Tips Jalan-Jalan Hemat

Standard

Sesuai dengan janji gue kemarin, gue mau berbagi bagaimana caranya bisa jalan-jalan dengan hemat. Tapi perlu diinget dulu nih, gue sebutnya Hemat bukannya Murah. Nggak selalu yang murah itu ujungnya menguntungkan apalagi di dunia bisnis jalan-jalan haha, scroll ke bawah terus nanti bisa nemuin jawabannya.

GENERAL

Jalan-jalan di saat Offpeak

Ini udah jelaslah yah kalau lagi musim liburan besar seperti akhir tahun ya jangan berharap untuk dapat tiket dan hotel murah. Pilih tanggal dimana tanggal tersebut adalah hari kerja. Beberapa keuntungan lain selain harga lebih murah adalah attraction yang kamu kunjungi nggak rame sehingga kamu bisa lebih menikmati jalan-jalan kamu. Pilihan hari juga menentukan, pilih hari Senin-Rabu untuk harga lebih murah.

Travel Light

Bawa baju seperlunya, kalau bisa usahakan baju/celana itu bisa dipakai lebih dari sekali terutama kalau lokasi wisata kamu lagi musim dingin, bisa banget di reuse. Yang pasti bisa di reuse adalah pakaian tidur. Dengan bawa sedikit barang, kamu nggak perlu beli bagasi kalau naik budget airline, kamu juga ga perlu ribet-ribet harus bawa koper segede gaban kalo kemana-mana.

Oleh-Oleh

Kebiasaan di Indonesia, oleh-oleh kalau abis jalan-jalan itu kaya kewajiban banget. Tapi inget tujuan kamu jalan-jalan bukannya untuk beli oleh-oleh. Jadi utamakan dulu budget dan waktu kamu untuk jalan-jalan setelah itu kalau ada waktu dan budget lebih baru dibelikan oleh-oleh.

PENERBANGAN

Join di group Backpackers Dunia

Group FB Backpackers Dunia ini isinya backpacker-backpacker yang aktif berbagi info termasuk info penerbangan murah. Nah dari sini biasanya gue dapat info promo penerbangan murah.

LIKE Fanpage Facebook Account Airline

Nah ini juga wajib dilakukan, untuk penerbangan budget terutama seperti AirAsia, mereka selalu menginformasikan penerbangan murah di fanpagenya. Jadi sering-sering aja buka facebook airline-airline budget.

Beli tiket jauh-jauh hari.

Jangan berharap bisa beli tiket murah 2-3 bulan sebelumnya. Tapi kan kalau terjadi apa-apa gimana udah beli tiket 1 tahun sebelumnya? kan sayang? Yah namanya juga tiket murah, sudah resiko. Toh mereka juga sebenarnya “rugi” karena kasih harga tiket lebih murah dari harga normalnya. Win-win lah 😀

Hindari beli tiket paling malam

Tiket murah itu biasanya ada di tiket paling pagi, atau paling malam. Nah hindarkan beli tiket yang sampai di lokasi sudah malam. Iya sih tiket kamu itu memang murah, tapi kalau sampai di tempat tujuan hanya untuk numpang tidur kan sama aja bohong, kamu harus bayar akomodasi 1 malam di hotel/hostel

AKOMODASI

Usahakan tidur yang normal walaupun budget ketat

Gue sering baca pengalaman orang yang suka tidur di Airport. Nggak salah sih, apalagi kalau kamu merasa stamina kamu cukup kuat untuk tidur kurang nyaman. Tapi bayangkan kamu di keesokan harinya harus berjalan dan menikmati tempat-tempat yang indah, kalau badan kamu nggak fit hanya untuk hostel yang harganya 200-300rb itu nggak sepadan. Terlalu mahal harga waktu kamu untuk sekedar capek-capekan.

Pilih Hotel, Hostel, Resort, atau cukup Airbnb

Yang namanya penginapan itu nggak tok cuma Hotel aja titik. Ada banyak tipe dan penggunannya juga beda-beda. Kalau kamu tujuannya mau bulan madu, pastinya pilihan Resort atau Hotel berbintang nggak salah. Karena kamu akan menghabiskan waktu lebih banyak di hotel/resort, jadi nggak salah pilih. Sebaliknya apabila kamu niatnya jalan-jalan untuk menikmati daerah tersebut, pilihan hotel bintang 1, hostel, atau airbnb sudah cukup. Kamu tak butuh tempat gym, kolam renang, tempat spa karena sebenarnya akomodasi beneran cuma buat numpang tidur. Perbedannya cuma apakah kamu butuh privacy atau nggak. Kalau butuh booking private room di hostel atau hotel murah, kalau kamu open terhadap privacy yah di boarding room hostel juga cukup hehe. Tips tambahan, cek-cek juga Airbnb, gue berhasil mesan sebuah private room di sebuah hostel di NYC dengan harga 400rban rupiah sehari padahal aslinya bisa 1jtan. Very good deal

Cek harga di berbagai website termasuk website penginapan itu sendiri

Kadang ada kalanya website-website seperti Agoda, HostelBookers itu harganya lebih mahal daripada yang ditawarkan website penginapannya sendiri. Entah kenapa bisa begitu. Selain itu Agoa juga suka mengadakan promosi bareng AirAsia atau BCA. Kalau kamu pengguna BCA atau AirAsia bisanya ada promo harga khusus atau penambahan point reward.

Lihat reviewnya di TripAdvisor

Nah setelah pilih penginapan, cek juga review dan rankingnya di TripAdvisor. Memang sih murah tapi biasanya harga sebanding dengan kualitas, jadi make sure penginapan yang kamu pilih masih bisa diterima sama kamu. Karena standard orang kan beda-beda. Makanya gue selalu cek review dari orang yang beri nilai 2 atau 1, jadi bisa kelihatan komplainnya dia sesuai gak sih dengan gue. Kalau memang masih bisa ditolerir yah udah lah gpp.

Cek Cancellation Policy

Sebelum pesan, cek Cancellation Policy-nya. Apakah dia bisa refund 100% kalau kita batal pergi? Kebanyakan dari website-website seperti Agoda memberikan opsi ini kok.

ATRAKSI

Cek tipe tiket yang tersedia

Setiap atraksi hiburan terkadang punya beberapa pilihan paket tiket yang berbeda. Misalnya: Disney Land dan Disney Sea Tokyo punya tiket yang namanya After 6 dan Starlight, After 6 berarti tiketnya hanya bisa dipakai diatas jam 6, sedangkan Starlight hanya bisa dipakai di sabtu malam. Dengan waktu 4-5 jam kamu bisa dapatin harga diskon sekitar 60% dari tiket harga 1 hari. Gue pernah pakai After 6 di Disney Sea dan Disney Land Tokyo. Ini menghemat pengeluaran banget, karena untuk gue mengunjungi 1 taman dalam waktu 4-5 jam lumayan cukup untuk main games-games yang gue mau.

Cek Harga Online vs On The Spot

Selain mengecek jarak lokasi di website atraksi yang kamu mau kunjungi seperti yang pernah gue tulis disini. Hal lain yang juga patut dipertimbangkan adalah harga tiket masuk saat beli langsung di tempat vs beli online. Most of the time, harga online lebih murah dibandingkan on the spot. Gue sih selalu beli tiket online karena selain lebih murah, juga nggak perlu antri untuk mengunjungi atraksi itu, lebih hemat waktu.

Cek Harga Online vs 3rd Party

Kalau sudah dapat harga murah antara online dan on the spot, jangan cepat puas hehe. Beberapa negara menyediakan attraction pass. Contohnya: Singapore Tourist Pass (https://singaporecitypass.com), NY  Pass (http://www.nypass.com). City pass begini sistemnya kamu bisa ngunjungin unlimited attraction yang ada di list mereka tergantung kamu belinya untuk berapa hari. Kalau mau menggunakan City Pass begini, itinerary kamu harus detail banget (ini cara gue bikin itinerary yang detail), sehingga bisa tahu dalam sehari kamu mau kemana aja. Lalu compare deh kalau beli ketengan vs paketan lebih murah yang mana. Tips ini tricky banget, kamu harus beneran jeli hitungnya supaya nggak rugi.

Sementara itu dulu, tapi list ini selalu akan gue update, buat yang punya tips berhemat selama travel lainnya boleh lho share di kolom comment. Thank You 😀

image courtesy: https://www.flipkey.com/blog/2014/09/25/top-25-budget-travel-bloggers-to-follow-in-2014/

 

Keyword Pencarian Blog Gue di 2015

Standard

Oke gue jadi ketagihan nulis blog selama liburan haha.

Nah buat yang belum tahu, WordPress bisa detect orang masuk ke blog kita melalui keyword apa dari Google Search. Hal ini tentunya ditentukan dari content web kita masing-masing. Nah setahun ini ada beberapa keyword lucu (baca: aneh) yang masuk ke blog gue ini. Sedikit banyak ada hubungannya dengan content di web gue emang.

“pelayan tuhan jg manusia biasa”

Ini mungkin karena dia lagi terbeban jadi pelayan Tuhan, jadi butuh pembenaran, untungnya memang dia dapat pembenaran di post gue yang ini: https://borisleeanto.wordpress.com/2012/06/04/christianity-menjadi-pelayan-tuhan/

“gue nggak mau jadi gay”

Ya udah, trus mau jadi apa kalo gitu?

“jpcc gereja gaul orang kaya”

Nah ini stigma, hanya karena jemaatnya terlihat lebih makmur, bukan berarti juga di stigma kalau JPCC gereja orang kaya apalagi gaul kan?

“kamen rider tenggelam”

Kenapa? Kenapa harus nyari kata ini? 😀

“jpcc gereja kristen atau katolik”

Kristen mas

“pemusik gereja ganteng”

Duh mba, ke gereja hanya untuk lihat pemusiknya yang ganteng doang ya?

“wl cantik greja”

Yah, sama aja ini 😀

“gay in denial bisa gak ya suka sama cewek”

Udah jelas in denial gimana bisa suka sama cewek?

“gue cina ga bisa mandarin”

Gpp bro, banyak yang ga bisa mandarin, gue juga ga bisa

“katolik dan kristen bisa gereja di jpcc”

Ya bisa aja ga ada yang larang 😀

“sumpek”

Nah bingung gue kenapa ada orang lagi sumpek ke blog gue. Lagian kalo sumpek biasa buka youtube gitu kan, nggak googling nulis sumpek…

“mengapa orang cina selalu di diskriminasi di negara negara”

Yah mau gimana yah, namanya juga minoritas 😀

“kecewa gereja karismatik”

Ya udah pindah aja ke Injili 😀

“kaya orang bego di gym”

Hm..coba pake PT bro supaya ga kaya orang bego di gym

Kesimpulan dari tahun 2015 ini, banyak yang masuk ke blog gue dengan keyword yang berhubungan dengan JPCC (lebih ke curious ttg JPCC itu sendiri), Gay (either gay yang mau jadi straight, atau gay yang berharap ada gebetan straightnya yang jadi gay) :D, Tentang Chinese (diskriminasi, bahasa), sisanya ya gitu deh ga ngerti kenapa mereka bisa sampe nulis begitu hahaha.

image source: Huffington Post

Penginjilan vs Toleransi

Standard

Gue sebenarnya sudah mau nulis ini dari sejak kapan tahu. Tapi berhubung nulis hal beginian butuh pemikiran dan waktu banyak jadi baru bisa gue tulis hari ini. Tulisan ini 100% pemikiran gue dan pendapat gue pribadi. Mungkin ada banyak yang nggak setuju, tapi ya udah namanya juga pendapat, nggak harus semua orang setuju kan?

Topiknya agak-agak sensitif: Penginjilan. Honestly, gue agak terganggu dengan konsep penginjilan yang selama ini dijalankan di gereja-gereja. Tapi sebelum masuk terlalu jauh, gue mau cerita background gue dulu sedikit.

Gue bukan orang yang religious. Tapi gue juga bukan seorang atheist. Gue lahir beragama Budha. Orang tua gue juga beragama Budha, tapi dari sejak sekolah (sekolah Kristen btw), gue merasa gue memang cocok jadi seorang Kristen. One day gue mau jadi orang Kristen itu dream gue waktu kecil. Dan sewaktu SMP kelas 2, gue di baptis. Nyokap gue, namanya juga orang tua, saat itu sempat nggak ngasih, tapi gue juga nggak maksa, malam sebelum gue dibaptis, gue nangis dan akhirnya nyokap gue izinin gue untuk dibaptis walaupun gue tahu deep down dia nggak rela juga.

In chinese tradition, ketika ada orang tua meninggal, berarti tugas si anak untuk bersembahyang beberapa kali setahun, untuk memastikan arwah di alam baka sana nggak terlantar. Bersembahyang berarti mengingat akan kedua orang tua. Membakarkan uang kertas, segala baju kertas, rumah kertas, perlengkapan kertas berarti mengirimkan kebutuhan selama di alam baka dari bumi. Kalau tak ada anak yang bersembahyang, siapa yang akan mengurus mereka nanti?

Terdengar nggak masuk akal memang, gue pun nggak percaya sama hal itu, tapi namanya budaya dan tradisi apalagi sudah turun temurun dengan sangat kuat, jadi nggak mungkin lah nggak ada sedihnya. Gue sangat mengerti itu.

As i mentioned before, gue nggak percaya hal itu, tapi bukan juga berarti gue nggak menentang kalau ada yang percaya hal itu, namanya juga kepercayaan orang. Kepercayaan orang berbeda-beda dan bentuknya pun berbeda. Gue nggak bisa memaksakan apa yang gue percaya kepada mereka, sama seperti mereka juga nggak bisa memaksakan apa yang mereka percaya ke gue. Itu yang gue percaya sebagai Toleransi.

Toleransi adalah hal yang sudah kita pelajarin dari sejak SD di sekolah. Tapi menurut gue Toleransi terutama di Indonesia itu jauh dari kata dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan setiap agama di Indonesia ada sisi nggak toleransinya, dalam hal agama Kristen, Penginjilan adalah salah satunya.

Gue nggak belajar Teologi, bukan seorang ahli agama, bahkan bukan seorang yang religious. Tapi menurut gue konsep penginjilan yang selama ini dianut oleh gereja-gereja itu agak keluar jalur. Penginjilan di zaman ini kasarnya “ngajak orang untuk pindah agama” walauu caranya berbeda-beda dari yang halus sampai yang kasar. Yang kasar malah pernah dengar dulu ada pendeta yang setiap naik taksi cerita begini “Kamu harus percaya sama Yesus karena bla..bla…bla..”, meh…Apakah dengan cara gitu ada orang yang tersentuh untuk pindah agama sama lu?

Pemikiran gue sebenarnya simple. Yesus mau semua orang untuk jadi pengikutnya bukan karena sekedar Yesus itu gila hormat. Yesus mau orang jadi pengikutnya karena Yesus mau semua orang bisa hidup di jalanNya. Bukan sekedar jadi seorang Kristen. Bahkan Yesus sendiri nggak menciptakan agama Kristen. Apakah Yesus mau kalau 200jt orang Indonesia menjadi seorang kristen tapi kelakuannya bejat semua? Bagaimana kalau dia nggak menganut Kristen, tapi perilakunya sudah mencerminkan apa yang diajarkan Yesus?

Gue sendiri jujur kalau mau menuruti keegoisan gue, mau kedua orang tua gue untuk bisa percaya sama Yesus, tapi gue merasa memaksakan agama kepada kedua orang tua gue bukanlah hal yang benar. Menurut gue itu ethical nggak benar, siapa gue? Mereka aja nggak pernah memaksakan agamanya ke gue, lalu gue memaksakan agama gue ke mereka? Apa rasanya dibujuk untuk datang ke Wihara? Gue juga pasti nggak mau.

Nah hubungannya Toleransi dan Penginjilan itu disini. Beberapa orang Kristen itu egois. Mau menjadikan orang sekitarnya sama seperti dirinya menjadi Kristen dengan cara yah menceritakan tentang Yesus tanpa diminta. Gue sendiri akan SANGAT TERGANGGU kalau ada seorang yang bilang kalau Tuhannya yang bisa menyelamatkan gue, TERUS LU BILANG TUHAN GUE NGGAK BISA MENYELAMATKAN GUE? Lalu selama ini buat apa gue beribadah?

Gue inget beberapa bulan lalu ada teman gue yang bukan seorang Kristen bilang bahwa dia sempat beberapa kali ke Gereja. Tanggapan gue cuma “Oh ya? Kenapa?” Dia bilang dia hanya mau coba merasakan feelsnya, dan dia enjoy pengalaman dia ikutin kebaktian di gereja bukan mau menjadi Kristen. Apakah gue lalu jadi menyuruhnya mencoba untuk datang ikut ibadah sama gue atau share link-link website tentang Kristen ke dia? Pastinya nggak. Kalau dia nanya2 tentang Yesus dan mau tahu lebih lanjut tentang Yesus apakah akan gue jelasin? Pastinya. Lihat perbedaannya ga?

Gue udah pernah nulis berkali-kali kalau namanya kepercayaan itu adalah sesuatu yang personal. Personal terbatas hanya antara kita manusia individual dengan Tuhan. Nggak ada hubungannya dengan pacar, suami, istri, orang tua, keluarga, teman. NGGAK ADA. Jadi nggak ada urusan orang lain bisa ngurusin kepercayaan kita, termasuk mengusik-usiknya.

Menjadi masalah karena nggak banyak orang sadar akan hal ini. Akhirnya jadilah perang dimana-mana. Perselisihan, pertengkaran, bahkan perang agama di dunia ini awalnya yah karena kebanyakan orang di dunia ini punya keinginan untuk saling menguasai. Menganggap bahwa kepercayaannya paling benar dan kepercayaan orang lain salah dan tidak patut untuk diikuti. Lihat aja beberapa kasus perselisihan antar agama awalnya pasti karena selalu menganggap dirinya paling benar.

Simplenya gini, balik lagi ke contoh tadi. Misalnya ada seorang kristen mengadakan what so called penginjilan ke temannya yang bukan kristen. Apakah si non-kristen itu akan senang di ceritakan tentang Yesus? Gue bisa jamin 90% pasti nggak suka (Kalau nggak percaya coba kalau kalian diceritain tentang agama lain, suka gak?). Setelah itu di pikirannya akan terstigma kalau orang Kristen itu menyebalkan dan mereka akan malas untuk bergaul dengan orang Kristen.

Gue percaya penginjilan terbaik adalah dengan berperilaku baik layaknya yang Yesus ajarkan. Tunjukkan kasih lu tanpa ada embel-embel apapun. Unconditional Love. Kebanyakan sekarang gue melihat banyak orang Kristen melakukan kebaikan punya banyak hidden agenda. Ujung-ujungnya ngajak ke gereja dengan embel-embel “Membawa Jiwa Baru”. Penginjilan / Evangelism, nggak harus bertujuan untuk menjadikan orang itu menjadi Kristen kok, Penginjilan itu dasarnya adalah mengabarkan kabar baik. Apakah “kabar baik” hanya bahwa Yesus itu lahir untuk menyelamatkan manusia? Gue rasa nggak, kabar baik itu luas sekali artinya, pengajaran Yesus tentang kasih itu juga kabar baik. Terlalu menyedihkan kalau kita cuma mengartikan Penginjilan hanya berfokus kepada semua orang harus menjadi orang Kristen, karena balik lagi tujuan Yesus datang bukan untuk membuat semua orang di dunia ini percaya dan hormat kepadaNya, tapi untuk membawa orang-orang ke jalan yang benar.

Gue teringat dengan khotbah lao shi Nam Sin (penatua di Sion Hakka) yang bilang kalau dia biasa aja kalau ada yang menjadi Kristen. Gue setuju banget (berasa pengen lompat-lompat pas dia ngomong ini), menjadi Kristen dan dibaptis itu baru langkah awal, ibarat menjadi bayi baru juga lahir. Masalah ketika dia dewasa jadi apa, siapa yang tahu? Padahal ketika dewasa dia menjadi apa yang paling penting. Intinya bukan identitasnya menjadi Kristen yang penting, tapi menjadi Kristen yang dewasa baik dari pemikiran dan hatinya yang penting. Buat apa jadi Kristen kalau hidupnya masih brengsek-brengsek juga, malah jadi beban bukan?

Gue juga nggak setuju dengan mendoakan orang lain untuk menjadi Kristen. Buat gue bukan itu esensinya. Esensinya adalah balik lagi ke perilaku kita sendiri. Bukannya nggak percaya dengan kekuatan doa, tapi mendoakan saja bukanlah hal dengan dasar yang kuat.

Penginjilan menurut gue sesimple lu bisa nunjukkin perilaku kasih ke orang terdekat lu. Dengan begitu orang bisa lebih terbuka sama ajaran Yesus. Kalau dari sana ada yang tersentuh dan mau jadi belajar lebih banyak tentang Yesus, ya bagus. Bantulah untuk dia bisa menjadi orang yang lebih baik. Tapi kalau nggak ya bukan masalah juga bukan? Tugas manusia adalah membuat manusia lain mempraktikan ajaran Yesus, bukannya menjadikan manusia lainnya menjadi Kristen di KTP.

Panjang yah blog post kali ini haha. Tapi gue senang bisa menulis hal ini, bisa mengekspresikan apa yang ada di pikiran dan hati gue selama ini. Gue nggak ada niat untuk “berkhotbah” hanya menyampaikan apa yang menurut gue benar. Inget menurut gue bukan berarti yang gue tulis ini bener juga untuk semua orang hahah. Kalau gue selama ini keras kepala tidak mau ikut namanya “evangelism” atau menuliskan nama orang yang mau didoakan untuk jadi pengikut kristus inilah jawabannya yah. No hard feeling. Hanya berbeda pemikiran aja. God Bless 😀

image courtesy: http://urban365atl.com/663/

Tips Membuat Travel Itinerary

Standard

Finally gue menyelesaikan itinerary gue. Gak berasa tinggal 2 bulan lagi dan belum ngurus Visa haha. Rencananya gue akan ngurus visa di awal Januari. Semoga bisa lolos berbekal Itinerary yang super lengkap ini.

Anyway selama bikin Itinerary ini, gue jadi pengen berbagi beberapa tips membuat rencana perjalanan yang murah dan juga efektif.

  1. Buat daftar tempat apa aja yang mau kalian kunjungi

Biasanya dalam buat itinerary, gue mulai dengan bikin list tempat mana aja yang mau gue kunjungi. Bisa aja tempat ini tempat yang mainstream untuk turis atau juga tempat yang nggak mainstream tapi memang gue pengen lihat dan menarik buat gue.

Diawali dengan tempat-tempat yang gue ingat, dilanjutkan dengan mencari daftar tempat-tempat menarik di kota itu di internet. List of Attraction di suatu tempat itu bisa memberikan kita inspirasi tempat mana sajakah yang mau kita kunjungi. Untuk daftar inspirasi biasanya gue akses WikiTravel, TripAdvisor, atau banyak website lainnya yang menyediakan list of attraction per kota

  1. Mengelompokkan tempat berdasarkan lokasi

Langkah selanjutnya adalah mengelompokkan tempat-tempat tadi berdasarkan lokasinya menjadi cluster-cluster. Misalnya kalau ke Singapore, kumpulkan Merlion bersama Esplanade di 1 cluster, lalu kelompokkan Marina Bay Sands bersama Garden By The Bay di 1 cluster. Tujuannya sebenarnya untuk menghemat waktu dan biaya transportasi, jadi pergi satu kali ke cluster tersebut untuk sekalian mengunjungi beberapa lokasi wisata, ga perlu bolak-balik di tempat yang sama.

  1. Mengecek seberapa jauh hotel/hostel kamu dengan kelompok-kelompok itu

Jaman sekarang walaupun kamu belum pernah ke lokasi itu, kamu bisa dengan mudah cari tahu seberapa jauh antara lokasi yang satu dengan yang lain dengan menggunakan Google Maps. Nah biasanya gue awali dengan cari tahu seberapa jauh hotel/hostel kamu dengan cluster-cluster itu. Lalu dilanjutin dengan cari tahu jarak masing-masing cluster. Setelah tahu jaraknya masing-masing, mulai deh tentuin setiap harinya mau mengunjungi cluster mana aja. Tipsnya: kunjungi cluster-cluster dalam 1 arah bersamaan, jangan bolak-balik dan usahakan dalam 1 direction dilakukan 1 hari. Misalnya kalau mengarah ke Utara, dalam sehari itu yah ke Utara semua, jangan dalam sehari dari Utara ke Selatan, lalu Barat ke Timur. Buat hari ini semua ke arah Utara, besok ke arah Barat, lusanya lagi ke Selatan. Ini akan menghemat waktu dan biaya lu juga.

  1. Cari tahu dengan detail cara ke masing-masing lokasi

Nah sekarang sudah lebih mudah nih karena dalam sehari udah tahu mau kemana aja. Sekarang dengan menggunakan Google Maps juga, kamu cari direction dari masing-masing spot. Selain Google Maps, gue juga mencari apakah kota itu punya Trip Planner. Trip Planner adalah point-to-point destination information dimana kita bisa masukin kita mau dari mana mau ke mana, nanti dia akan merekomendasikan alat transportasi yang lebih cepat dan murah. In case kalau nggak ada Trip Planner, berarti harus lihat website masing-masing lokasi wisata, dan cari bagian Direction. Biasanya mereka akan merekomendasikan gimana caranya mengunjungi tempat tersebut. Kadang ada yang memberikan info lengkap, tetapi kadang hanya menuliskan lokasi Station terdekat. Jika mendapatkan nama stationnya, maka kita harus cari Transportation Map kota itu. Kita harus tahu kita naik dari Station apa dan harus turun di Station apa. Cara untuk ke Stationnya balik lagi pake Google Maps 😀

Dari cara diatas biasanya gue selalu catat tarif dan berapa lama jarak tempuhnya.

  1. Menyusun waktu dengan detail

Beberapa orang gak suka saat jalan-jalan disusun waktunya. Tapi gue adalah tipe orang yang sebelum pergi, gue udah harus susun jadwalnya dengan lengkap hari ini mau kemana aja. Dan bisa kesel setengah mati kalau gagal ke satu tempat. Maka itu gue selalu menyusun dengan detail dari bangun pagi sampe gue tidur malam hari gue mau kemana aja di jam berapa aja.

Dari point no. 4 biasanya gue bisa dapetin tuh jarak dari satu titik dan titk lainnya berapa lama. Tampilannya kurang lebih kaya gini:

Screen Shot 2015-12-26 at 11.46.18 PM

Sampe ke menit-menitnya 😀

Ini satu-satunya cara supaya kita bisa memperkirakan dalam satu hari kita bisa kemana aja, dan pergi ke semua tempat yang kita mau pergi.

Memang sih dari pengalaman gue nggak 100% bisa mengunjungi semua yang ada di Itinerary gue, tapi at least bisa di rata-rata 90%. Faktornya bisa macam-macam, kadang waktu tempuh lebih lama daripada yang dicari, antrian di suatu lokasi wisata terlalu panjang, sampai udah terlalu capek hehe.

Tips: Pergi ke website masing-masing lokasi wisata, dan lihat jam operational lokasi wisata tersebut, jangan sampai lu datang kepagian atau malah kemalaman. Dan research juga pendapat orang di TripAdvisor. Biasanya ada tips dan masukan-masukan yang bisa membantu kita. Misalnya jika daerah tersebut ternyata lebih indah dikunjungi saat malam hari ketimbang pagi hari. Atau misalnya suatu theme park ternyata lebih sepi kalau kita datangi di tengah minggu dan pagi hari.

  1. Coba-coba rearrange lagi supaya lebih efektif

Nah ada kalanya sesudah semua kelar, gue coba-coba untuk rearrange cluster-cluster tadi, misalnya dari pagi jadi malam, atau dari hari ini ke hari berikutnya. Tujuannya sebenernya supaya lebih efektif. Kadang cara ini bisa menghemat 1-2 jam lumayan untuk istirahat. Terus lakukan proof-reading dan research kembali untuk memastikan kalau itinerary yang kamu bikin itu valid.

Jadi deh itinerarynya heheh. Apakah setelah mengikuti step diatas maka hidup lu di kota yang asing itu akan jadi terjamin? Tentunya tidak. Apa yang gue bayangin ternyata di dunia nyata bisa jadi lebih mudah atau lebih susah. Memang sih jarang banget yang nggak sesuai dengan perkiraan gue. Tapi balik lagi gue selalu aktifin Google Maps kemanapun gue pergi. Dan kalau bisa internet nyala. Selama ini gue hampir nggak pernah nyasar sih walau nggak pernah nanya orang juga hehe.

Nah begitulah biasanya gue membuat itinerary perjalanan. Next gue akan share, bagaimana caranya bisa mengeluarkan uang dengan efektif selama liburan. Idenya bukan jalan-jalan murah doang, tapi yang sepadan antara apa yang dikeluarkan dengan apa yang didapatkan, kalau bisa mendapatkan kualitas yang sama dengan harga lebih murah, kenapa nggak? Hehe. Bye for now, see you next time

image courtesy: http://www.ebuyer.com/blog/2014/06/essential-tech-for-travelling