Kebebasan Beragama

Standard

Pasal 29 E Ayat 2: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Yaa, itu isi UUD 1945 yang dari sejak kecil diajarkan di sekolah. Coba yah ditelaah baik-baik: menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan kepercayaannya itu. Artinya apa? Coba ya kita telaah satu per satu.

Merdeka menurut KBBI artinya adalah bebas; berdiri sendiri; tidak dihambat; tidak dijajah.

Berarti kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing berarti kebebasan tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing.

Menjadi masalah di bumi Indonesia ini, mau yang kaya mau yang miskin, mau yang di kota mau yang di desa, mau agamanya islam mau agamanya kristen, kalo udah masalah pindah agama, kebanyakan udah langsung mengerinyitkan dahi. Dan kalau kalian baca blog gue ini sampai habis, kemungkinan lu akan bilang gue atheist. Which i don’t care cause i’m not 😀

Menurut gue agama itu adalah masalah pribadi antara kita dengan Tuhan. Dan itu adalah hak dia sebagai individu untuk memilih dan menjalankan agamanya itu. Jadi menurut gue, kalau ada orang yang menggerecoki agama orang lain, itu sama aja dengan kita menggerogoti hak dia sebagai individu. Menggerecoki itu bisa berupa banyak hal: Tak senang kalau ada yang pindah agama dan anti ke orang itu, melakukan usaha untuk mempengaruhi orang menjadi percaya dengan agama lu, menggerecoki orang yang pacaran beda agama, banyak lah bentuknya.

Pindah Agama

Di Indonesia, nggak ada yang bisa ngalahin masalah Pindah Agama, apalagi kalau pindahnya dari kristen ke islam atau islam ke kristen. Di kolom comment video seorang aktor terkenal yang convert to christian yang tersebar baru-baru ini, isinya nggak jauh-jauh dari dia dikatakan murtad oleh user moslem, dan diselamatin dan diberi ucapan bahagia oleh user kristen. But what’s the point? It’s like gue pindah kerja lalu teman-teman kantor gue jelek-jelekin gue dan teman-teman kantor baru gue senang walau nggak kenal. Padahal temen-temen kantor gue yang baru itu aja gak tau gue itu di kantor nanti akan jadi orang seperti apa. Kalau gue besok nyuri inventaris kantor gimana? Dan kenapa teman-teman kantor gue menjelek-jelekkan gue? Toh kalo gue lebih sreg di kantor baru dan hidup gue lebih settle karena kebutuhan gue tercukupi, apalah hak mereka untuk melarang gue?

Itu semua sebenarnya ego. Ego gue jadi makin tinggi kalau ada artis yang sekarang agamanya sama kaya gue. “Whoaa dia sekarang agamanya Kristen. Sama kaya gue”. Ego gue akan jadi terganggu kalau ada yang meninggalkan agama yang gue anut. “Kenapa emang lu pindah? lu anggep agama lama lu salah?” Jadi, kita harus bisa membedakan mana ego kedagingan dan mana hikmat, kalau ego ini yang dibawa dan dikasih makan terus, then it will be a disaster. Kalau gue, gue lebih seneng ada orang bertobat dari yang bandel jadi anak baik, dari yang jahat jadi kenal dan berbuat kebaikan. Lukas 15:10, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

Mungkin nggak semua orang bisa menerima ini. But, for me religion is how each human individually communicate with God. Setiap orang punya caranya masing-masing dan tergantung dia sregnya gimana. Kita nggak bisa judge kalau cara beribadah dia salah. Kecuali kalau cara beribadahnya itu udah mengarah ke kriminal. Ambil contoh Kristen Injili vs Kristen Kharismatik atau Islam Suni vs Islam Syiah. Gue nggak bilang Kharismatik salah, tapi emang gue nggak cocok dengan pengajarannya. Tapi kalau ada yang menjadi pengikutnya ya nggak salah dong. We can’t push someone to follow what we believe. Tapi kalau tiba-tiba ada sekte yang mengharuskan jemaatnya ngumpulin duit dan jual rumah untuk Gereja kan udah jelas ini kriminal. Itu yang harus dihindari. Jadi menurut gue mau agama apapun, mau aliran apapun, seharusnya nggak menjadi masalah. Balik lagi ke cara pikir kita masing-masing.

Agama Sendiri Paling Bener

Ya nggak salah sih istilahnya. “Agama gue itu agama paling bener” tapi ada lanjutannya… “menurut gue”. Agama paling bener untuk orang lain ya mungkin beda. Tapi gue kan nggak bisa bilang ke orang lain “Agama gue itu paling bener, maka semua orang di muka bumi ini harus mengikuti agama gue”. Coba bayangin di dunia ini tercatat ada 21 chunk aliran kepercayaan besar belum lagi ada ratusan sub-sub kepercayaan dibawahnya. Kalau semua orang punya prinsip begitu, yaa jadilah yang namanya Perang.

False Evangelism

Gue sangat tidak suka dengan penginjilan untuk menarik orang yang belum percaya (sebagai Kristen) apapun itu namanya. Menurut gue kalau orang tua gue masih Budha ya udah itu kepercayaan mereka kok. Kalau teman-teman gue banyak yang Muslim, ya so what? Mereka tekun beribadah kok. Gue malah feeling guilty kalau gue melakukan penginjilan ke mereka. Penginjilan itu menurut gue ditujukan untuk orang-orang yang tersesat, orang yang belum memiliki kejelasan agama, doing something wrong, atau dengan keinginan sendiri ingin belajar Kristen. Maka dari itu menurut gue melakukan penginjilan ke orang-orang nggak boleh sembarangan. Kesalahpahaman di kalangan kristen sendiri ini yang akhirnya menimbulkan istilah Kristenisasi. Mengkristenkan orang-orang. Nggak salah kalo muncul istilah ini karena emang akhirnya itu yang dituju.

Pacaran Beda Agama

Nah ini juga. Common talks kalau ada seorang pacaran berbeda agama “Nanti lu bisa ditarik ikutin agama dia”. Apakah iman kita secetek itu hanya karena cinta terus mau pindah agama? Jadi inget istilah “Tuhan aja lu tinggalin apalagi nanti gue”. Gue setuju kalau menikah/pacaran harusnya yang seagama. Kalau ada pasangan yang agamanya sama, dan keduanya sama-sama saling mendukung dalam kegiatan beribadah, dan sama-sama supportive buat gue itu udah paling ideal dan emang harusnya begitu. Tapi masalahnya kan nggak selalu begitu dan kalau nggak begitu pun still fine. Balik lagi menurut gue agama itu individually banget. Menurut gue lagi, ketika menikah dan disebutkan di Efesus 5:31 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah-ibunya untuk bersatu dengan istrinya, dan keduanya akan menjadi satu.” Menjadi satu disini itu bukannya proses FUSION (menggabungkan 2 hal menjadi 1 hal yang baru), tapi lebih ke menyamakan visi, menyamakan 2 entitas ke 1 entitas bernama keluarga. Kenapa nggak FUSION? Karena tetap aja setelah menikah, lu akan menjalankan hidup lu masing-masing, tapi bedanya lu nggak menjalankan itu sendiri. Tetep aja kalau berbuat dosa, dosanya masing-masing. Kalau makan yang jadi lemaknya juga masing-masing nggak bisa nitip ke pasangan. Kalau punya perasaan sedih, sedihnya juga masing-masing. Jadi kepercayaan pun harusnya tetep masing-masing. Bahkan kalau seagamapun, tingkat religiousitasnya akan beda-beda pula.

Menjadi masalah malahan buat gue kalau ada yang pindah agama hanya karena cinta, karena berarti dia mempermainkan agama. Agama dianggap hal kedua yang lebih penting ketimbang Cinta. Meh…

Kesimpulannya Kebebasan Beragama itu jauhh lebih dalam dari sekedar permasalahan 1 aliran tertentu nggak boleh beribadah di suatu tempat. Ada kalanya kita selalu protes kalau kita ngga boleh beribadah, kenapa gereja itu nggak bisa beribadah, kenapa di gedung itu nggak disediaiin mushola untuk sholat, TAPI apa kita pernah introspeksi kalau kita melarang orang untuk pacaran beda agama, mempengaruhi orang untuk ikut agama kita, protes kalau ada orang pindah agama itu sama aja kelakuannya dengan tindakan orang-orang itu?

Dan balik lagi semua hal diatas adalah hasil pemikiran gue semata-mata. Apa yang gue percayai dari apa yang gue lihat, pelajari, dan rasakan. Kalau nggak setuju ya udah ga pa-pa kok. 😀

2 thoughts on “Kebebasan Beragama

  1. Yup, betul. Yang terusik adalah ego kita sendiri. Tapi demi muka sendiri, mengatasnamakan Tuhan. Kalo Tuhan bener cuma 1 agama, artinya bego banget kalo Dia ciptain agama/kepercayaan lain dan bikin ciptaannya ribut mulu, bahkan saling menyakiti n bunuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s