Tentang Kebersamaan

Standard

Blog post ini gue tulis beberapa bulan lalu, entah kenapa waktu itu nggak gue publish 😀

Ii (adik mama) dan Ichong (suaminya) gue boleh disebut sebagai orang tionghoa di negri ini yang kasarnya bisa disebut cina banget. Bahasa Indonesianya masih sedikit totok, hampir tiap hari mereka ngobrol dalam bahasa Hakka, beragama budha, vegetarian, punya toko kelontong, hidupnya sederhana. Di kehidupan mereka yang cina banget ini, mereka tinggal di Ciledug, kawasan yang nggak cina banget. Di kompleks perumahan yang mereka tinggalin, mungkin orang cinanya bisa dihitung dengan jari.

5 sampai 10 tahun lalu, keluarga tionghoa yang tinggal di pinggiran Jakarta yang orang tionghoanya sedikit kadang bisa menimbulkan masalah bagi kedua belah pihak. Yang bukan tionghoa suka merasa terancam kalau-kalau si tionghoa ini bikin toko dan jadi sukses di tempat itu melahap bisnis kecil2an warga non-tionghoa. Sedangkan si tionghoa ini sendiri takut kalau-kalau mereka terancam tinggal di kawasan yang jarang warga tionghoanya. Beberapa kasus malahan sampai ada yang rumahnya ditimpukin batu.

Tapi apa yang gue lihat minggu lalu dirumah ii dan ichong gue ini adalah sesuatu hal yang amazing. Membuat gue mikir.

Ii gue meninggal di usia 53 tahun minggu lalu karena penyakit kanker yang sudah menggerogoti seluruh tubuhnya. Beliau meninggal di rumah, setelah kurang lebih 11 bulan perawatan bolak-balik Jakarta-Penang. Saat gue datang ke rumahnya, beliau sudah meninggal, dan selama 4 jam kurang lebih menunggu ambulance datang menjemput jenazah, gue melihat puluhan orang tetangga mereka ini datang satu per satu untuk melihat jenazah untuk yang terakhir kalinya. Tua, muda, laki-laki, perempuan semua datang, dan semuanya bukan orang tionghoa. Bayangkan Ibu-ibu berkerudung masuk ke kamar dengan alunan lagu doa-doa budha dalam bahasa mandarin sambil mengucapkan doa dalam bahasa arab.

Di perkarangan rumah mereka, bapak-bapak duduk sambil ngobrol dan begitu butuh bantuan untuk fotocopy dokumen misalnya, seorang bapak langsung sigap mengambil dokumen itu sambil berkata, “Di rumah ada” dan tak lama kemudian fotocopynya kembali.

“Enci orangnya baik” kata seorang yang melawat minggu lalu. Seorang tetangga juga katanya datang saat ii gue itu menjelang meninggal dan menangis kejar melihat keadaan ii gue saat itu.

Jujur tetangga kanan kiri gue yang sama-sama cina aja nggak akan mungkin bertindak seperti ini apabila ada tetangga yang meninggal.

Setelah hampir 18 tahun sejak kerusuhan tahun 1998, hubungan antara warga Tionghoa dan warga Non Tionghoa di Jakarta ini makin terus membaik, walaupun kejadian ini cukup bikin gue senang sekaligus kaget seakan tak percaya, semaju ini kah progressnya? Tapi kalau dilihat-lihat lagi, memang harusnya tak sesulit itu. Apa yang kita butuhkah hanyalah keterbukaan, pemikiran positif, selalu berbuat baik ke orang lain apapun ras, suku, atau agamanya, maka orang lainpun akan berbuat baik juga kepada kita. Sama seperti apa yang menurut gue Ii dan Ichong gue lakukan. Mereka works on it sampai akhirnya para tetangga yang berbeda 100% dari mereka itu bisa sampai sedekat itu dengan mereka. Dan Ii, ichong gue ini nggak belajar pelajaran PPKn, pelajaran tentang kewarga negaraan, pelajaran tentang toleransi, dll.

Ii, Ichong, dan tetangga-tetangga mereka hanya belajar menggunakan insting mereka sebagai warga negara yang baik. Kita yang hampir 12 tahun belajar tentang Kewarganegaraan apakah bisa menerapkan hal yang sama?