Penginjilan vs Toleransi

Standard

Gue sebenarnya sudah mau nulis ini dari sejak kapan tahu. Tapi berhubung nulis hal beginian butuh pemikiran dan waktu banyak jadi baru bisa gue tulis hari ini. Tulisan ini 100% pemikiran gue dan pendapat gue pribadi. Mungkin ada banyak yang nggak setuju, tapi ya udah namanya juga pendapat, nggak harus semua orang setuju kan?

Topiknya agak-agak sensitif: Penginjilan. Honestly, gue agak terganggu dengan konsep penginjilan yang selama ini dijalankan di gereja-gereja. Tapi sebelum masuk terlalu jauh, gue mau cerita background gue dulu sedikit.

Gue bukan orang yang religious. Tapi gue juga bukan seorang atheist. Gue lahir beragama Budha. Orang tua gue juga beragama Budha, tapi dari sejak sekolah (sekolah Kristen btw), gue merasa gue memang cocok jadi seorang Kristen. One day gue mau jadi orang Kristen itu dream gue waktu kecil. Dan sewaktu SMP kelas 2, gue di baptis. Nyokap gue, namanya juga orang tua, saat itu sempat nggak ngasih, tapi gue juga nggak maksa, malam sebelum gue dibaptis, gue nangis dan akhirnya nyokap gue izinin gue untuk dibaptis walaupun gue tahu deep down dia nggak rela juga.

In chinese tradition, ketika ada orang tua meninggal, berarti tugas si anak untuk bersembahyang beberapa kali setahun, untuk memastikan arwah di alam baka sana nggak terlantar. Bersembahyang berarti mengingat akan kedua orang tua. Membakarkan uang kertas, segala baju kertas, rumah kertas, perlengkapan kertas berarti mengirimkan kebutuhan selama di alam baka dari bumi. Kalau tak ada anak yang bersembahyang, siapa yang akan mengurus mereka nanti?

Terdengar nggak masuk akal memang, gue pun nggak percaya sama hal itu, tapi namanya budaya dan tradisi apalagi sudah turun temurun dengan sangat kuat, jadi nggak mungkin lah nggak ada sedihnya. Gue sangat mengerti itu.

As i mentioned before, gue nggak percaya hal itu, tapi bukan juga berarti gue nggak menentang kalau ada yang percaya hal itu, namanya juga kepercayaan orang. Kepercayaan orang berbeda-beda dan bentuknya pun berbeda. Gue nggak bisa memaksakan apa yang gue percaya kepada mereka, sama seperti mereka juga nggak bisa memaksakan apa yang mereka percaya ke gue. Itu yang gue percaya sebagai Toleransi.

Toleransi adalah hal yang sudah kita pelajarin dari sejak SD di sekolah. Tapi menurut gue Toleransi terutama di Indonesia itu jauh dari kata dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan setiap agama di Indonesia ada sisi nggak toleransinya, dalam hal agama Kristen, Penginjilan adalah salah satunya.

Gue nggak belajar Teologi, bukan seorang ahli agama, bahkan bukan seorang yang religious. Tapi menurut gue konsep penginjilan yang selama ini dianut oleh gereja-gereja itu agak keluar jalur. Penginjilan di zaman ini kasarnya “ngajak orang untuk pindah agama” walauu caranya berbeda-beda dari yang halus sampai yang kasar. Yang kasar malah pernah dengar dulu ada pendeta yang setiap naik taksi cerita begini “Kamu harus percaya sama Yesus karena bla..bla…bla..”, meh…Apakah dengan cara gitu ada orang yang tersentuh untuk pindah agama sama lu?

Pemikiran gue sebenarnya simple. Yesus mau semua orang untuk jadi pengikutnya bukan karena sekedar Yesus itu gila hormat. Yesus mau orang jadi pengikutnya karena Yesus mau semua orang bisa hidup di jalanNya. Bukan sekedar jadi seorang Kristen. Bahkan Yesus sendiri nggak menciptakan agama Kristen. Apakah Yesus mau kalau 200jt orang Indonesia menjadi seorang kristen tapi kelakuannya bejat semua? Bagaimana kalau dia nggak menganut Kristen, tapi perilakunya sudah mencerminkan apa yang diajarkan Yesus?

Gue sendiri jujur kalau mau menuruti keegoisan gue, mau kedua orang tua gue untuk bisa percaya sama Yesus, tapi gue merasa memaksakan agama kepada kedua orang tua gue bukanlah hal yang benar. Menurut gue itu ethical nggak benar, siapa gue? Mereka aja nggak pernah memaksakan agamanya ke gue, lalu gue memaksakan agama gue ke mereka? Apa rasanya dibujuk untuk datang ke Wihara? Gue juga pasti nggak mau.

Nah hubungannya Toleransi dan Penginjilan itu disini. Beberapa orang Kristen itu egois. Mau menjadikan orang sekitarnya sama seperti dirinya menjadi Kristen dengan cara yah menceritakan tentang Yesus tanpa diminta. Gue sendiri akan SANGAT TERGANGGU kalau ada seorang yang bilang kalau Tuhannya yang bisa menyelamatkan gue, TERUS LU BILANG TUHAN GUE NGGAK BISA MENYELAMATKAN GUE? Lalu selama ini buat apa gue beribadah?

Gue inget beberapa bulan lalu ada teman gue yang bukan seorang Kristen bilang bahwa dia sempat beberapa kali ke Gereja. Tanggapan gue cuma “Oh ya? Kenapa?” Dia bilang dia hanya mau coba merasakan feelsnya, dan dia enjoy pengalaman dia ikutin kebaktian di gereja bukan mau menjadi Kristen. Apakah gue lalu jadi menyuruhnya mencoba untuk datang ikut ibadah sama gue atau share link-link website tentang Kristen ke dia? Pastinya nggak. Kalau dia nanya2 tentang Yesus dan mau tahu lebih lanjut tentang Yesus apakah akan gue jelasin? Pastinya. Lihat perbedaannya ga?

Gue udah pernah nulis berkali-kali kalau namanya kepercayaan itu adalah sesuatu yang personal. Personal terbatas hanya antara kita manusia individual dengan Tuhan. Nggak ada hubungannya dengan pacar, suami, istri, orang tua, keluarga, teman. NGGAK ADA. Jadi nggak ada urusan orang lain bisa ngurusin kepercayaan kita, termasuk mengusik-usiknya.

Menjadi masalah karena nggak banyak orang sadar akan hal ini. Akhirnya jadilah perang dimana-mana. Perselisihan, pertengkaran, bahkan perang agama di dunia ini awalnya yah karena kebanyakan orang di dunia ini punya keinginan untuk saling menguasai. Menganggap bahwa kepercayaannya paling benar dan kepercayaan orang lain salah dan tidak patut untuk diikuti. Lihat aja beberapa kasus perselisihan antar agama awalnya pasti karena selalu menganggap dirinya paling benar.

Simplenya gini, balik lagi ke contoh tadi. Misalnya ada seorang kristen mengadakan what so called penginjilan ke temannya yang bukan kristen. Apakah si non-kristen itu akan senang di ceritakan tentang Yesus? Gue bisa jamin 90% pasti nggak suka (Kalau nggak percaya coba kalau kalian diceritain tentang agama lain, suka gak?). Setelah itu di pikirannya akan terstigma kalau orang Kristen itu menyebalkan dan mereka akan malas untuk bergaul dengan orang Kristen.

Gue percaya penginjilan terbaik adalah dengan berperilaku baik layaknya yang Yesus ajarkan. Tunjukkan kasih lu tanpa ada embel-embel apapun. Unconditional Love. Kebanyakan sekarang gue melihat banyak orang Kristen melakukan kebaikan punya banyak hidden agenda. Ujung-ujungnya ngajak ke gereja dengan embel-embel “Membawa Jiwa Baru”. Penginjilan / Evangelism, nggak harus bertujuan untuk menjadikan orang itu menjadi Kristen kok, Penginjilan itu dasarnya adalah mengabarkan kabar baik. Apakah “kabar baik” hanya bahwa Yesus itu lahir untuk menyelamatkan manusia? Gue rasa nggak, kabar baik itu luas sekali artinya, pengajaran Yesus tentang kasih itu juga kabar baik. Terlalu menyedihkan kalau kita cuma mengartikan Penginjilan hanya berfokus kepada semua orang harus menjadi orang Kristen, karena balik lagi tujuan Yesus datang bukan untuk membuat semua orang di dunia ini percaya dan hormat kepadaNya, tapi untuk membawa orang-orang ke jalan yang benar.

Gue teringat dengan khotbah lao shi Nam Sin (penatua di Sion Hakka) yang bilang kalau dia biasa aja kalau ada yang menjadi Kristen. Gue setuju banget (berasa pengen lompat-lompat pas dia ngomong ini), menjadi Kristen dan dibaptis itu baru langkah awal, ibarat menjadi bayi baru juga lahir. Masalah ketika dia dewasa jadi apa, siapa yang tahu? Padahal ketika dewasa dia menjadi apa yang paling penting. Intinya bukan identitasnya menjadi Kristen yang penting, tapi menjadi Kristen yang dewasa baik dari pemikiran dan hatinya yang penting. Buat apa jadi Kristen kalau hidupnya masih brengsek-brengsek juga, malah jadi beban bukan?

Gue juga nggak setuju dengan mendoakan orang lain untuk menjadi Kristen. Buat gue bukan itu esensinya. Esensinya adalah balik lagi ke perilaku kita sendiri. Bukannya nggak percaya dengan kekuatan doa, tapi mendoakan saja bukanlah hal dengan dasar yang kuat.

Penginjilan menurut gue sesimple lu bisa nunjukkin perilaku kasih ke orang terdekat lu. Dengan begitu orang bisa lebih terbuka sama ajaran Yesus. Kalau dari sana ada yang tersentuh dan mau jadi belajar lebih banyak tentang Yesus, ya bagus. Bantulah untuk dia bisa menjadi orang yang lebih baik. Tapi kalau nggak ya bukan masalah juga bukan? Tugas manusia adalah membuat manusia lain mempraktikan ajaran Yesus, bukannya menjadikan manusia lainnya menjadi Kristen di KTP.

Panjang yah blog post kali ini haha. Tapi gue senang bisa menulis hal ini, bisa mengekspresikan apa yang ada di pikiran dan hati gue selama ini. Gue nggak ada niat untuk “berkhotbah” hanya menyampaikan apa yang menurut gue benar. Inget menurut gue bukan berarti yang gue tulis ini bener juga untuk semua orang hahah. Kalau gue selama ini keras kepala tidak mau ikut namanya “evangelism” atau menuliskan nama orang yang mau didoakan untuk jadi pengikut kristus inilah jawabannya yah. No hard feeling. Hanya berbeda pemikiran aja. God Bless 😀

image courtesy: http://urban365atl.com/663/

2 thoughts on “Penginjilan vs Toleransi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s