Kan Orang Cina Kaya-Kaya

Standard

Kata-kata itu muncul dari seorang ibu-ibu penjual buah di kawasan puncak beberapa tahun lalu waktu gue dan teman-teman kantor gue di ZAi lagi jalan-jalan.

“Kan Orang Cina Kaya-kaya” itu mungkin juga pernyataan yang muncul dibenak kebanyakan orang. Buat sebagian besar orang yang dilingkungan tempat tinggalnya jarang ada orang tionghoanya atau yang tak punya kenalan dekat orang tionghoa selalu melihat orang tionghoa sebagai kalangan yang punya duit banyak karena yang mereka selalu lihat ya yang membawa mobil, rumahnya gede-gede, si empunya perusahaan X, macem-macem.

Gue dulu sekolah di sekolah kristen yang ada lingkungannya sederhana. Sekolahnya tiap bulan harus struggle karena teman-teman gue yang mayoritas tionghoa itu gak semuanya bisa bayar uang sekolah tepat waktu. Ada yang orang tuanya harus tiap hari berjualan di pasar pagi-pagi buta dimana sang anak harus ikut membantu sebelum sekolah, banyak yang rumahnya berada di pedalaman jauh dari jalan raya yang kecil dan seadanya tanpa kemewahan, ada yang orang tuanya harus jualan menggunakan sepeda kemana-mana menjajakan apa aja tapi walau begitu mereka tetap mengantarkan anaknya. Kalau dari kita gak bisa bayar uang sekolah, kepala sekolah mulai menempelkan atau menyebutkan nama satu per satu dari kita. Gak ada sopir untuk anter anak ke sekolah, gak ada kantin mewah, gak ada mainan-mainan high-tech. Sekolah kamipun seadanya gak kecil tapi juga gak besar, satu kelas digunakan untuk 2 grade. Lab komputer sewaktu SMP hanya punya 4 komputer yang masih beros DOS disaat komputer lain saat itu udah Windows 2000. Saat istirahat hanya ada hanya abang-abang tukang jualan makanan dan mainan murah.

Tinggal di Kota dari sejak lahir gue bisa lihat segala sisi orang tionghoa, yang mampu memang banyak, tapi yang hidupnya gak mampu gak kalah banyak. Ada yang jadi pengamen, tukang minta-minta di pinggir lampu merah, pekerja kasar jadi tukang potong kain di konfeksi-konfeksi, salesman door to door, semua pekerjaan yang terpikirkan pasti ada orang tionghoa yang bekerja itu disana.

Bahkan di Kalimantan Barat, kebanyakan dari orang tionghoa disana bekerja sebagai petani, dan terutama di sambas, singkawang yang mayoritasnya tionghoa semua pekerjaan dari yang kasar sampai pengusaha ada semua. Bahkan ada banyak orang tua tionghoa disana yang menjadi sopir ojek.

Tapi buat gue, pernyataan itu pernyataan yang sangat sulit diterima. Gue bukannya orang kaya. Teman-teman gue yang gue kenal kebanyakan bukan orang kaya. Gue tahu bagaimana kedua orang tua gue struggle untuk bisa bertahan hidup membiayai kedua anaknya untuk sekolah dan kuliah. Dan memang kebanyakan orang tionghoa bisa hidup cukup tapi bukannya berarti kaya kan ? Dan kalau memang cukup itu dikatakan sebagai kaya so what ? Kalau memang dia kaya karena usahanya sendiri, lalu kenapa? Bukan hasil korupsi dan nipu orang kan ?

Gue gak setuju dengan statement itu bukan karena merasa terdiskriminasi juga, cuma menurut gue statement itu gak adil untuk temen-temen gue dan keluarganya serta orang tionghoa lainnya yang bahkan untuk mencari makan saja masih susah. Gak adil karena mereka selalu dianggap “Kaya” tapi kenyataannya mereka harus berjuang sendiri, gak ada bantuan dari pemerintah daerah karena mereka selalu dianggap mampu dan gak perlu bantuan. Kalau ada yang punya statement seperti itu rasanya mau ajak mereka berkeliling di daerah pedalaman di daerah Kota atau dibawa ke Kunthian (baca:Kalimantan) sekalian hahaha. Tapi balik lagi agak ga mungkin meyakinkan semua orang yang punya pemikiran seperti itu. Hanya berharap orang-orang bisa membuka sedikit pemikiran mereka dan melihat sekeliling mereka, pada saat mereka menemukan ada orang tionghoa yang gak lebih kaya dari mereka, semoga mereka tahu orang tionghoa itu ga beda jauh dengan diri mereka sendiri.