#TourDeMuseum 1

Standard

Woohoo bermula dari obrolan-obrolan waktu lembur beberapa minggu lalu, akhirnya Sabtu (06/07) kemaren kita bertualang di Kota Tua dari satu museum ke museum lain. Nggak banyak sih emang cuma 3 museum tapi sangat berkesan. Awalnya sih nggak nyangka jalan-jalan ke museum di Jakarta bisa seseru ini, tapi ternyata seru lhoo..

Gue tinggal di daerah Kota, tapi seumur-umur nggak pernah yang namanya masuk ke Museum Sejarah Jakarta yang ada di Fatahillah. Sering banget lewat depan Museum Mandiri atau Museum Bank Indonesia, tapi nggak pernah sekalipun ngunjungin hahah. Sepertinya sih emang karena kurang promosi bahwa museum sekarang udah jauh berbeda dengan museum2 jaman dulu. Yah emang sih masih kelihatan sana-sini nggak terawat tapi overall ada peningkatan lah.

kota

Kita ber-6 ngumpul di Fatahillah jam 8.30. Museum Sejarah Jakarta sendiri bukanya baru jam 9 pagi. Orang-orang udah berkumpul di sekitaran Taman Fatahillah. Yang paling sering dikerubungi adalah si Noni Belanda dengan hanya bermodalkan baju putih khas noni eropa, payung putih dan wajah yang diputihin, orang-orang bisa berfoto sama dia dan sebagai imbalannya ya bisa kasih uang seikhlasnya aja ke dia. Banyak lho yang foto sama dia ini termasuk foreigner2 yang jumlahnya banyak di Kota ini.

Untuk masuk ke Museum Sejarah Jakarta, orang dewasa dikenakan tarif masuk sebesar IDR. 5000. Cukup murah sih. Museum ini kalo boleh jujur agak kurang terawat, emang sih bersih tapi karena ini yang mengelola Pemda rasanya perawatannya masih kurang. Beberapa koleksinya berdebu, banyak sign yang udah robek karena hanya pake kertas di tempel.

Koleksi Museum ini beragam, di lantai dasar, kebanyakan berisi sejarah kota Jakarta secara umum. Mulai dari jaman kerajaan dulu (ada prasasti-prasasti dan alat-alat manusia purba gitu), lalu perkembangan kota Jakarta juga ditampilin. Dibagian atas ada ruangan-ruangan kamar mungkin petinggi Belanda jaman itu. Ada lemari-lemari, meja tulis, ranjang, ukir-ukiran kayu dari jaman abad ke 18 (1700an). Dan luar biasanya furniture-furniture kayu itu masih terlihat kuat. Mungkin karena kayu yang dipakai sangat bagus sehingga masih terlihat baik sekali.

msj-furniture

Setelah berjalan-jalan didalam ruangan kita bisa keluar lapangan tengah. Di tiga museum yang kita kunjungi, semuanya memiliki lapangan dibagian tengahnya. Mungkin dulu semua gedung-gedung memiliki kewajiban membuat lapangan terbuka kali yah, nggak kaya sekarang dimana depan kanan kiri belakangan isinya gedung semua.

Di sayap kiri, ada ruangan pameran sepertinya untuk menyambut HUT Jakarta ada pameran tambahan di sini. Amazingly ada penempakan menarik. Ada LCD berbentuk seorang perempuan dimana kalau dilihat dari jauh kaya orang beneran, tapi sebenernya ini adalah LCD projector. Bentuknya dibuat sesuai dengan postur tubuhnya. Menarik.

led

Sebelum sampai lapangan, kita sempet nanya dimana letak penjara bawah tanah dengan bahasa Indonesia tentunya. Tapi entah kenapa beberapa saat kemudian ada seorang petugas datang dan dengan pedenya tuh orang menjelaskan lokasi penjara itu ke gue dengan bahasa Inggris. Okeii gue nggak fokus dia ngomong apa, karena selama dia ngobrol gue berusaha nggak ketawa. Begitu udah kelar, kita jalan kelapangan dan ketawanya pun langsung meledak, dia nggak tau kalau gue ini orang Indonesia juga. Dikira orang Jepang/Korea kali *ngarep*

MuseumSejarahJakarta: Hermes

Disini ada 2 objek sejarah yang menarik untuk dilihat, 1 patung Hermes yang dulu adanya di jembatan Harmoni dan 1 lagi meriam si Jagur yang ujung meriamnya sangat kontroversial hahah. Ya gtu deh nih liat aja sendiri.

sijagur

Dipinggir-pinggir lapangan ada seperti tunnel. Tunnel ini ternyata adalah passage way dimana kanannya terdapat ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai penjara. Bentuknya sangat sumpek sih. Seperti dome gtu, tapi orang dewasa sih nggak akan bisa berdiri. Udah gelap, kecil tempatnya, nggak bisa berdiri. This is a real jail.

Setelah 1 jam berjalan-jalan di Museum ini, akhirnya kita pindah ke Museum BI. Letaknya nggak terlalu jauh, cukup jalan aja sedikit eh nyampe.

Di Museum BI ini pengunjung nggak dikenakan biaya apapun. Tapi walau nggak dikenakan biaya apapun, Museum BI ini menurut gue salah satu museum paling keren yang pernah gue liat. Emang sih gue juga nggak sesering itu ke Museum haha, tapi dibandingin terakhir kali ke Maritime Experiential Museum di Singapore pun menurut gue kalah dengan Museum BI ini. Diorama dan background cerita exhibitionnya dibuat profesional dan dipikirin dengan baik banget. Jadi nggak seadanya.

Di Museum Bi ini diceritakan gimana dari awal waktu pendudukan Belanda, bagaimana ada yang namanya Bank belanda pertama kali sampai jadi Bank Indonesia, terus masuk ke jaman kemerdekaan sampai ke jaman sekarang. Semuanya dikemas dalam bentuk cerita sejarah dimana kita masuk ke seperti exhibition bercerita seperti masuk ke lorong waktu gitu. Selain itu ada juga pameran-pameran uang dari jaman kerajaan dulu sampe uang sekarang di Ruang Numimastik (setelah gue google ini ternyata artinya adalah Koin).

museumbi-1

Patung-patung, diorama, dan background environment masing-masing exhibition dibuat bagus banget, patungnya terlihat real. Lalu ada beberapa exhibit yang memang di buat kreatif. Seperti penempatan seragam tentara dibawah lantai, exhibit perang dimana ada patung-patung pejuang sedang menodongkan senjata dengan efek cahaya yang bagus jadi orang-orang bisa foto-foto disana, lalu ada lagi di awal exhibition disaat jaman kerajaan ada kapal-kapal gede beserta teropong dan kompas jaman dulunya.

Puncaknya exhibition paling menarik adalah ruangan brankas berisi emas. Yaa emang bukan emas asli sih, tapi exhibition ini keren banget. Di tengah-tengah ruangan ada aquarium kaca dimana ada setumpuk emas batangan menarik mata. Dan di ujung ada experience zone dimana kita bisa coba merasakan untuk coba memegang emas batangan seberat 14 kg. Walaupun palsu, ini tetap bikin kita super excited 😀

museumbi-emas

Nah walaupun gratis (atau mungkin karena ini gratis) jadi museum ini petugasnya benar-benar strict dan menjalankan tugasnya dengan baik. Dan petugasnya bukan petugas sembarangan sih. Ketika ada yang melakukan pelanggaran seperti memasuki daerah yang tidak seharusnya dimasuki, langsung ada petugas yang menghampiri dan memanggil orang itu untuk keluar. Bagus sih menurut gue.

Overall experience di Museum BI ini yang paling berkesan.

Selanjutnya di sebelah Museum BI ada Museum Mandiri. Museum Mandiri ini tampilannya lebih kuno dan nggak terawat sih. Ya kalo dibandingin dengan Museum BI kalah jauh lah ya. Museum Mandiri ini isinya lebih ke pameran mesin-mesin dan perlengkapan-perlengkapan yang dipakai di perbankan dari jaman dulu. Ada mesin kasir yang segede-gede gaban, komputer, kalkulator jadul, server komputer yang gede banget, fax model awal, dan masih banyak lagi deh.

museum-mandiri

Ada 1 spot di Museum ini yang keren banget untuk foto-foto. Jadi di tempat ini dindingnya ditempelin komputer, laptop, dan cash register jaman dulu gitu yang ukurannya masih gede-gede. Karena letaknya di pas corner gitu jadi pas buat foto-foto.

photocorner

Tapi sayangnya museum ini kurang ada yang jagain, masalahnya lagi orang-orang Indonesia sebagian agak kurang otaknya. Seperti yang ini:

vandalism

Materi Informasi dicoret-coret, entah apa tujuannya. Kayanya penting banget meninggalkan jejak. Nggak ada perasaan sayang gitu dengan museum ini.

Selain itu yang bikin agak kesel itu ada banyak photo session dengan model dan para club photography di sini. Pertama, itu ngeganggu pengunjung karena satu block spot itu ditutup. Kedua, for God sake ini museum ya..punya catatan sejarah dan tinggi nilai sejarahnya, dijadiin tempat foto-foto model cantik dan agak sexy kan nggak proper aja. Nggak sopan. But anyway, some people are just thinking about themselves. 

museum-mandiri2

Oh ya untuk masuk ke Museum ini, pelajar (atau yang penting bisa nunjukkin kartu mahasiswa/pelajar aja) itu gratis tapi untuk umum dikenakan biaya IDR 2.000 setiap orang. Ya bolehlah ya. Tapi gue sih berharap si pengelola museum bisa lebih merawat museum ini. Karena koleksinya menurut gue banyak dan menarik, tapi seperti dijejerin gitu aja. Informasinya nggak terlalu banyak dan ya kaya pameran aja udah gitu. Sayang banget kan.

Tapi overall Tour De Museum kali ini sangat memorable, walau hanya memakan waktu 4 jam tapi banyak yang bisa kita dapetin, informasi, eye-entertaining exhibit, dan foto-foto pastinya. Next harus ada Tour De Museum 2, colek anak-anak AITINDO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s