Gay Marriage, Straight Marriage…

Standard

Tanggal 26 Juni 2013, Supreme Court US memutuskan kalau pasangan sesama jenis di Amerika memiliki hak yang sama dengan pasangan berlainan jenis untuk dapat menikah dan dicatatkan pernikahannya di catatan sipil dan mendapatkan pengakuan hukum. Most of peoples are happy celebrating the news, walau nggak semua senang dengan keputusan ini. Masih banyak juga orang-orang yang belum terbuka dan menentang pernikahan sesama jenis di Amerika. Buat gue gay is not something related to lifestyle. Yaa mungkin ada. Tapi gue lebih percaya gay sebagai sesuatu yang ada sejak lu lahir. Tapi Tuhan kan nggak menciptakan adanya gay? Yaa i won’t argue on that. Tapi logikanya begini, kalau memang sexual orientation bisa berubah-ubah, it’s mean that me and you who read this blogpost, punya kemungkinan untuk berpindah sexual orientation dong? Yang tadinya misalnya lu cowok straight yang suka sama cewek, lalu oneday bisa suka sama cowok juga? Lu yakin? Kalau lu yakin ya mungkin lu ada kecendrungan gay 😀 tapi kalau lu aja gak yakin lu bisa menjadi gay, gimana mungkin lu bisa berpikir orang lain bisa berubah sexual orientationnya? Anyway…intinya gue ga percaya seseorang bisa merubah sexual orientationnya. Kalau emang udah straight ya straight, kalo emang gay ya gay, kalo emang dasarnya bisexual, ya udah bisexual. Gak ada namanya seorang gay bisa sembuh dan jadi straight menikah punya anak. Yang ada mungkin ya yang in denial. Lagian emangnya buat kalian yang cewek-cewek, masih mau menikah dengan seorang cowok yang ngaku kalo dia dulunya gay? Jadi ngelantur gini haha. Kalau emang ada cowok suka sama cowok, ya udah gpp, kalo emang cewek suka sama cewek ya udah gpp juga. Kalo emang cowok suka sama cewek ya berarti bagus. Tiap orang punya beban masalahnya masing-masing. Gue yakin yang gay pun kalau bisa menjadi straight pasti mau jadi straight. Asal jangan membohongi orang dan diri sendiri dengan berusaha menjadi straight menikah dan punya anak. Lha kan bagus dong bisa menikah dan punya anak? Yeahh…pret…i don’t trust something good comes from lying. Tapi menurut gue walau it’s okey for you to be gay. Nggak perlu juga sampe menikah. Gue memang sadar marriage bill yang diubah Supreme Court US ini semata-mata untuk memberikan pengakuan buat homosexual. Pengakuan atas hak yang sama. Tapi it’s still unnecessary.  Lagian gue dari dulu nggak terlalu mengganggap penting yang namanya pencatatan sipil dalam pernikahan. Mau itu straight atau gay, pesta perkawinan, surat kawin, apapun itu menurut gue nggak penting. Yang penting dari suatu pernikahan menurut gue adalah bagaimana 2 orang itu bisa berkomitmen satu sama lain, setia satu sama lain di hadapan Tuhan bahwa yang satu nggak akan meninggalkan yang lain. Nggak peduli berapa ratus juta yang lu perlukan untuk mengadakan pesta. Nggak peduli berapa banyak yang datang ke pesta lu, nggak peduli seenak apapun makanan yang disuguhin. Nggak ada artinya kalau 2 orang ini nggak yakin satu sama lain dan nggak punya pondasi hubungan yang kuat. Jie bahasanya *ditimpuk*. Kalau di gereja, setiap mengucapkan janji menikah di hadapan Tuhan, selalu disebut “bersediakah anda berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang”. Tapi nyatanya nggak selalu begitu kan. Ada yang baru menikah si istri nggak bisa punya anak, udah nyari perempuan lain. Udah punya uang sedikit aja, cari selingkuhan. Ketika suami nggak bisa dapetin uang yang diharapkan, banyak ngeluh dan protes sampe akhirnya sering berantem satu sama lain, masih inget janji nikah dulu gak? Makanya itu menurut gue hubungan romantis antara 2 orang mau itu cewek dengan cowok, cowok dengan cowok, atau cewek dengan cewek yang nomor satu itu adalah komitmen. Percuma kalau lu seorang straight, suka mencemooh pasangan gay tapi ternyata pasangan gay itu lebih setia satu sama lain dan lebih pengertian dibandingkan lu ke pasangan lu, malu sendiri kan? Jadi buat gue menjadi manusia nggak dinilai dari apa yang terlihat, apa yang lu suka, apa preferensi sexual lu tapi nilai dan integritas orang itu. Integritas terhadap pasangan dan diri sendiri. Berani berjanji untuk setia di hadapan Tuhan di tahun begini dianggap angin lalu, orang lebih takut sama hukum yang dibuat oleh pemerintah. Maybe that’s what we all should think, whether you straight or gay. Emang gampang sih ngomong karena gue belum ngalamin dan berkomitmen seperti itu, tapi ya semoga aja gue nggak terperosok di masalah yang sama. Aminnn 😀 —

UPDATE 27/06/2015

2 tahun kemudian, tahun 2015 di tanggal yang sama, Supreme Court melegalkan pernikahan sejenis di semua negara bagian di Amerika Serikat. Yang gue nggak suka bukan pernikahan sejenisnya, tapi cara kebanyakan orang Amerika memperlakukan pernikahan itu sendiri. Mungkin bisa dilihat disini:

Atau pernikahan massal ketika Grammy Awards 2014:
Siapakah RuPaul atau Queen Latifah bisa meresmikan suatu pernikahan? Pernikahan jadi seperti nggak ada nilainya. Semua orang bisa meresmikan pernikahan. Meh…

UPDATE 28/06/2015

Setelah 2 hari ini banyak yang posting berita tentang ini, gue jadi mikir, sebenernya marriage equality ini bukan cuma semata-mata omongin tentang marriage. Tapi juga sebagai acknowledgement dari negara (USA) bahwa hubungan selain bersama lawan jenis diakui oleh negara. Ini yang penting selain ya pernikahan itu sendiri. Bahwa mau apa pun pernikahannya (sesama jenis, lawan jenis, beda agama, beda ras, beda physical) semua berhak mendapatkan hak yang sama dan diakui oleh negara jadi sesama warga negara nggak boleh nentang itu. Sama seperti yang dikatakan oleh Obama, kalau Love is Love. I’m totally agree with that. Who the hell are you to forbid someone in love. Tentang pilihan yang diambil ya itu resiko dan tanggung jawab dia sendiri.

Kalau banyak yang anti dengan gerakan dan undang-undang ini, sebenernya nggak aneh. Di tahun 1960an banyak orang kulit putih yang menolak dirinya disamakan dengan orang kulit hitam. Orang kulit putih yang tiap minggu ke gereja merasa dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit hitam yang cuma dikenal sebagai budak. Tapi lihat sekarang, apakah orang masih anti dengan orang kulit hitam dan mendiskriminasikan orang kulit hitam adalah sesuatu yang masih bisa diterima? I think it’s all the same thing. Time will change, people will be more open, and someday you (or your kid and your grandkid)  the one read this blog will be more open to something like this. If you are still opposing this, considering me as what you are in the next 10 or 20 years. Trust me 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s