Christianity: Menjadi Pelayan Tuhan

Standard

Dulu gue selalu berpikir bahwa yang bisa menjadi pelayan Tuhan itu ya hanya orang-orang tertentu aja, orang-orang pilihan Tuhan. Selalu berpikir kalau mereka yang jadi pelayan itu ya yang sangat beriman, hidupnya gak bercela, dan yang memang punya skill yang bagus, yang jadi singer dan WL itu harus yang suaranya hebat-hebat. Kalo suaranya pas-pasan ya kayanya gak mungkin bisa jadi WL ato Singer.

Tapi di gereja gue yang sekarang di Sion Hakka, gue belajar banyak hal tentang menjadi pelayan Tuhan. Pelayan Tuhan itu ternyata gak selalu melulu hal-hal yang berkaitan dengan ibadah di atas altar. Tetapi lebih luas lagi. Selama ini banyak orang Kristen selalu berpikir seperti itu, bahwa mereka hanya jemaat ga bisa jadi pelayan. Bahwa menjadi pelayan Tuhan itu sepertinya beban moral dan tanggung jawabnya besar banget. But hey..lu bisa menjadi pelayan Tuhan dari hal kecil. Di Sion Hakka, gue lihat beberapa orang dibelakang layar mengerjakan hal kecil dengan tulus dan berarti buat sekitarnya. Sesederhana menawarkan jasa membelikan renungan dan membawanya ke gereja, meminjamkan mobil untuk membesuk jemaat, membantu mengumpulkan dana pembangunan gereja, dan hal-hal lain yang membuat semua orang bisa menjadi pelayan Tuhan. Satu kalimat yang gue inget dari Ko Aron, pembina Pemuda Sion Hakka adalah “Biarkan aja dia yang jalanin itu, itu kan bentuk pelayanan dia, kita jangan menghalangi kalo ada orang yang mau melayani Tuhan”.

Dan satu hal luar biasa yang bikin gue sadar adalah lu gak perlu punya keahlian khusus, suara yang menggelegar, wajah yang cantik/ganteng, gaya dan pakaian yang keren, skill bermain alat musik yang luar biasa untuk menjadi Tim Musik, Singer atau WL. Karena Tuhan gak melihat kemampuan lu, karena Tuhan gak melihat wajah cantik atau ganteng lu, Tuhan gak lihat pakaian yang lu pake, tapi Tuhan melihat hati lu yang tulus untuk melayani Dia. Percuma suara lu bagus tapi lu hanya mau jadi performer yang show-off di depan altar. 

Jadi gue agak sedih kalau melihat ada gereja yang mengadakan audisi untuk bisa menjadi Worship Leader, Singer, Pemain Musik. Memang sih gue gak tau apa aja isi audisinya. Tapi kalau dia gak lolos audisi, berarti dia ga bisa dong melayani Tuhan ? Kalau ternyata suaranya yang ternyata dinilai lalu suaranya jelek, berarti dia ga bisa bernyanyi untuk Tuhan diatas altar dong ? Kalau dia ternyata cadel, dia ga bisa dong menyanyi untuk Tuhan ? Kalau yang diaudisi ketulusan hatinya untuk memuji okelah ya, walau gue ragu gimana cara audisinya kalo hati yang dilihat.

Mungkin dilema juga buat gereja-gereja, banyak jemaat yang hanya melihat fisik semata. Jujur gue dulu juga begitu Ho..ho. Suara WL dan Singer yang bagus dan menarik menjadi daya tarik untuk mereka datang ke suatu kebaktian, dan kalau ada WL dan Musiknya yang ga sesuai harapan, mereka protes “Ah WL-nya aja gak bisa nyanyi, ni gereja gak ada ya yang suaranya lebih bagus daripada dia ?”. Lalu mereka mencari gereja lain yang mereka suka, yang WL dan Singernya bagus suaranya. Gak semua jemaat memang sudah dewasa secara rohani. Tapi menurut gue nggak seharusnya juga sebuah gereja menuruti permintaan pasar karena HEYY it’s not business…

Lalu tentang iman. Gue dan siapapun yang membaca post ini pasti pernah berpikir kalau menjadi pelayan Tuhan itu imannya harus tinggi lebih tinggi daripada jemaat lainnya. Harus hidup lurus didalam Tuhan. Nah harus gue tekankan dulu bahwa Pelayan Tuhan itu bukannya malaikat. Kalau lu melihat seorang pelayan Tuhan itu melakukan suatu kesalahan, lalu lu kehilangan respect dan menggerutu “Dia kan pelayan Tuhan kok perilakunya begitu sih?” Nah lu mungkin harus berpikir lebih dalam lagi. Ya memang benar kalau jadi pelayan Tuhan itu harus hidup sepenuhnya dalam jalan Tuhan. Tapi gak ada manusia yang sempurna. Dan kita semua, termasuk pelayan Tuhan juga sama-sama dalam proses untuk hidup kudus dalam Tuhan. Gue sekarang gak lagi berani menghakimi para pelayan Tuhan, bukan karena mereka seolah-olah pilihan Tuhan. Tetapi karena mereka sudah merelakan waktu dan tenaga mereka untuk melayani Tuhan, sedangkan gue ? Apakah gue udah melayani Tuhan sebanyak dan sebaik mereka ? Nggak, so gue berhak untuk menghakimi para pelayan Tuhan ? Jelas nggak. Seorang pelayan yang bermain musik dengan tulus di sebuah gereja yang pernah masuk penjara karena membunuh menurut gue masih lebih berharga daripada seorang jemaat yang hanya bisa menggerutu kenapa seorang mantan napi tersebut bisa menjadi pemain musik.

Tapi balik lagi, gak semua jemaat bisa dewasa secara rohani. Namanya gossip, pemikiran miring, dan menuntut kesempurnaan selalu menjadi hal yang jemaat-jemaat lakukan. Dan balik lagi juga, ini berarti tugasnya gereja untuk bisa mendidik para jemaat untuk bisa menjadi dewasa. Menjadi dewasa untuk bisa menerima kalau ada WL dan Singer yang bersuara jelek. Menjadi dewasa untuk bisa menerima kalau pelayan Tuhan itu juga manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan dan bisa menyadari kalau seorang yang hanya duduk dan pulang ga berhak menghakimi orang yang sudah mengeluarkan tenaga dan waktunya untuk Tuhan.

2 thoughts on “Christianity: Menjadi Pelayan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s