2 Days in Malacca

Standard

Minggu lalu gue menghabiskan waktu selama 6 hari berkelana sendirian lagi ke Singapore, Melaka, dan Kuala Lumpur. Oke yang ke Singapore dan Kuala Lumpur kita skip aja yahh, yang gue mau bahas sekarang adalah Melaka. Yakk..yang belum tau dimana itu Melaka, Melaka ada di Malaysia sekitar 2 jam perjalanan bus dari Kuala Lumpur atau sekitar 3 jam dari Singapore.

Gue menuju Melaka melalui Johor Bahru. Dari Singapore gue naik Bus dari Queen Street (dari Bugis MRT, cari exit yang keluar ke Queen Street Bus Terminal, jalan kaki aja nggak jauh dari MRT Stationnya) ke Larkin Bus Terminal di Johor Bahru. Gue naik bus Causeway Link yang memang khusus melayani travel dari Singapore ke Johor Bahru. Bus lainnya sebenernya banyak, tapi sebagian besar nggak langsung menuju Johor (berhenti2 di beberapa halte) dan nggak terlalu nyaman. Menurut review yang gue baca di internet, Causeway Link ini udah yang paling nyaman. Kode busnya CW2 melayani rute Queen Street-Larkin. Biaya bus sekali jalannya S$ 3.3/orang.

Setelah sampe Woodlands CIQ (perbatasan Singapore dan Malaysia sisi Singapore), kita semua harus turun, antri di imigrasi untuk keluar dari Singapore, lalu antri bus lagi. Susah sih untuk bisa dapet bus yang sama, tapi cukup cari bus Causeway Link lagi aja, langsung naik dan cuss menuju Johor Bahru. Nah perjalanan ke Johor Bahru ini kalo naik bus sih lancar jaya yah sekitar 1 jam, tapi kalau naik mobil sendiri antrian untuk masuk Johornya panjang banget. Mungkin karena hari itu minggu pagi juga. Dan seperti di Woodlands, di perbatasan Johor ini kita tetep harus antri imigrasi lagi. Nanti setelah keluar Johor, baru agak susah nyari bus ke Larkin. Agak susah karena mungkin di Johor ini nggak setertib di Singapore jadi harus agak nanya-nanya nyariin busnya.

Long story short, gue sampe Larkin, dan nunggu bus yang udah gue pesen dari minggu sebelumnya. Harganya RM 21 atau sekitar IDR 75.000. Murah banget dan busnya lumayan nyaman.

IMG_0125

KKKL Bus dari Johor Bahru ke Melaka

Perjalanan dari Johor Bahru ke Melaka ditempuh kurang lebih dalam waktu 2.5-3jam. Untungnya kemaren itu nggak macet dan karena busnya nyaman gue bisa tidur di sepanjang perjalanan.

Sesampe di Melaka Sentral gue pesen taxi dari counter taxi di Melaka Sentral menuju Hotel. Nah masalahnya di Melaka ini taxinya agak-agak kurang kredibel gitu keliatannya. But anyway mo gimana lagi. Gue akhirnya naik taxi dengan harga RM 20 menuju hotel gue di Swiss Garden Hotel. Tak disangka dan tak dinyana, ternyata hotel gue ini deket banget dengan Melaka Heritage City dan bagus banget. Hotelnya sendiri bintang 4 dan letaknya di atas mall satu-satunya di daerah Heritage, The Shores@Melaka, atau nama melayunya Pingggiran@Melaka (ini beneran serius, ada plang namanya gede-gede)

IMG_0129

Deluxe King Room @ Swiss Garden Hotel

Tapi emang kalo dipikir-pikir no wonder sih hotelnya bagus, orang 2 malam harganya IDR 800.000an hahah. Ya udah lah. Pada akhirnya gue merasa beruntung pesen hotel ini karena setelah 2 hari, nginep di hotel ini bisa jadi hiburan tersendiri.

Jadi kawasan Melaka Heritage Center (pusat wisata budaya Melaka), adalah bagian dari Chintown Melaka. Penduduknya ya mayoritas orang Tionghoa, dengan gue yang punya muka cina begini (alhamdullilah kali ini muka gue banyak dikenalin sebagai orang cina) selalu diajak ngomong mandarin. Iya sih ngerti dikit-dikit tapi tetep gue jawabnya tetep dengan Inggris hahaha.

Kotanya penuh dengan bangunan bernuansa Cina bercampur Melayu, Arab, dan India. Dan awalnya gue berpikir mungkin karena ini adalah hari minggu jadi kota ini sepi, tapi ternyata besok-besoknya di hari kerja pun kotanya tetep sepi mau itu pagi, siang, apalagi malam. Entah kemana perginya orang-orang di kota ini.

melaka

Melaka in day time

Di setiap weekend, di pusat Melaka Heritage City ini ada namanya Jonker Walk Night Market. Letaknya di jalan Jonker yang menjadi pusat dari Chinatown Melaka sendiri. Sekitar jam 5an para pedagang mulai memasang tenda dipinggir jalan, dan nggak seperti di Pagoda Street di Singapore atau Ladies Market di Hongkong, pedagang disini beneran hanya dagang di hari Jumat-Minggu. Dan jalanan ditutup dari akses mobil selama berlangsungnya Night Market ini.

Yang dijual pun beragam mulai dari buku, aksesoris gadget, minuman, makanan, souvenir, macam-macam deh pokoknya. Belum lagi ada pengamen, lalu ada sekumpulan asuk-asuk dan ayi-ayi (baca paman-paman dan bibi-bibi) pada karaokean. Suasananya beneran pasar rakyat banget.

melaka2

Makanan yang di jual pun unik-unik banget. Dan harganya juga terjangkau dan masih masuk akal.

melaka4

(1) Taiwanese Sandwich, instead pake roti ini pake gorengan campuran telur mata sapi dan tepung, isinya daging ham,  enakkk, RM 3
(2) Popiah, sebenernya mirip dengan lumpia goreng, RM 1.5
(3) Mochi kacang, RM 3
(4) Es Lime + Plum, RM 2
(5) Es Goyang, RM 1

Satu hal yang gue suka selain makanan dan ambiencenya, adalah orang-orangnya. Para penjual makanan, barang, dan jasa disini tuh humble banget. Mereka beneran bekerja untuk mencari uang untuk hidup, bukan untuk mengambil untung sebanyak-banyaknya seperti pasar malam di kota-kota lain.

melaka3
(1) Penjual Kue Lobak, kiosnya ini rame banget
(2) Pengamen yang suaranya nggak bagus tapi tetep berusaha untuk nyanyi dengan pedenya, inggrisnya pun berantakan, mungkin cuma gue doang yang suka ngelihat dia. Keesokan harinya gue lihat di pinggiran Melaka river jadi tukang pijat haha.
(3) Ahli nujum
(4) Pembuat kaligrafi nama mandarin bonus peribahasa dari nama kita 😀 Uniknya dia ini jari tangannya nggak berkembang sempurna.

Kurang lebih begitu kemeriahan dari Jonker Night Market. Dan overall ada 2 hal yang sangat excited ketika gue di Melaka, Jonker Night Market ini dan Melaka River Cruise. That’s all hahah. Melaka is fun, tapi menarik di weekend saja. Di hari biasa kotanya jadi seperti kota mati, sepi banget. Jadi lil tips from me, kalo mau ke Melaka di Jumat, Sabtu, atau Minggu aja, 2 hari aja cukup kok.

Dari kawasan Jonker Street ini, menuju Red Square itu deket banget, cuma beda 1 pengkolan aja :D. Dari ujung Jonker Street, belok kanan udah sampe di Red Square dengan Christ Church of Malacca sebagai landmarknya.

IMG_0262

Red Square

Di sebelah Christ Church of Malacca ada The Stadhuys, a.k.a Balai Kota waktu dulu masih penjajahan Belanda. Yah kurang lebih fungsinya sama dengan gedung yang sekarang jadi Museum Fatahillah di Kota. Sekarang gedung ini udah jadi Museum etnografi. Tapi gue ga sempet masuk-masuk ke dalam juga sih 😀

IMG_0274

Christ Church Melaka

Nah kawasan Melaka Heritage City ini sebenernya terletak di pinggir sungai Melaka, jadi sepanjang kita berjalan kaki, kita bisa lihat sungai melaka. Termasuk juga Fort of Melaka dan Kincir raksasa jaman penjajahan dulu.

IMG_0277

Jalan lagi ke ujung ada hotel Casa Del Rio. Hotelnya oke banget dan kalo di cek di Agoda harga permalamnya sekitar $212. Yah worthed sih kalo lihat pemandangan dari kamarnya yang menghadap sungai Melaka.

IMG_0282

Sebelah kanan hotel Casa del Rio, sebelah kiri ticket booth Melaka River Cruise

Pas di sebelah hotel ini ada Melaka River Cruise (kalo di foto atas tuh yang tenda putih sebelah kiri). Dari port ini kita bisa menyusuri sungai Melaka selama 45 Menit dari titik ini ke Spice Garden dan balik lagi ke titik ini. Dan karena siang hari itu terik banget, gue memutuskan untuk balik lagi sorenya di sekitar jam 5-6an.

Kapalnya sih nggak gede-gede banget, tapi seru secara kita beneran mengelilingi sungai Melaka. Dan karena sore, dengan suasana menjelang matahari tenggelam, pemandangannya juga oke banget. Suasana masih terangnya dapet,  suasana malam harinya juga dapet :D.

melaka5

Melaka River Cruise in the evening

Naik Melaka Cruise ini harganya RM 15an untuk local, dan RM 21an untuk turis luar. Entah kenapa gue di charge RM 15an padahal gue udah bilang dari Indonesia pas gue nanya dari mana. Mungkin karena muka gue local atau emang charge RM 21an untuk turis muka bule aja. Entahlah. Hahahah. Overall Melaka River Cruise ini recommended banget, rugi kalo ke Melaka tapi nggak naik River Cruise ini.

Di sebelah River Cruise ada namanya Maritime Museum, bentuknya seperti kapal. Kapal ini adalah replika dari kapal portugis Flora de la Mar, yang karam di Selat Malaka ketika menuju pulang ke Portugal. Gue juga gak sempet masuk-masuk ke dalam.

IMG_0288

Melaka Maritime Museum, Flora de La Mar replica

Pengalaman di Melaka ini menarik sih, tapi as i said before, nggak perlu lama-lama kalau mau mengunjungi Melaka. Cukup 2 hari di saat weekend dan tinggal di kawasan Melaka Heritage City (daerah pinggir sungai Melaka) jadi nggak perlu naik taxi bolak-balik ke kawasan ini, karena emang kawasan wisata budaya Melaka cuma ada di kawasan ini.

Sekian perjalanan saya ke Melaka bulan ini. See you on next travelling post on October 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s