2 Days in Malacca

Standard

Minggu lalu gue menghabiskan waktu selama 6 hari berkelana sendirian lagi ke Singapore, Melaka, dan Kuala Lumpur. Oke yang ke Singapore dan Kuala Lumpur kita skip aja yahh, yang gue mau bahas sekarang adalah Melaka. Yakk..yang belum tau dimana itu Melaka, Melaka ada di Malaysia sekitar 2 jam perjalanan bus dari Kuala Lumpur atau sekitar 3 jam dari Singapore.

Gue menuju Melaka melalui Johor Bahru. Dari Singapore gue naik Bus dari Queen Street (dari Bugis MRT, cari exit yang keluar ke Queen Street Bus Terminal, jalan kaki aja nggak jauh dari MRT Stationnya) ke Larkin Bus Terminal di Johor Bahru. Gue naik bus Causeway Link yang memang khusus melayani travel dari Singapore ke Johor Bahru. Bus lainnya sebenernya banyak, tapi sebagian besar nggak langsung menuju Johor (berhenti2 di beberapa halte) dan nggak terlalu nyaman. Menurut review yang gue baca di internet, Causeway Link ini udah yang paling nyaman. Kode busnya CW2 melayani rute Queen Street-Larkin. Biaya bus sekali jalannya S$ 3.3/orang.

Setelah sampe Woodlands CIQ (perbatasan Singapore dan Malaysia sisi Singapore), kita semua harus turun, antri di imigrasi untuk keluar dari Singapore, lalu antri bus lagi. Susah sih untuk bisa dapet bus yang sama, tapi cukup cari bus Causeway Link lagi aja, langsung naik dan cuss menuju Johor Bahru. Nah perjalanan ke Johor Bahru ini kalo naik bus sih lancar jaya yah sekitar 1 jam, tapi kalau naik mobil sendiri antrian untuk masuk Johornya panjang banget. Mungkin karena hari itu minggu pagi juga. Dan seperti di Woodlands, di perbatasan Johor ini kita tetep harus antri imigrasi lagi. Nanti setelah keluar Johor, baru agak susah nyari bus ke Larkin. Agak susah karena mungkin di Johor ini nggak setertib di Singapore jadi harus agak nanya-nanya nyariin busnya.

Long story short, gue sampe Larkin, dan nunggu bus yang udah gue pesen dari minggu sebelumnya. Harganya RM 21 atau sekitar IDR 75.000. Murah banget dan busnya lumayan nyaman.

IMG_0125

KKKL Bus dari Johor Bahru ke Melaka

Perjalanan dari Johor Bahru ke Melaka ditempuh kurang lebih dalam waktu 2.5-3jam. Untungnya kemaren itu nggak macet dan karena busnya nyaman gue bisa tidur di sepanjang perjalanan.

Sesampe di Melaka Sentral gue pesen taxi dari counter taxi di Melaka Sentral menuju Hotel. Nah masalahnya di Melaka ini taxinya agak-agak kurang kredibel gitu keliatannya. But anyway mo gimana lagi. Gue akhirnya naik taxi dengan harga RM 20 menuju hotel gue di Swiss Garden Hotel. Tak disangka dan tak dinyana, ternyata hotel gue ini deket banget dengan Melaka Heritage City dan bagus banget. Hotelnya sendiri bintang 4 dan letaknya di atas mall satu-satunya di daerah Heritage, The Shores@Melaka, atau nama melayunya Pingggiran@Melaka (ini beneran serius, ada plang namanya gede-gede)

IMG_0129

Deluxe King Room @ Swiss Garden Hotel

Tapi emang kalo dipikir-pikir no wonder sih hotelnya bagus, orang 2 malam harganya IDR 800.000an hahah. Ya udah lah. Pada akhirnya gue merasa beruntung pesen hotel ini karena setelah 2 hari, nginep di hotel ini bisa jadi hiburan tersendiri.

Jadi kawasan Melaka Heritage Center (pusat wisata budaya Melaka), adalah bagian dari Chintown Melaka. Penduduknya ya mayoritas orang Tionghoa, dengan gue yang punya muka cina begini (alhamdullilah kali ini muka gue banyak dikenalin sebagai orang cina) selalu diajak ngomong mandarin. Iya sih ngerti dikit-dikit tapi tetep gue jawabnya tetep dengan Inggris hahaha.

Kotanya penuh dengan bangunan bernuansa Cina bercampur Melayu, Arab, dan India. Dan awalnya gue berpikir mungkin karena ini adalah hari minggu jadi kota ini sepi, tapi ternyata besok-besoknya di hari kerja pun kotanya tetep sepi mau itu pagi, siang, apalagi malam. Entah kemana perginya orang-orang di kota ini.

melaka

Melaka in day time

Di setiap weekend, di pusat Melaka Heritage City ini ada namanya Jonker Walk Night Market. Letaknya di jalan Jonker yang menjadi pusat dari Chinatown Melaka sendiri. Sekitar jam 5an para pedagang mulai memasang tenda dipinggir jalan, dan nggak seperti di Pagoda Street di Singapore atau Ladies Market di Hongkong, pedagang disini beneran hanya dagang di hari Jumat-Minggu. Dan jalanan ditutup dari akses mobil selama berlangsungnya Night Market ini.

Yang dijual pun beragam mulai dari buku, aksesoris gadget, minuman, makanan, souvenir, macam-macam deh pokoknya. Belum lagi ada pengamen, lalu ada sekumpulan asuk-asuk dan ayi-ayi (baca paman-paman dan bibi-bibi) pada karaokean. Suasananya beneran pasar rakyat banget.

melaka2

Makanan yang di jual pun unik-unik banget. Dan harganya juga terjangkau dan masih masuk akal.

melaka4

(1) Taiwanese Sandwich, instead pake roti ini pake gorengan campuran telur mata sapi dan tepung, isinya daging ham,  enakkk, RM 3
(2) Popiah, sebenernya mirip dengan lumpia goreng, RM 1.5
(3) Mochi kacang, RM 3
(4) Es Lime + Plum, RM 2
(5) Es Goyang, RM 1

Satu hal yang gue suka selain makanan dan ambiencenya, adalah orang-orangnya. Para penjual makanan, barang, dan jasa disini tuh humble banget. Mereka beneran bekerja untuk mencari uang untuk hidup, bukan untuk mengambil untung sebanyak-banyaknya seperti pasar malam di kota-kota lain.

melaka3
(1) Penjual Kue Lobak, kiosnya ini rame banget
(2) Pengamen yang suaranya nggak bagus tapi tetep berusaha untuk nyanyi dengan pedenya, inggrisnya pun berantakan, mungkin cuma gue doang yang suka ngelihat dia. Keesokan harinya gue lihat di pinggiran Melaka river jadi tukang pijat haha.
(3) Ahli nujum
(4) Pembuat kaligrafi nama mandarin bonus peribahasa dari nama kita 😀 Uniknya dia ini jari tangannya nggak berkembang sempurna.

Kurang lebih begitu kemeriahan dari Jonker Night Market. Dan overall ada 2 hal yang sangat excited ketika gue di Melaka, Jonker Night Market ini dan Melaka River Cruise. That’s all hahah. Melaka is fun, tapi menarik di weekend saja. Di hari biasa kotanya jadi seperti kota mati, sepi banget. Jadi lil tips from me, kalo mau ke Melaka di Jumat, Sabtu, atau Minggu aja, 2 hari aja cukup kok.

Dari kawasan Jonker Street ini, menuju Red Square itu deket banget, cuma beda 1 pengkolan aja :D. Dari ujung Jonker Street, belok kanan udah sampe di Red Square dengan Christ Church of Malacca sebagai landmarknya.

IMG_0262

Red Square

Di sebelah Christ Church of Malacca ada The Stadhuys, a.k.a Balai Kota waktu dulu masih penjajahan Belanda. Yah kurang lebih fungsinya sama dengan gedung yang sekarang jadi Museum Fatahillah di Kota. Sekarang gedung ini udah jadi Museum etnografi. Tapi gue ga sempet masuk-masuk ke dalam juga sih 😀

IMG_0274

Christ Church Melaka

Nah kawasan Melaka Heritage City ini sebenernya terletak di pinggir sungai Melaka, jadi sepanjang kita berjalan kaki, kita bisa lihat sungai melaka. Termasuk juga Fort of Melaka dan Kincir raksasa jaman penjajahan dulu.

IMG_0277

Jalan lagi ke ujung ada hotel Casa Del Rio. Hotelnya oke banget dan kalo di cek di Agoda harga permalamnya sekitar $212. Yah worthed sih kalo lihat pemandangan dari kamarnya yang menghadap sungai Melaka.

IMG_0282

Sebelah kanan hotel Casa del Rio, sebelah kiri ticket booth Melaka River Cruise

Pas di sebelah hotel ini ada Melaka River Cruise (kalo di foto atas tuh yang tenda putih sebelah kiri). Dari port ini kita bisa menyusuri sungai Melaka selama 45 Menit dari titik ini ke Spice Garden dan balik lagi ke titik ini. Dan karena siang hari itu terik banget, gue memutuskan untuk balik lagi sorenya di sekitar jam 5-6an.

Kapalnya sih nggak gede-gede banget, tapi seru secara kita beneran mengelilingi sungai Melaka. Dan karena sore, dengan suasana menjelang matahari tenggelam, pemandangannya juga oke banget. Suasana masih terangnya dapet,  suasana malam harinya juga dapet :D.

melaka5

Melaka River Cruise in the evening

Naik Melaka Cruise ini harganya RM 15an untuk local, dan RM 21an untuk turis luar. Entah kenapa gue di charge RM 15an padahal gue udah bilang dari Indonesia pas gue nanya dari mana. Mungkin karena muka gue local atau emang charge RM 21an untuk turis muka bule aja. Entahlah. Hahahah. Overall Melaka River Cruise ini recommended banget, rugi kalo ke Melaka tapi nggak naik River Cruise ini.

Di sebelah River Cruise ada namanya Maritime Museum, bentuknya seperti kapal. Kapal ini adalah replika dari kapal portugis Flora de la Mar, yang karam di Selat Malaka ketika menuju pulang ke Portugal. Gue juga gak sempet masuk-masuk ke dalam.

IMG_0288

Melaka Maritime Museum, Flora de La Mar replica

Pengalaman di Melaka ini menarik sih, tapi as i said before, nggak perlu lama-lama kalau mau mengunjungi Melaka. Cukup 2 hari di saat weekend dan tinggal di kawasan Melaka Heritage City (daerah pinggir sungai Melaka) jadi nggak perlu naik taxi bolak-balik ke kawasan ini, karena emang kawasan wisata budaya Melaka cuma ada di kawasan ini.

Sekian perjalanan saya ke Melaka bulan ini. See you on next travelling post on October 😀

Unexpected Things While Travelling

Standard

Travelling, as I said before is a very therapeutic ways for me to escape from the everyday hectic and daily routine. But sometimes even the best thing in life has a flaw and the best-planned trip has an unexpected thing happen.

  1. Brushing my teeth in the closet, inside Akihabara Station

On my trip to Japan last year, my plane arrived in Nagoya. Since I was planned to explore Tokyo, I’m using a night bus from Nagoya to Shinjuku in Tokyo. The bus comes on time, and I landed in Tokyo in the morning. But since my room in the capsule hotel are not ready yet, I have to brush my teeth in the public toilet. I go to the train station, buying 1 bottle of Evian (yes, I’m brushing my teeth with Evian water :D), go inside the toilet cubicle, and brushing my teeth facing the toilet.

  1. Have my ankle swollen while travelling alone.

So before my trip to Tokyo, I was transit in KL. Meet my friends who also travelling by in BB. And as usual, I can’t avoid the temptation of H&M. I’m buying a new canvas shoes there. When I landed in Nagoya, the city was poured with a heavy rain. But I have to go to the bus stop, no matter what. I bought an umbrella, but still my shoes were wet and some of my shirt wet as well. The very next day in Tokyo, I’m using my new canvas shoes I bought in KL. And it was starting a nightmare. The shoes hurt my feet skin. And cause I avoid it, it hurts my ankle. Yes, the next day it swollen and hurts. I can’t walk properly. I’m so scared that I’ll got a fever or I can’t walk at all so that I have to go using a taxi to the bus stop. The taxi fare will killing me :D. But, fortunately, I can overcome with the swollen though it hurts and it recover itself months later.

  1. Wrong Immigration Exit

When I’m going to KL by train from Singapore, eventually I was taken a wrong bus. The bus (which I taken from Kranji MRT) go to the bus side of Woodlands CIQ, instead of the train side. I don’t even know if the train and bus go on different immigration check. Then I was asked to be seated next to the immigration officer while waiting for his friend. I was sitting there about 5 minutes and see couples of people get their passport checked. Yes, they all looking at me like I’m a people with a problem. Then I was taken to the office. Get cleared, and getting asked to go to the train side of the immigration. Fortunately, I still have a lot of time to catching up my train, it’s an interesting experience by the way 😀

UPDATED

  1. Domino’s Effect Delay

On my last flight back from Los Angeles to Guangzhou, there’s a bad weather situation that makes my plane can’t do the landing and have to go back to Beijing. The plane should arrive in Guangzhou at 8:00am and I have another flight to Singapore at 10:30am. The plane still stuck on Beijing up to 10am and we were informed that all flight from and to Guangzhou must be delayed.

We just arrived in Guangzhou about 12:30pm and it was chaos on the Baiyun Intl. Airport. The flight to Singapore take about 6 hours and will depart at 6pm. Can you imagine what time i would arrive in Singapore? It will be on the midnight and there will be no other flight to Jakarta. And my 4pm flight from Singapore to Jakarta by AirFrance was definitely wasted. After some haggled to the on ground staff, i request for a direct flight from Guangzhou to Jakarta. And after waiting for 1 hour, the kind on-ground staff finally gave me the direct flight to Jakarta. It was felt amazing.

5 Years

Standard

It’s been interesting 5 years. Because never ever crossed in my mind that I’ll be working in the advertising agency. Graduating from an IT department, I’m thinking of working on the software house or IT department will definitely my career path.

But couple weeks back, I’m thinking about the relations between my childhood, my hobby, and what I’m doing right now. All seems written by God for me. Since I’m in elementary, the number one subject that I love the most is Indonesian. Though I’m not an expert on the EYD-thing. Then I’m started to get interested in digital world named Website since I’m 14 years old, in 2000 where warnet cost about IDR 20.000 for an hour and I’m so excited when I can access Yahoo.com for the first time. I writing down all the URL I got from newspaper or TV then browse it down when I go to the warnet. From that point of my life, I said to myself that one day I’ll make one :D. In the college, I love to write all the idea that I got randomly. The idea was so random. I like to create things that I like. When I watch a reality show, I imagine myself as a reality show creator and create my own reality show. When I watch a fiction tv series, I’m thinking of creating a story and imagine that the idea will be developed into a tv series. Yes, that’s how I run my college life, thinking every day, and imagining idea.

Graduated from the college, I’m saying to myself that I wanna be an IT guy, but not a typical IT guy. I want to be a cool IT guy. Someone who know about IT, but not working 100% on that one. I never think about the details. Then I’m becoming a typical IT guy in my previous company for 2 years hahaha.

Fast forward, 2 years after I worked at my previous company, I was thinking of moving forward to the web company. After do some chit chat with my college friend, I’m applying to AITINDO.

What I’m expecting that time is that I just want to be a developer. That’s all. No other vision.

For the first 2 years, yes, I was working as a web developer, I learn a lot how to make a proper website, but the most important thing is how to know the process, to know what the client need and how the people will use the website.

Then for the next 2.5 years, I learn how to brainstorming the idea and manage the team. How to coordinate the designer, the developer, and the social media team. It’s a learning process to handle the team. It’s challenging in the beginning but along the way it’s manageable.

The brainstorming is a challenging yet fun things to do. The way I and the team do brainstorm on the back days is soo painful compared to today. But then, we all learned to understand what the client want.

Then goes to another challenge that I love. Writing a story. On 2011-2012, we got to handle many client that needs a story for their campaign. Named Biskuat, BCA, and Toblerone. This time, I lead the group to write the love story, a comic story and a testimonial. It’s all comes not bad. The IT guy writing a storyline for a love story, maybe you’re not believe on that one. I also don’t believe it up until now.

Also, never crossed my mind, that every month I have to check social media copies from the social media team. But then the knowledge from the Indonesian subject that I learn in school is so helping me out.

Then here we come today. In the last 6 months, I’m starting to learn new things. Handling Client. It feels like 2 years ago when I’m started to manage the team. It’s like you want to avoid it, but you know it will take you to next level. And I believed that I’ll be gladful if I can survive on this one 😀

But summarizing all the things above, I feel blessed working in the digital agency generally and AITINDO specifically. It fits all my hobby, passion, and interest. And the new challenge is also coming every day in different shapes. And as I said, it will help me go to the next level.

Last but not least, I like to say thanks for all of my boss and mentor: Raymon, Didit, Ferry, and my very first developer mentor Martin 😀

Ospek, Mental, dan Bullshit

Standard

Satu hal yang bisa bikin gue instantly emosi adalah kalo denger ada berita tentang ospek, bullying, atau senioritas apalagi kalo sampe berakhir maut. Menurut gue nggak manusiawi aja kalo ada orang yang mengganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain sampe bisa-bisanya dia “menganggap” adik kelasnya itu lebih rendah atau dipelakukan semena-mena. Apalagi kadang aktivitas kaya Ospek atau LDKK itu diadakan oleh sekolah dan guru-gurunya tau kalo itu dilakukan tapi diperbolehkan for the sake melatih mental, which is verry bullshit buat gue. Mental seperti apa yang pengen dilatih? Gue nggak pernah dapet jawabannya. Apa untuk melatih mental anak-anak supaya tahan diomelin di kantor? Lah kantor apaan yang ngomel2in karyawannya? Yang gue tangkep malahan ospek ini akan melahirkan orang-orang yang sukanya ngomelin orang dan punya rasa senioritas tinggi ketika kerja, which is i hate much.

Apa yang bisa didapetin dari makan 1 permen untuk rame2? It’s disgusting. Atau apa yang bisa didapatkan dari seorang anak murid dipermalukan disuruh pake pakaian aneh-aneh? Apa bisa jamin kalo kerja dia mentalnya kuat? Nggak juga kan.

Maka itu gue dari SMA sangat benci dengan MOS yang dilakukan di SMA gue. Hal yang paling gue inget pernah gue lakukan ketika gue kelas 3 SMA adalah gue keluar kelas sendirian duduk didepan kelas disaat teman gue sekelas ngerjain 2-3 orang calon anggota osis didepan kelas. Gue yang keras kepala ambil 1 buku, keluar kelas sambil dongkol ngeliatin ada orang dibully. Bodohnya orang-orang itu dengan senang “dibully”. Itu akhirnya yang bikin gue juga nggak ikutan ospek sewaktu kuliah di Binus dulu. Pulang hari pertama orientasi, gue mutusin besoknya nggak mau lanjut. Dan gue nggak merasa pernah rugi nggak ikut ospek itu. Nggak perlu takut nggak bisa ikut UKM or whatever. Toh mereka nggak pernah inget.

Tapi itu juga jadi masalah di Indonesia. Sebagian anak-anak sekolah dan kuliahan itu senang sekali ikutan Ospek, MOS, LDKK, whatever it is. Katanya untuk mendapatkan banyak teman. Which is ridiculous. Lu akan punya banyak temen along the way. Tentang melatih mental, nanti waktu mulai kerja mental itu akan terlatih sendiri kok dan terasah dalam waktu yang lama, nggak dengan LDKK yang cuma 3-4 hari.

Kalo sekolah dan universitas punya pengertian dan buang jauh-jauh kegiatan ospek yang even di US udah ditinggalin sejak tahun 1950-an itu, mungkin nggak perlu ada lagi orang tua yang harus kehilangan anaknya hanya karena sifat tak berperikemanusiaan dari para senior. Bayangin anak yang dilahirkan, disayang, dan banyaknya harapan yang diimpikan si orang tua harus lenyap gtu aja.

Semoga nggak ada lagi kasus anak meninggal hanya karena kasus konyol Ospek dan Senioritas.

 

Lombok Trip

Standard

Whoa taon ini kami outing di Lombok. Yakk setelah Bali dan Belitung, taon ini AITINDO outing ke Lombok. And yes it’s another island and beaches trip.

Sesampai di airport Lombok sekitar jam 08:00 pagi, kita ber-16 langsung berangkat menggunakan mobil sewaan untuk ke pantai di selatan Lombok. Tapi apa daya perut masih pada lapar dan diajak si pak sopir makan di sebuah restoran khas Lombok di dekat Airport. Oh ya Airport barunya Lombok ini keren lho walau kecil tapi lumayan modern lho.

Restoran pertama yang kita singgahi dari trip kita kali ini adalah Restoran Nasi Balap Puyung. Jadi nama makanannya sebenernya Nasi Balap tapi ada di daerah Puyung, jadi namanya Nasi Balap Puyung. Nasinya sendiri selain nasi pastinya ada suwiran daging ikan dan ayam + cah buncis + kentang cabe yang dicampur dengan abon sapi. Rasanya cukup pas lah dilidah apalagi dengan harganya yang cuma IDR 8.000 seporsi, kalo nambah ayam goreng jadi IDR 15.000. Lumayan berat sih sarapannya tapi lumayan ganjel perut sampe siang.

2014-04-23 08.48.14
Nasi Balap Puyung

Setelah makan, kita singgah dulu di Desa Sade, tempat dimana dilestarikannya Suku Sasak. Jadi ada 1 tempat yang khusus dijadikan tempat wisata untuk orang-orang bisa lihat bagaimana orang sasak hidup, termasuk masuk ke rumah-rumah orang sasak gtu. Gratis sih tapi sebenernya ini mereka berusaha jualan hasil karya mereka gtu, mulai dari tenunan sampai kaya gelang-gelang dari kain gtu. Kalo nggak mau beli juga nggak apa-apa sih.

IMG-20140426-WA0011
Di brief sama local guidenya Sasak Village @ Desa Sade. Photo by: @raymonsetiadi

Di ceritain sama guidenya, jadi semua rumah yang ada di desa Sade ini sebulan sekali dilap gtu dengan kotoran sapi. Jadi nggak ada yang berani nyentuh lantai rumah mereka 😀

2014-04-23 10.00.44
Ibu-ibu penenun di Desa Sade

2014-04-23 10.21.59
Pemukiman Desa Sade

Dan setiap wanita di desa ini bisa punya banyak cowok, tapi masalahnya si cewek nggak bisa milih dengan siapa dia akan kawin, karena semua cowok di desa itu punya kesempatan yang sama untuk dapetin tuh cewek. Istilahnya ada 2: diculik atau kawin lari. Kalo emang si cowok suka tapi di cewek nggak suka, si cowok bisa culik si cewek, dan si cewek harus mau kawin kalo uda diculik. Kalo sama-sama mau istilahnya kawin lari. Agak serem yah budayanya. Dari sini kita lanjut ke pantai-pantai.

Pantai pertama yang kita singgahi kali ini adalah Pantai Seger. Perjalanan dari Airport ke Pantai bagian selatan Lombok nggak terlalu jauh-jauh amat, sekitar 30-45 menit. Entah karena ini bukan high season atau pantai ini emang jarang dikunjungi atau emang kunjungan turis ke Lombok lagi menurun, nih pantai sepi banget. Hanya kita turis yang ada di pantai ini. Pantainya sih bersih ada tebing disebelah kanan dan bentuknya emang kaya menjorok ke dalam gitu. Tapi hal yang paling memorable di pantai ini bukanlah pemandangannya, tapi para penjualnya yang cendrung maksa dan nyebelin.

2014-04-23 11.04.23
Desa Seger, Lombok Selatan

IMG-20140426-WA0040
My Group 😀 @ Pantai Seger. Photo by: @abism_

Awalnya si penjual-penjual makanan ini hanya menawarkan Kelapa, oke kita bilang nanti aja yah, tapi belum sampe semenit penjual yang sama menawarkan nanas, artwork, dll dll -_- . Dan karena tak ada satupun dari kita membeli dagangan mereka, mereka langsung ngoceh “Dateng kesini cuma foto-foto doang nggak beli, habislah pemandangan kita buat foto-foto”. Oke abis itu kita langsung buru-buru cabut.

Dari Pantai Seger, tujuan selanjutnya adalah Tanjung Aan. Nah kalo disini nggak terlalu sepi, ada beberapa bule yang berseliwiran. Tapi masalah penjual masih sama walau nggak terlalu nyebelin. Sampe disini kita udah belajar kalo kita nggak boleh bilang “Nanti” tapi harus bilang “Nggak”. Duduk neduh di tempat penjual kelapa langsung dikerubutin para penjual kain, kalung-kalung, dll. Dan begitu ada satu orang yang membeli langsung dating penjual lainnya datang minta dagangannya dibeli juga simply karena udah beli dagangan temannya maka harus beli dagangan dia juga. Bah..alhasil pemandangan kita yang awalnya mau liat pantai malahan liatin para penjual ini.

Menjelang siang, kita menepi di Pantai Kuta. Yak ini Pantai Kuta di Lombok. Di sebut Kuta mungkin karena banyak bule. Jadi ada banyak warnet, guesthouse, kafe-kafe yang menyajikan makanan barat. Tapi jangan berharap mirip sama kaya Pantai Kuta di Bali yah. Jauhh lebih sepi. Disini kita makan di sebuah hotel yang ada restorannya.

Setelah makan siang, kita menuju Pantai Mawun. Nah pantai Mawun ini lumayanlah dibandingkan Pantai Seger dan Tanjung Aan. Tapi jalan menuju Mawunnya juga lumayan secara jalannya kecil dan naik ke tebing-tebing gtu. Mawun ini sepertinya dijadikan destinasi surfing turis bule. Dan banyak kali bule-bule yang make bikini di pantai ini. Disini lah kita main-main air dan bikin rusuh di pantai yang tenang :D. Ombaknya sendiri itu lumayan deras jadi kalo kita main-main di pinggir pantai bisa ngerasain ombaknya yang bisa dorong kita beberapa meter. Overall it’s fun afternoon.

Malamnya kita makan di Mataram. Beyond my expectation, Mataram ternyata kota yang lumayan maju. Gue kira akan 11-12 sama Belitung, tapi ternyata lebih maju lagi. Mungkin mirip-mirip Bogor kali yah. Di sini kita makan di Restoran Dua EM. Hasil research kita di internet, Dua EM ini recommended Ayam Taliwangnya. Personally, menurut gue ayamnya sih enak, walau kecil banget, 1 orang sepertinya harus makan 1 ekor baru puas. Tapi harganya sendiri juga nggak murah :D. Dengan restoran yang seperti 2 rumah dijadiin 1, gue nggak ngerti kenapa yang makan sepi. Mungkin alasannya sama kenapa Pantai-pantai di selatan sepi.

Anyway, setelah makan kita menuju hotel kita. Hotel yang kita sewa di daerah Senggigi, namanya Sunset House Hotel. Berbekal Review di Trip Advisor dan foto-foto yang oke, ternyata sampe disana nggak mengecewakan lho. Tapi memang sih hotel ini hotel honeymoon banget, suasananya dan kamarnya cocok buat yang mau honeymoon. Untungnya waktu kita kesana banyak juga keluarga atau group of friends yang nginep jadi nggak ganggu-ganggu banget 😀

2014-04-24 09.25.59
Sunset House Hotel @ Senggigi

2014-04-24 14.38.53
Pool Side @ Sunset House Hotel

Besoknya, kita berencana menghabiskan waktu seharian di Hotel. Dipenuhi beberapa aktivitas team building dan games-games gitu. Karena hotelnya oke banget, jadi gue ngerasa seharian di hotel ini juga nggak ngebosenin.

IMG-20140424-WA0004
Group Photo @ Sunset House Hotel Pool. Photo by: Mbak-mbak Hotel. Camera by: @abism_

Pagi-pagi kita berenang, yak walaupun hampir setengah team nggak bisa berenang, tapi yang penting nyeburkan? 😀 Dan bisa dipastikan kita ngerusuh di kolam renang hahaha sampe ditegur seorang bule. Siangnya kita makan di kedai fast food local bernama Quick Chicken. Yakk ini jualan fried chicken gtu deh. Tapi ada 1 makanannya yang memorable. American Penyet. Jadi bayangin ayam KFC tetapi disiram bumbu penyet. Enak banget bumbu penyetnya. Jadi mirip-mirip konsep Chicken Gangjong di Lotteria, kalo itu Korean version, ini Indonesian version 😀

IMG-20140426-WA0033
Group Photo @ Quick Chicken. Photo by: @abism_

Cuaca di Lombok 3 hari kemaren itu luar biasa panasnya, serasa pengen di kamar terus yang ber-AC atau nyebur ke kolam renang. Menjelang malam, ada games fashion show kertas dimana masing-masing kelompok, nanti harus mendandani 1 orang anggotanya menggunakan kertas dan jalan menyusuri pantai ke restoran kita mengadakan makan malam. Beyond my expectation juga,bajunya semua bagus-bagus lho 😀

2014-04-24 19.13.06
Model AITINDO 😀

Sampe di restoran Furama Senggigi, entah apa hubungannya dengan Furama yang di Jakarta, mungkin nggak ada. Semua udah kelaperan dan setelah menunggu sekitar 45 menit, datanglah seafood-seafood itu. Lengkaplah makan malam kita malam itu. Ada ikan, kerang, udang, cumi, dan yang biasa wajib ada di restoran seafood adalah si kangkung.

IMG-20140426-WA0082
Group Photo @ Furama Senggigi. Photo by: Mas-mas Restoran. Camera by: @abism_

Pulang kenyang, kita nyusurin jalan Senggigi menuju hotel. Jujur gue agak kecewa dengan Senggigi ini. Gue mikir tuh dulu Senggigi ini akan mirip dengan Kuta dimana ada banyak toko-toko, pub, kafe yang rame. Tapi ternyata isinya kanan-kiri kebanyakan hotel. Pantai-pantai semua tertutup oleh Hotel dan Resort. Ada sih beberapa pub, tapi gayanya lebih mirip diskotik dangdut di Jakarta, dibandingkan dengan pub di Kuta. Yeah mungkin gue aja terlalu berlebihan ekspektasinya.

Hari ketiga, kita udah siap-siap untuk pulang sorenya. Tapi sebelum pulang kita mau ke 1 spot bagus untuk photo. Namanya Malimbu Hills. Sebenernya ini hanya jalanan bukit gtu. Jadi spot fotonya ada di pinggir tebing. Dari pinggir jalan ini kita bisa lihat 3 pulau Gili dan pantai dibawahnya. Panasnya udah luar biasa banget, jadi setelah kelar foto-foto sebentar, gue mending neduh gtu dan di spot berikutnya gue milih untuk di bus ajalah hahah.

2014-04-25 10.54.02
Views from Malimbu Hills

Untuk makan siang, kita makan di Warung Dakota. Letaknya di Rembiga, Mataram. Jadi warungnya itu environment sekitarnya berupa sawah gitu. Makanannya? Kita kebetulan milih paket yang ada Ikan Bakarnya, Tahu-tempe goreng, sate rembiga (sate sapi), ayam goreng, dan kangkung plecing. Dan amazingly harganya murah sekali untuk perorangnya kira-kira hanya sekitar IDR 50.000. Luar biasa kan? Malahan tuh ayam goreng masih sisa karena pada kekenyangan.

Udah pada kenyang, kita ke destinasi terakhir kita: Beli oleh-oleh. Di Lombok, ini gue nggak nemuin ada oleh-oleh khas banget sebenernya. Yang dibilang khas itu cuma dodol atau manisan Rumput Laut, which is sebenernya cuma ager-ager jelly gtu doang.

Sampe di Airport tepat waktu eh ternyata ada delay 1 jam yang tadinya harus berangkat jam 7, jadinya jam 8 malem. Entah karena apa, tapi belakangan katanya pesawatnya harus diganti dan mengakibatkan beberapa orang nggak dapet seat di pesawat, untungnya masih bisa duduk 😀 Karena ada beberapa cerita kalo dapet seat 30-an bisa-bisa nggak dapet seat karena pesawatnya bisa beda. Oh ya kita pulang pergi naek Lion Air yang pas landing entah kenapa selalu nggak mulus 😀

Yah gtu lah cerita selama outing kemaren. Overall menarik dan exciting walau gue personally agak bosen karena gue bukan tipe pecinta alam dan lebih suka ke kota. Tapi it’s a great experience anyway. Thanks for AITINDO and the whole team. You guys rockk 😀

IMG-20140426-WA0106
Sunset House Hotel Backyard. Photo by: @abism_

Tentang Berbuat Sesuatu Kepada Orang Lain

Standard

Gue sebenernya nggak pernah punya intention apa-apa ketika berbuat sesuatu kepada orang-orang. Beberapa orang mungkin berpikir kalau seseorang berbuat baik pasti ada maunya. Tapi gue hampir nggak pernah berpikir kesana. Yaa mungkin beberapa tahun belakang gue sadar terkadang berbuat baik bisa membantu lu. Tapi either bisa menyelamatkan gue ato nggak, gue tetap melakukan hal-hal yang terkadang dianggap perlu ke orang-orang sekitar gue tanpa ada intention apa-apa kok. Karena gue mikir kadang itu seperti panggilan dalam hati lu, kalo gue bisa membantu kenapa nggak? Kalo bukan gue yang membantu lalu siapa lagi yang membantu? Kalo gue bisa peduli dengan orang lain, kenapa nggak? Gimana kalo emang orang itu emang lagi dalam keadaan membutuhkan? Small things of help or careness wouldn’t kill you right?

Masalahnya didunia ini ada berbagai macam jenis orang. Ada yang menganggap kebaikan dan perhatian sebagai hal yang biasa tapi ada juga yang mengganggapnya luar biasa. Ketika gue yang cowok deket dan baik sama seorang cowok lain, dianggepnya gay. Ketika gue yang cowok single deket dan baik sama seorang cewek single juga, gue dianggep suka sama dia. Ketika gue yang cowok single deket dan baik sama seorang cewek yang udah punya cowok, gue dianggap mau rebut cewek orang. It would be a never ending story. Tapi apa itu menghentikan gue dari tetap berbuat baik sama orang?

Kalo gue takut dibilang gay lalu gue jadi nggak baik dan perhatian sama cowok lain, kalo gue takut dibilang ngerebut cewek orang lalu gue jadi nggak baik dan perhatian sama cewek yang udah punya cowok, atau kalo gue takut dibilang suka sama cewek yang gue nggak suka lalu gue jadi nggak baik dan perhatian sama cewek itu, maka gue jadi orang yang dikendalikan oleh keadaan. Maka itu gue nggak terlalu peduli.

Memang sih kadang keadaan jadi nggak terkendali, emang gue gak peduli dengan kata-kata orang. Tapi gimana kalo yang salah paham ternyata si objeknya? Salah gue? Salah temen-temen gue? Hahaha ya sudahlah ya kalo si objeknya yang salah paham. Gue baru menyadari ini beberapa tahun lalu. Kalau dirunut-runut, mungkin banyak yang begini tapi pada saat itu gue jujur nggak sadar. Dan dari sejak itu gue mulai bikin garis kalo udah ada yang mulai salah paham tapi nggak akan berubah hanya saja tau batasannya.

Randomly Fun

Standard

Pas lulus kuliah, gue langsung kerja di sebuah pabrik pen. Kerja di pabrik pen sebagai IT, tiap bulan kerjaannya udah pasti gtu2 aja. Revisi data yang salah diinput sama admin-admin gudang, akuntansi, finance, hrd, atau pabrik. Abis itu isi tinta printer untuk semua bagian. Benerin program yang error, kadang develop program baru, dan yang paling sering juga adalah benerin printer bagian lain, walau nggak ngerti apa masalahnya dan kadang cuma cabut colok udah bener ndiri. It’s a happy old days 😀 everything seems to be simple yet boring…setelah 2 taon kerja seperti itu nggak mungkin nggak bosen kan. Walaupun gue orangnya agak nggak mau susah, tapi ini tantangannya hampir nggak ada. Satu-satunya kesalahan fatal yang pernah gue lakukan adalah gue pernah salah itung data akuntansi beda 4M untuk orang Jepang karena data yang masuk ke gue bukan data terbaru. But yahh udah masalahnya langsung kelar begitu gue proses data baru.

Begitu keluar dari kantor itu gue masuk AITINDO. Awalnya beneran pengen belajar bikin website. Karena hobi gue dari dulu tuh emang bikin website. Tapi skill agak kurang. Sebenernya waktu gue mau resign dulu, manager gue udah bilang kalo mau belajar web ya udah nanti dibeliin software apaa ajaa untuk maintain website pabrik itu. I respect him so much but i think i couldn’t grow up there. Nah seiringnya waktu di AITINDO ini gue belajar banyak, hard skill and soft skill. Dari dulu jadi developer sampe sekarang megang project.

Fast forward to 4 years later. Gue hari ini berasa bahwa kerja di dunia service seperti yang AITINDO lakukan ini sangatlah menarik. And yes sometimes it so f**king random. Hari ini meeting mikirin gimana cara menarik ibu-ibu muda mau dateng ke event yang kita bikin, besoknya meeting sambil mencerna bagaimana sebuah perusahaan asuransi membuat ilustrasi untuk kliennya. Hari ini research tentang penyakit batuk pilek, sorenya bisa ngurusin peta coverage jangkauan operator GSM. Pagi-pagi ngurusin website real estate, sorenya bisa entah jalan-jalan diluar kantor buat foto-foto produk coklat. Ada kalanya tiap hari brainstorming di pagi hari untuk bikin cerita komik anak-anak tapi bulan berikutnya bikin storyboard untuk aplikasi perbankan. Hari ini research tentang segala jenis olahraga, besok bisa research tentang lingerie :D. Minggu ini pusing mikirin website tambang yang harus menonjolkan perusahaannya, minggu depan bisa pusing mikirin perhitungan saham yang ngaco di website suatu perusahaan investasi.

Random? Yes. Fun? Definitely.

Tiap kali dapet klien berbeda berarti saat itu juga kita harus belajar dan handle sesuatu yang mungkin nggak pernah kita kuasai sebelumnya. Dan untuk gue yang orangnya gampang bosen ini, this random things feels so much fun.