Ospek, Mental, dan Bullshit

Standard

Satu hal yang bisa bikin gue instantly emosi adalah kalo denger ada berita tentang ospek, bullying, atau senioritas apalagi kalo sampe berakhir maut. Menurut gue nggak manusiawi aja kalo ada orang yang mengganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain sampe bisa-bisanya dia “menganggap” adik kelasnya itu lebih rendah atau dipelakukan semena-mena. Apalagi kadang aktivitas kaya Ospek atau LDKK itu diadakan oleh sekolah dan guru-gurunya tau kalo itu dilakukan tapi diperbolehkan for the sake melatih mental, which is verry bullshit buat gue. Mental seperti apa yang pengen dilatih? Gue nggak pernah dapet jawabannya. Apa untuk melatih mental anak-anak supaya tahan diomelin di kantor? Lah kantor apaan yang ngomel2in karyawannya? Yang gue tangkep malahan ospek ini akan melahirkan orang-orang yang sukanya ngomelin orang dan punya rasa senioritas tinggi ketika kerja, which is i hate much.

Apa yang bisa didapetin dari makan 1 permen untuk rame2? It’s disgusting. Atau apa yang bisa didapatkan dari seorang anak murid dipermalukan disuruh pake pakaian aneh-aneh? Apa bisa jamin kalo kerja dia mentalnya kuat? Nggak juga kan.

Maka itu gue dari SMA sangat benci dengan MOS yang dilakukan di SMA gue. Hal yang paling gue inget pernah gue lakukan ketika gue kelas 3 SMA adalah gue keluar kelas sendirian duduk didepan kelas disaat teman gue sekelas ngerjain 2-3 orang calon anggota osis didepan kelas. Gue yang keras kepala ambil 1 buku, keluar kelas sambil dongkol ngeliatin ada orang dibully. Bodohnya orang-orang itu dengan senang “dibully”. Itu akhirnya yang bikin gue juga nggak ikutan ospek sewaktu kuliah di Binus dulu. Pulang hari pertama orientasi, gue mutusin besoknya nggak mau lanjut. Dan gue nggak merasa pernah rugi nggak ikut ospek itu. Nggak perlu takut nggak bisa ikut UKM or whatever. Toh mereka nggak pernah inget.

Tapi itu juga jadi masalah di Indonesia. Sebagian anak-anak sekolah dan kuliahan itu senang sekali ikutan Ospek, MOS, LDKK, whatever it is. Katanya untuk mendapatkan banyak teman. Which is ridiculous. Lu akan punya banyak temen along the way. Tentang melatih mental, nanti waktu mulai kerja mental itu akan terlatih sendiri kok dan terasah dalam waktu yang lama, nggak dengan LDKK yang cuma 3-4 hari.

Kalo sekolah dan universitas punya pengertian dan buang jauh-jauh kegiatan ospek yang even di US udah ditinggalin sejak tahun 1950-an itu, mungkin nggak perlu ada lagi orang tua yang harus kehilangan anaknya hanya karena sifat tak berperikemanusiaan dari para senior. Bayangin anak yang dilahirkan, disayang, dan banyaknya harapan yang diimpikan si orang tua harus lenyap gtu aja.

Semoga nggak ada lagi kasus anak meninggal hanya karena kasus konyol Ospek dan Senioritas.

 

2 thoughts on “Ospek, Mental, dan Bullshit

  1. weri

    Gw setuju banget neh,,, kalo ospek atau mos itu bukan untuk melatih mental,,, melainkan menjadi ajang untuk balas dendam,,,
    Dan semestinya gak perlu ngerjain orang,, kalo emank mau melatih mental dan kreativitas,,, menambah teman,,, cukup dengan membuat kelompok dan berikan mereka tugas guru atau osis siapkan tema tugas yg mau si buat. Itu lebih baik drpd ngerjain orang,,, dan orang yang senang di buly pastinya mereka juga akan melakukan hal yg sama ke junior2nya kelak,,, karna bahi mereka ospek itu menyenangkan,,,,

    • Lama banget nih baru gue bales wkwkw, tapi ya wer, gue jadi kepikiran apakah lu dulu suka ngebully temen-temen lu? Sepertinya lu punya kecendrungan jadi tukang bully wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s