My Top 10 Twitter Fav Post

Standard

So selama beberapa tahun ini join Twitter. Gue selalu mem-follow beberapa orang, yah including celebtwit. Kadang karena kepo, kadang karena tuntutan kerjaan (kerjaan untuk kepo :D). Kalo nemu yang menarik dan sesuai banget dengan prinsip gue ya gue mark as favorite. Sebenernya bisa sih dilihat dilist favorite gue. Tapi karena lagi pengen aja ngebahas, berikut 10 twitter post favorite gue.

Semoga pada terinspirasi yah semua 😀

#TourDeMuseum 1

Standard

Woohoo bermula dari obrolan-obrolan waktu lembur beberapa minggu lalu, akhirnya Sabtu (06/07) kemaren kita bertualang di Kota Tua dari satu museum ke museum lain. Nggak banyak sih emang cuma 3 museum tapi sangat berkesan. Awalnya sih nggak nyangka jalan-jalan ke museum di Jakarta bisa seseru ini, tapi ternyata seru lhoo..

Gue tinggal di daerah Kota, tapi seumur-umur nggak pernah yang namanya masuk ke Museum Sejarah Jakarta yang ada di Fatahillah. Sering banget lewat depan Museum Mandiri atau Museum Bank Indonesia, tapi nggak pernah sekalipun ngunjungin hahah. Sepertinya sih emang karena kurang promosi bahwa museum sekarang udah jauh berbeda dengan museum2 jaman dulu. Yah emang sih masih kelihatan sana-sini nggak terawat tapi overall ada peningkatan lah.

kota

Kita ber-6 ngumpul di Fatahillah jam 8.30. Museum Sejarah Jakarta sendiri bukanya baru jam 9 pagi. Orang-orang udah berkumpul di sekitaran Taman Fatahillah. Yang paling sering dikerubungi adalah si Noni Belanda dengan hanya bermodalkan baju putih khas noni eropa, payung putih dan wajah yang diputihin, orang-orang bisa berfoto sama dia dan sebagai imbalannya ya bisa kasih uang seikhlasnya aja ke dia. Banyak lho yang foto sama dia ini termasuk foreigner2 yang jumlahnya banyak di Kota ini.

Untuk masuk ke Museum Sejarah Jakarta, orang dewasa dikenakan tarif masuk sebesar IDR. 5000. Cukup murah sih. Museum ini kalo boleh jujur agak kurang terawat, emang sih bersih tapi karena ini yang mengelola Pemda rasanya perawatannya masih kurang. Beberapa koleksinya berdebu, banyak sign yang udah robek karena hanya pake kertas di tempel.

Koleksi Museum ini beragam, di lantai dasar, kebanyakan berisi sejarah kota Jakarta secara umum. Mulai dari jaman kerajaan dulu (ada prasasti-prasasti dan alat-alat manusia purba gitu), lalu perkembangan kota Jakarta juga ditampilin. Dibagian atas ada ruangan-ruangan kamar mungkin petinggi Belanda jaman itu. Ada lemari-lemari, meja tulis, ranjang, ukir-ukiran kayu dari jaman abad ke 18 (1700an). Dan luar biasanya furniture-furniture kayu itu masih terlihat kuat. Mungkin karena kayu yang dipakai sangat bagus sehingga masih terlihat baik sekali.

msj-furniture

Setelah berjalan-jalan didalam ruangan kita bisa keluar lapangan tengah. Di tiga museum yang kita kunjungi, semuanya memiliki lapangan dibagian tengahnya. Mungkin dulu semua gedung-gedung memiliki kewajiban membuat lapangan terbuka kali yah, nggak kaya sekarang dimana depan kanan kiri belakangan isinya gedung semua.

Di sayap kiri, ada ruangan pameran sepertinya untuk menyambut HUT Jakarta ada pameran tambahan di sini. Amazingly ada penempakan menarik. Ada LCD berbentuk seorang perempuan dimana kalau dilihat dari jauh kaya orang beneran, tapi sebenernya ini adalah LCD projector. Bentuknya dibuat sesuai dengan postur tubuhnya. Menarik.

led

Sebelum sampai lapangan, kita sempet nanya dimana letak penjara bawah tanah dengan bahasa Indonesia tentunya. Tapi entah kenapa beberapa saat kemudian ada seorang petugas datang dan dengan pedenya tuh orang menjelaskan lokasi penjara itu ke gue dengan bahasa Inggris. Okeii gue nggak fokus dia ngomong apa, karena selama dia ngobrol gue berusaha nggak ketawa. Begitu udah kelar, kita jalan kelapangan dan ketawanya pun langsung meledak, dia nggak tau kalau gue ini orang Indonesia juga. Dikira orang Jepang/Korea kali *ngarep*

MuseumSejarahJakarta: Hermes

Disini ada 2 objek sejarah yang menarik untuk dilihat, 1 patung Hermes yang dulu adanya di jembatan Harmoni dan 1 lagi meriam si Jagur yang ujung meriamnya sangat kontroversial hahah. Ya gtu deh nih liat aja sendiri.

sijagur

Dipinggir-pinggir lapangan ada seperti tunnel. Tunnel ini ternyata adalah passage way dimana kanannya terdapat ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai penjara. Bentuknya sangat sumpek sih. Seperti dome gtu, tapi orang dewasa sih nggak akan bisa berdiri. Udah gelap, kecil tempatnya, nggak bisa berdiri. This is a real jail.

Setelah 1 jam berjalan-jalan di Museum ini, akhirnya kita pindah ke Museum BI. Letaknya nggak terlalu jauh, cukup jalan aja sedikit eh nyampe.

Di Museum BI ini pengunjung nggak dikenakan biaya apapun. Tapi walau nggak dikenakan biaya apapun, Museum BI ini menurut gue salah satu museum paling keren yang pernah gue liat. Emang sih gue juga nggak sesering itu ke Museum haha, tapi dibandingin terakhir kali ke Maritime Experiential Museum di Singapore pun menurut gue kalah dengan Museum BI ini. Diorama dan background cerita exhibitionnya dibuat profesional dan dipikirin dengan baik banget. Jadi nggak seadanya.

Di Museum Bi ini diceritakan gimana dari awal waktu pendudukan Belanda, bagaimana ada yang namanya Bank belanda pertama kali sampai jadi Bank Indonesia, terus masuk ke jaman kemerdekaan sampai ke jaman sekarang. Semuanya dikemas dalam bentuk cerita sejarah dimana kita masuk ke seperti exhibition bercerita seperti masuk ke lorong waktu gitu. Selain itu ada juga pameran-pameran uang dari jaman kerajaan dulu sampe uang sekarang di Ruang Numimastik (setelah gue google ini ternyata artinya adalah Koin).

museumbi-1

Patung-patung, diorama, dan background environment masing-masing exhibition dibuat bagus banget, patungnya terlihat real. Lalu ada beberapa exhibit yang memang di buat kreatif. Seperti penempatan seragam tentara dibawah lantai, exhibit perang dimana ada patung-patung pejuang sedang menodongkan senjata dengan efek cahaya yang bagus jadi orang-orang bisa foto-foto disana, lalu ada lagi di awal exhibition disaat jaman kerajaan ada kapal-kapal gede beserta teropong dan kompas jaman dulunya.

Puncaknya exhibition paling menarik adalah ruangan brankas berisi emas. Yaa emang bukan emas asli sih, tapi exhibition ini keren banget. Di tengah-tengah ruangan ada aquarium kaca dimana ada setumpuk emas batangan menarik mata. Dan di ujung ada experience zone dimana kita bisa coba merasakan untuk coba memegang emas batangan seberat 14 kg. Walaupun palsu, ini tetap bikin kita super excited 😀

museumbi-emas

Nah walaupun gratis (atau mungkin karena ini gratis) jadi museum ini petugasnya benar-benar strict dan menjalankan tugasnya dengan baik. Dan petugasnya bukan petugas sembarangan sih. Ketika ada yang melakukan pelanggaran seperti memasuki daerah yang tidak seharusnya dimasuki, langsung ada petugas yang menghampiri dan memanggil orang itu untuk keluar. Bagus sih menurut gue.

Overall experience di Museum BI ini yang paling berkesan.

Selanjutnya di sebelah Museum BI ada Museum Mandiri. Museum Mandiri ini tampilannya lebih kuno dan nggak terawat sih. Ya kalo dibandingin dengan Museum BI kalah jauh lah ya. Museum Mandiri ini isinya lebih ke pameran mesin-mesin dan perlengkapan-perlengkapan yang dipakai di perbankan dari jaman dulu. Ada mesin kasir yang segede-gede gaban, komputer, kalkulator jadul, server komputer yang gede banget, fax model awal, dan masih banyak lagi deh.

museum-mandiri

Ada 1 spot di Museum ini yang keren banget untuk foto-foto. Jadi di tempat ini dindingnya ditempelin komputer, laptop, dan cash register jaman dulu gitu yang ukurannya masih gede-gede. Karena letaknya di pas corner gitu jadi pas buat foto-foto.

photocorner

Tapi sayangnya museum ini kurang ada yang jagain, masalahnya lagi orang-orang Indonesia sebagian agak kurang otaknya. Seperti yang ini:

vandalism

Materi Informasi dicoret-coret, entah apa tujuannya. Kayanya penting banget meninggalkan jejak. Nggak ada perasaan sayang gitu dengan museum ini.

Selain itu yang bikin agak kesel itu ada banyak photo session dengan model dan para club photography di sini. Pertama, itu ngeganggu pengunjung karena satu block spot itu ditutup. Kedua, for God sake ini museum ya..punya catatan sejarah dan tinggi nilai sejarahnya, dijadiin tempat foto-foto model cantik dan agak sexy kan nggak proper aja. Nggak sopan. But anyway, some people are just thinking about themselves. 

museum-mandiri2

Oh ya untuk masuk ke Museum ini, pelajar (atau yang penting bisa nunjukkin kartu mahasiswa/pelajar aja) itu gratis tapi untuk umum dikenakan biaya IDR 2.000 setiap orang. Ya bolehlah ya. Tapi gue sih berharap si pengelola museum bisa lebih merawat museum ini. Karena koleksinya menurut gue banyak dan menarik, tapi seperti dijejerin gitu aja. Informasinya nggak terlalu banyak dan ya kaya pameran aja udah gitu. Sayang banget kan.

Tapi overall Tour De Museum kali ini sangat memorable, walau hanya memakan waktu 4 jam tapi banyak yang bisa kita dapetin, informasi, eye-entertaining exhibit, dan foto-foto pastinya. Next harus ada Tour De Museum 2, colek anak-anak AITINDO

Tipe-tipe Klien Website

Standard

3 tahun terakhir, hampir tiap hari kerjaan gue adalah membuat website mau itu di kantor ataupun pekerjaan freelance. Dan selalu bertemu dengan berbagai macam tipe orang. Emang sih balik lagi ke masing-masing sifat orang-orang itu. Tapi secara garis besar bisa dibagi menjadi kategori berikut:

1. Si Orang IT

Bagian di suatu perusahaan yang selalu berkaitan dengan website selain Marketing pastinya adalah IT. Dan kalau pernah baca status facebook gue yang ini, kalian harus tahu kalau yang namanya orang IT itu nggak tahu segalanya. Masalahnya menjadi seorang staff IT di sebuah kantor terkadang dipaksa untuk tahu segalanya. Akhirnya pengetahuannya ya emang cuma dikit-dikit. Termasuk pengetahuan dalam membuat website. Kebanyakan tahunya cuma kalau bikin website itu gampang, cuma klik-klik aja. Walau kalau disuruh bikin juga kadang nggak jadi sih. Nah masalahnya ada beberapa staff IT (dan managernya) yang berasa tahu segalanya tentang website padahal nggak. Kadang hadepin orang IT begini itu susah-susah gampang. Kalau dia emang pengetahuan IT-nya jago dan gak sotoy, itu mempermudah kerjaan web developer, tapi kalau IT-nya sotoy, ya malah mempersulit.

2. Si Cewek Pemilik Online Shopping

Nah yang ini ribet. Yang begini biasanya agak jauh berhubungan dengan teknologi. Agak akrab sama teknologi hanya karena tablet, smartphone yang dia punya. Dan punya website karena dia jualan online sebelumnya lewat website. Kadang malah punya website karena nggak mau kalah aja dengan teman-temannya yang lain. Kendala ketemu orang kaya gini adalah kita harus menjelaskan A – Z tentang web dari basic banget. Itu kalo ngerti haha. Tapi yang begini biasanya end up nggak jadi juga bikin website karena dia baru tahu akhirnya bikin website itu nggak murah.

3. Si Bijak

Paling enak kalau dapet klien itu yang lumayan ngerti sama dunia web, selalu mencari alternatif kalau ternyata ada kendala dari segi teknis, selalu minta sesuatu dengan baik-baik. Tapi emang balik dari sifat orangnya sih ya, orang begini biasanya emang sifatnya baik jadi selalu enak aja.

4. Si Bos Yang Tak Mau Tahu

Kalau udah bertemu dengan yang kaya gini, gue sih biasanya mundur. Dalam membuat website biasanya pembicaraan di awal sudah bisa kebaca gimana sikap dan sifat si klien. Tipe yang begini biasanya keliatan otoriternya. Dia nggak mau tau pokoknya dia mau dilayani dan semua permintaannya harus bisa dikerjakan. Tapi masalah utamanya yang begini budget untuk bikin websitenya juga terbatas. Jadi ya udahlah yah bikin sendiri aja sana 😀

5. Si Kurang Detail

Klien tipe ini mirip dengan tipe no.3 tapi masalahnya mereka nggak terlalu detail untuk perhatikan detail di awal requirement. Seharusnya ada fitur A, tapi dia nggak perhatiin itu di awal sehingga minta itu di belakang, ini nyusahin sih walau requestnya tetep dengan baik-baik tapi tetep nyebelin jadinya. Requirement yang simple bisa jadi complicated hanya karena si klien nggak detail.

6. Si Klien-Yang-Anggap-Developer-Sama-Dengan-Cenayang

Nah yang ini nggak kalah banyaknya. “Pokoknya yang modern deh websitenya sama kaya website-website sekarang fiturnya” Yeahh kaya gue bisa baca pikiran u gimana website modern itu. Aturan membuat website nomor satu adalah lu harus tahu website seperti apa yang lu mau bikin, referensinya jelas atau kalo nggak ada refernsi senggaknya bisa jelasin mau web yang seperti ini dan itu. Developer atau Designer sama sekali nggak bisa baca pikiran lu tentang apa yang lu mau bikin. Harus dijelaskan segala sesuatunya dengan detail.

Yah emang sih agak terlalu menggeneralisasi, tapi begitulah yang selama ini gue temuin. Mau gak mau. Suka nggak suka 😀

Travelling Alone But Not Lonely

Standard

Waktu gue bilang taon lalu gue ke Singapore dan Malaysia sendirian, beberapa nggak percaya termasuk bokap nyokap gue sebelum gue pergi. Mungkin kebanyakan orang berpikir kalau jalan-jalan ya harusnya rame-rame,  kalo kata bokap nyokap gue, apa serunya pergi sendirian doang. Sebagian lagi mungkin mikirnya segitu nggak ada temennya yah harus pergi sendiri. Yaa nggak gitu juga sih. Gue bahkan sengaja nggak bilang dan ajak siapa-siapa waktu pergi sendirian untuk travelling itu.

Travelling menurut gue itu priceless experience. Emang kalau lagi jalan-jalan itu pasti mengeluarkan banyak duit untuk biaya hidup, hiburan, makan pastinya. Tapi pengalamannya nggak bisa dibayar dengan apapun. Dan semua orang punya caranya masing-masing untuk menikmati liburannya. Ada orang-orang yang lebih suka untuk pergi ikut tour, tinggal duduk dan diajak kesana kemari nggak usah pusing. Ada lagi yang emang sukanya backpacking berame-rame. Ada juga yang sukanya travel sendirian. Untuk travel ikut tour sih gue nggak terlalu suka. Nggak suka karena gue nggak bebas, dengan jumlah uang yang sama gue bisa memilih kemana yang gue mau pergi tanpa harus pasrah dibawa oleh si tour guide entah kemana. But everyone has their own preference.

Ketika gue pergi sendirian, gue bisa dengan bebas bereksplorasi di suatu kota. Gue mau bangun pagi nggak ada yang ngeganggu karena si X dan si Y bangunnya kesiangan. Gue mau ke tempat Z nggak terganggu karena si X nggak suka tempat itu. Atau gue dengan bebas bisa masuk/naik atraksi yang gue mau tanpa perlu nggak enak sama si Y yang nggak mau naik atraksi itu. Intinya gue bisa melakukan apapun yang gue mau sendirian semua dibawah kontrol gue. Kalo gue capek ya gue istirahat, kalo gue masih kuat jalan ya gue jalan.  Kalau lagi rame-rame dan ada 1 orang yang capek, nggak mungkin kan ditinggal?

Tapi menurut gue sebenernya untuk bisa liburan sendiri ada 3 hal yang harus lu miliki:

1. Mental dan Fisik yang Mandiri

Travel sendirian berarti harus menghadapi konsekuensi selama beberapa hari/minggu sendirian kemana-mana dan kemungkinan sedikit untuk berkomunikasi dengan orang. Untuk lu yang emang nggak bisa kemana-mana sendirian dan takut kesepian kalau sendirian, travel sendirian ini nggak cocok buat lu. Tipe orang yang cocok untuk bisa pergi sendiri adalah yang mentalnya emang mandiri nggak perlu bantuan banyak orang untuk bisa bertahan hidup. Dan yang terpenting tahu apa yang dia lakukan dan nggak boleh jadi orang yang serba bingung.

2. Itinerary + Persiapan Matang

Gue nggak pernah yang namanya keluar negri tanpa persiapan yang udah ready di Jakarta. Itinerary harus udah jelas mau kemana selama beberapa hari itu, udah booking akomodasi, udah beli tiket attraction, sampai kalau bisa detail bus nomor berapa yang harus dinaikin kalau mau ke suatu lokasi. Pokoknya pas di hari keberangkatan dan sesampai di tujuan udah tinggal nikmatin liburan aja. Gue nggak suka travel dengan gaya koboy dimana itinerary sama sekali nggak dibuat. Ini namanya nambah kerjaan bukannya liburan. Lagian kalian harus mengurangi resiko sekecil mungkin karena kalian pergi sendiri dan nggak ada support sama sekali jadi resiko sekecil apapun bisa merusak segalanya.

3. Research

Riset sebelum perjalanan dilakukan itu penting banget. Nggak sekedar hanya cari tahu ada apa aja disana tapi harus sampe tau transportasinya, opening/closing hours, berapa biayanya dan detail lainnya sekecil-kecilnya. Lebih bagus lagi kalau lu udah bisa menyebutkan ada apa aja disuatu daerah bahkan sebelum lu sampe daerah itu.

But overall yang dibutuhin adalah insting. Bisa reaksi dengan cepat menanggapi suatu masalah dan menikmati aja liburan lu, jangan sampe memikirkan hal-hal diatas malahan jadi mengganggu liburan lu. Kalau emang nggak bisa pergi sendiri ya jangan juga dipaksain mending ajak beberapa teman untuk pergi menikmati liburan 😀 Jadi selamat liburan teman-teman 😀

Gay Marriage, Straight Marriage…

Standard

Tanggal 26 Juni 2013, Supreme Court US memutuskan kalau pasangan sesama jenis di Amerika memiliki hak yang sama dengan pasangan berlainan jenis untuk dapat menikah dan dicatatkan pernikahannya di catatan sipil dan mendapatkan pengakuan hukum. Most of peoples are happy celebrating the news, walau nggak semua senang dengan keputusan ini. Masih banyak juga orang-orang yang belum terbuka dan menentang pernikahan sesama jenis di Amerika. Buat gue gay is not something related to lifestyle. Yaa mungkin ada. Tapi gue lebih percaya gay sebagai sesuatu yang ada sejak lu lahir. Tapi Tuhan kan nggak menciptakan adanya gay? Yaa i won’t argue on that. Tapi logikanya begini, kalau memang sexual orientation bisa berubah-ubah, it’s mean that me and you who read this blogpost, punya kemungkinan untuk berpindah sexual orientation dong? Yang tadinya misalnya lu cowok straight yang suka sama cewek, lalu oneday bisa suka sama cowok juga? Lu yakin? Kalau lu yakin ya mungkin lu ada kecendrungan gay 😀 tapi kalau lu aja gak yakin lu bisa menjadi gay, gimana mungkin lu bisa berpikir orang lain bisa berubah sexual orientationnya? Anyway…intinya gue ga percaya seseorang bisa merubah sexual orientationnya. Kalau emang udah straight ya straight, kalo emang gay ya gay, kalo emang dasarnya bisexual, ya udah bisexual. Gak ada namanya seorang gay bisa sembuh dan jadi straight menikah punya anak. Yang ada mungkin ya yang in denial. Lagian emangnya buat kalian yang cewek-cewek, masih mau menikah dengan seorang cowok yang ngaku kalo dia dulunya gay? Jadi ngelantur gini haha. Kalau emang ada cowok suka sama cowok, ya udah gpp, kalo emang cewek suka sama cewek ya udah gpp juga. Kalo emang cowok suka sama cewek ya berarti bagus. Tiap orang punya beban masalahnya masing-masing. Gue yakin yang gay pun kalau bisa menjadi straight pasti mau jadi straight. Asal jangan membohongi orang dan diri sendiri dengan berusaha menjadi straight menikah dan punya anak. Lha kan bagus dong bisa menikah dan punya anak? Yeahh…pret…i don’t trust something good comes from lying. Tapi menurut gue walau it’s okey for you to be gay. Nggak perlu juga sampe menikah. Gue memang sadar marriage bill yang diubah Supreme Court US ini semata-mata untuk memberikan pengakuan buat homosexual. Pengakuan atas hak yang sama. Tapi it’s still unnecessary.  Lagian gue dari dulu nggak terlalu mengganggap penting yang namanya pencatatan sipil dalam pernikahan. Mau itu straight atau gay, pesta perkawinan, surat kawin, apapun itu menurut gue nggak penting. Yang penting dari suatu pernikahan menurut gue adalah bagaimana 2 orang itu bisa berkomitmen satu sama lain, setia satu sama lain di hadapan Tuhan bahwa yang satu nggak akan meninggalkan yang lain. Nggak peduli berapa ratus juta yang lu perlukan untuk mengadakan pesta. Nggak peduli berapa banyak yang datang ke pesta lu, nggak peduli seenak apapun makanan yang disuguhin. Nggak ada artinya kalau 2 orang ini nggak yakin satu sama lain dan nggak punya pondasi hubungan yang kuat. Jie bahasanya *ditimpuk*. Kalau di gereja, setiap mengucapkan janji menikah di hadapan Tuhan, selalu disebut “bersediakah anda berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang”. Tapi nyatanya nggak selalu begitu kan. Ada yang baru menikah si istri nggak bisa punya anak, udah nyari perempuan lain. Udah punya uang sedikit aja, cari selingkuhan. Ketika suami nggak bisa dapetin uang yang diharapkan, banyak ngeluh dan protes sampe akhirnya sering berantem satu sama lain, masih inget janji nikah dulu gak? Makanya itu menurut gue hubungan romantis antara 2 orang mau itu cewek dengan cowok, cowok dengan cowok, atau cewek dengan cewek yang nomor satu itu adalah komitmen. Percuma kalau lu seorang straight, suka mencemooh pasangan gay tapi ternyata pasangan gay itu lebih setia satu sama lain dan lebih pengertian dibandingkan lu ke pasangan lu, malu sendiri kan? Jadi buat gue menjadi manusia nggak dinilai dari apa yang terlihat, apa yang lu suka, apa preferensi sexual lu tapi nilai dan integritas orang itu. Integritas terhadap pasangan dan diri sendiri. Berani berjanji untuk setia di hadapan Tuhan di tahun begini dianggap angin lalu, orang lebih takut sama hukum yang dibuat oleh pemerintah. Maybe that’s what we all should think, whether you straight or gay. Emang gampang sih ngomong karena gue belum ngalamin dan berkomitmen seperti itu, tapi ya semoga aja gue nggak terperosok di masalah yang sama. Aminnn 😀 —

UPDATE 27/06/2015

2 tahun kemudian, tahun 2015 di tanggal yang sama, Supreme Court melegalkan pernikahan sejenis di semua negara bagian di Amerika Serikat. Yang gue nggak suka bukan pernikahan sejenisnya, tapi cara kebanyakan orang Amerika memperlakukan pernikahan itu sendiri. Mungkin bisa dilihat disini:

Atau pernikahan massal ketika Grammy Awards 2014:
Siapakah RuPaul atau Queen Latifah bisa meresmikan suatu pernikahan? Pernikahan jadi seperti nggak ada nilainya. Semua orang bisa meresmikan pernikahan. Meh…

UPDATE 28/06/2015

Setelah 2 hari ini banyak yang posting berita tentang ini, gue jadi mikir, sebenernya marriage equality ini bukan cuma semata-mata omongin tentang marriage. Tapi juga sebagai acknowledgement dari negara (USA) bahwa hubungan selain bersama lawan jenis diakui oleh negara. Ini yang penting selain ya pernikahan itu sendiri. Bahwa mau apa pun pernikahannya (sesama jenis, lawan jenis, beda agama, beda ras, beda physical) semua berhak mendapatkan hak yang sama dan diakui oleh negara jadi sesama warga negara nggak boleh nentang itu. Sama seperti yang dikatakan oleh Obama, kalau Love is Love. I’m totally agree with that. Who the hell are you to forbid someone in love. Tentang pilihan yang diambil ya itu resiko dan tanggung jawab dia sendiri.

Kalau banyak yang anti dengan gerakan dan undang-undang ini, sebenernya nggak aneh. Di tahun 1960an banyak orang kulit putih yang menolak dirinya disamakan dengan orang kulit hitam. Orang kulit putih yang tiap minggu ke gereja merasa dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit hitam yang cuma dikenal sebagai budak. Tapi lihat sekarang, apakah orang masih anti dengan orang kulit hitam dan mendiskriminasikan orang kulit hitam adalah sesuatu yang masih bisa diterima? I think it’s all the same thing. Time will change, people will be more open, and someday you (or your kid and your grandkid)  the one read this blog will be more open to something like this. If you are still opposing this, considering me as what you are in the next 10 or 20 years. Trust me 😀

Cerita Matahari Terbit Yang Mulai Tenggelam

Standard

10-15 tahun lalu, Jepang selalu menguasai dunia. Produk elektronik nomor 1 asalnya dari Jepang, mobil Jepang selalu berada dimana-mana, para anak muda trendy tergila-gila dengan budaya jepang, jpop, jrock. Film Jepang, dorama jepang, sampai serial anak-anak populer asalnya dari Jepang sebut saja Doraemon, Kamen Raider, Super Sentai, dll. Muncul pula restoran-restoran jepang termasuk fastfood fusion jepang dan chinese food Hoka-hoka Bento yang untungnya sampai sekarang masih berjaya.

Tapi waktu berlalu, jaman berubah. Kalau kata orang roda berputar dulu diatas sekarang dibawah. Negara tetangga Jepang seperti China dan Korea mulai bangkit sedangkan Jepang sendiri seperti berjalan di tempat. Kualitas produk Korea Selatan yang bisa menandingi produk Jepang menggantikan posisi brand Jepang untuk kalangan menengah keatas, sedangkan harga murah produk China berhasil menarik hati kalangan menegah kebawah. Jadi tingkat kompetisi brand Jepang pun semakin tinggi. Dengan harga barang Korea yang relatif lebih murah namun kualitasnya relatif sama, tentu saja orang lebih memilih produk Korea. Awal tahun ini diberitakan Sony menjual markas besarnya di New York sebesar $770jt   dan menyewa kembali gedung itu karena kerugian yang mereka alami.

Dari segi hiburan pun, belakangan ini Jepang mulai kalah pamor dengan hiburan Korea. Hallyu wave atau gelombang Korea yang boleh dibilang mengakar di anak-anak muda Indonesia menyisakan anak-anak generasi 90an-2000an awal yang masih tertarik dengan budaya Jepang.

Tak aneh akhirnya belakangan Jepang seperti mendekati Indonesia dari segi budaya. Berusaha kembali untuk meraih hati orang Indonesia melalui dunia hiburan. Di mulai dari pembentukan cabang pertama idol group terbesar AKB48 yaitu JKT48 di tahun 2011, lalu belakangan ini produser dari Kamen Rider bekerja sama dengan produser lokal memproduksi Kamen Rider versi Indonesia, Bima Satria Garuda. Entah kenapa di Indonesia dan bukan di Singapore atau Malaysia. Tapi kalau melihat statistik yang ditayangkan di TV Jepang tentang interest anak muda di Indonesia, anak muda di Indonesia secara angka katanya masih lebih tinggi ketertarikan dengan budaya Jepangnya dibandingkan dengan anak muda di Singapore, Malaysia atau negara asia lainnya.

Bahkan mulai hari ini Jepang membebaskan visa untuk kunjungan dari WN Malaysia dan WN Thailand untuk meningkatkan pariwisata mereka. Sayangnya Indonesia hanya kebagian extension day dari 15 hari menjadi 30 hari dan nggak free visa.

Tapi jujur gue masih lebih tertarik dengan Jepang dibandingkan dengan Korea. Mungkin karena gue anak taon 90-an hahah. Gue lebih memilih untuk pergi travel ke Jepang dibandingkan ke Korea Selatan. Gue lebih memilih untuk makan makanan Jepang dibandingin makan makanan Korea. Tapi seperti judul blogpost gue ini. Apakah si Matahari Terbit masih bisa menerbitkan kembali mataharinya lebih tinggi dari negara-negara tetangganya yang lain? Ataukah semakin meredup sampai tenggelam?