu persatu. And i don’t know why tapi gue jadi sering nanya ke ni bocah “udah mulai pusing blom ? kalo mo muntah bilang ya” Udah kaya bokapnya aja gue wkwkwkw…

Siangnya saat makan siang, gue duduk disebelah anak cowok lain yang umurnya lebih kecil dan lagi makan sendiri. Dan kerjaan gue selama dia makan adalah make sure gak ada lalat hinggap dimakanan tu anak secara lokasi acara outdoor dan banyak lalat berhinggapan. It’s weird but it’s like an instinct hahaha…kalo orang liat dari jauh mungkin mereka kira gue bokapnya kali.

All of this series of event makes me think that may be i’m ready to becoming a father.
Gue membayangkan gimana kalo gue punya anak, gimana rasanya bisa mendidik dan ngajarin banyak hal ke seorang anak yang bener-bener masih kosong sampe akhirnya bisa jadi seseorang yang berbudi dan berpendidikan. Raising a kid is such an amazing thing a man can do. Making nothing to something, duplicating yourself into this kid and the fact that their depends on you on their childhood makes you proud of being a parent.

The only question leaves is, when will it be happen to me? 😀 Or is it a possible thing for me to becoming a father ? 😀